Pohon Ilmu UIN Maliki

Kolom WR I

More in: Kolom WR I

    100%
    -
    +
    2
    Show options

    Kolom WR III

    More in: Kolom WR III

      100%
      -
      +
      2
      Show options

      Sekilas Info

      Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


      Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


      Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


      Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


      Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

      Pengunjung

      Kami memiliki 302 Tamu online
      mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
      mod_vvisit_counterHari ini12909
      mod_vvisit_counterKemarin5563
      mod_vvisit_counterMinggu ini65390
      mod_vvisit_counterBulan ini192121
      mod_vvisit_counterTotal57660253
      Islam dan Nalar Ilmiah (2) PDF Cetak E-mail
      Ditulis oleh Mujtahid   
      Sabtu, 12 Februari 2011 01:59

      THOMAS Kuhn, dalam bukunya yang terkenal The Structure of Scientific Reconstruction, pertama kali mempopulerkan makna ‘paradigma’ di dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik atau tingkah laku manusia pada kehidupan sehari-hari. Pengertian ‘paradigma’ begitu luas yang memainkan peran penting, dalam apa yang dimaksud Kuhn sebagai “revolusi ilmiah”. Paradigma juga telah digunakan oleh ahli-ahli ilmu tingkah laku (behavioral sciences).

      Ketika paradigma mengalami pergeseran makna, maka terjadilah krisis yang ditandai dengan ketidakmampuannya menjelaskan secara memadai terhadap dinamika realita empiris.Dalam Islam, segala energi yang bersifat pemikiran tidaklah mungkin secara terus menerus berada pada titik kebenarannya. Tetapi suatu saat akan mengalami perubahan sesuai dengan tingkat perkembangan pola kehidupan manusia.

      Roda pemikiran Islam akan selalu mengalami perubahan kearah pemikiran yang dinamis. Karena Islam sesungguhnya inheren dengan kemajuan. Banyak ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits yang mendukung bagi ummat muslim untuk maju secara dinamis. Doktrin Islam secara tegas dan lugas tidak menyukai kemapanan. Artinya, sebagai ummat yang tidak kreatif dalam mengkaji ayat-ayat ilahiyah maupun kauniyah atau insaniyah. Karena itu, dalam ajaran Islam ada satu kesempatan yang ditujukan kepada kaum muslim untuk memahami kitab suci dengan metode tafsir, ta’wil atau ijtihad. Dalam kerangka inilah Islam dapat ditarik ke arah pemahaman yang ilmiah yang dapat menjelaskan secara gamblang apa yang dimaksud dalam kitab suci tersebut.

      Untuk memasuki revolusi ilmiah, maka diperlukan metode ‘dekonstruksi’ dan kritik akal Islam. Dekonstruksi, suatu istilah yang dibakukan oleh Jacques Derrida digunakan untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku. Dalam Islam, dekonstruksi bisa dipakai sebagai upaya menyingkap beberapa dimensi tradisi Islam yang masih tersembunyi atau yang sudah dicemari unsur-unsur luar, baik budaya, seni, maupun unsur lainnya yang mempunyai peran negatif bagi ummat.

      Kajian pemikiran Islam pasca-modernisme seringkali menyebut-nyebut istilah dekonstruksi atau kritik akal Islam. Sudah saatnya sekarang ini bagi ummat Islam mulai memikirkan tentang bentuk dan formulasi seperti apa dan bagimana. Pendekatan kritik akal Islam pernah diperkenalkan oleh Muhammad Arkoun, dengan memakai metode strukturalisme. Ia mencoba menerapkan beberapa konsep pasca-modernisme ke dalam pemikiran Islam. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Pour unecritique de la raison islamique (Menuju Kritik Akal Islam) berbahasa Prancis. Di samping buku-bukunya yang lain seperti; Rethingking Islam today, Fikr Islami Qira`at Ilmiayh, min al-Ijtihad ila Naqd Islami dan beberapa artikel yang ditulis diberbagai jurnal berbahasa Prancis dan Arab.

      Arkoun membagi sejarah terbentunya akal Arab-Islam kepada tiga tingkatan: klasik, skolastik dan modern. Dari ketiga tingkatan ini, jenjang ketiga adalah suatu tingkatan kebangkitan dan revolusi. Maksud dari pengkategorian tersebut adalah untuk memudahkan dalam menjelaskan terma “yang terpikirkan” (le pensable/thinkable), “yang tak terpikirkan” (l’impense/unthinkable), dan “yang belum terpikirkan” (l’impensable/not yet thought). Maksud dari “yang terpikirkan” adalah hal-hal yang mungkin umat Islam memikirkannya, yang demikian dipikirkan, karena merupakan hal yang jelas atau boleh memikirkannya. Istilah ini pertama kali digunakan Heidegger (1889-1976) filosuf fenomenologi Jerman. Kemudian istilah ini dipakai Marleau-Ponty (1908-1961), Foucoult, dan terakhir para penganut aliran Strukturalism.

      Sedangkan maksud “yang tak terpikirkan” (l’impense/unthinkable), dan “yang belum terpikirkan” (l’impensable/not yet thought) adalah hal-hal yang tidak mempunyai hubungan dan tidak saling keterikatan antara ajaran agama dengan praktek kehidupan sehari-hari, atau jauhnya aplikasi agama dari nilai dan norma transeden yang semestinya, seperti tak terkaitnya antara apa yang dilakukan para ilmuwan dan apa yang dikerjakan ulama’, meski keduanya mempunyai kaitan intelektual (intellectual link).

      Strategi penggunaan dekonstruksi, menurut Arkoun, mempunyai makna sangat besar. Hal yang paling utama adalah dekonstruksi dalam medan “citra sosial” (social imaginaire). Citra sosial adalah kumpulan nilai, norma, tujuan keyakinan dan justifikasi masyarakat terhadap satu mekanisme yang berlaku dalam satu sistem tradisi, seperti Stalinisme dan Maoisme di dunia Komunis, atau Nazisme dan Fasisme di Jerman dan Itali. Salah satu syarat utama untuk mencapai keterbukaan pemikiran Islam dipanggung rasionalisme modern adalah dekonstruksi epistema dogmatisme dan ortodogsisme dalam tubuh umat Islam. Selama sistem berpikir tersebut masih terus dibiarkan hidup, umat Islam akan terus hidup dalam atmosfir abad pertengahan atau udara skolastik yang sudah tidak sehat dan ketinggalan jaman.

      Sekali lagi, kritik akal Islam berupaya untuk membongkar mitos pemikiran (ijtihad) yang sudah tidak relevan dengan dinamika masyarakat sekarang. Dengan demikian, tujuan utama kritik akal Islam adalah membebaskan pemikiran dari segala macam citra dan gambaran yang sempit, karena tidak mungkin bagi akal Islam, berpikir jernih selama citra-citra semacam ini melekat dalam akal mereka. Di samping tujuan itu, kritik akal Islam membedakan antara wahyu dengan sejarah, mengembalikan posisi wahyu transenden kepada tempat semula. Pengembalian ini dilakukan karena wahyu setelah mengalami relasi dengan sejarah manusia (ideologi, politik, serta kepentingan lainnya) telah tereduksi beberapa nilai yang dikandungnya.

      Jadi, semua teologisme Islam-termasuk semua epistemologi seperti fiqh, tafsir, ilmu kalam, aqidah dan sebagainya-diperlukan sikap kritis. Karena bagaimana-pun, semuanya, adalah ciptaan manusia juga, dan kita berhak meletakkan di atas meja kritisisme. Dengan demikian, revolusi ilmiah tidak akan punah dari panggung dunia pemikiran Islam sepanjang dinamika kehidupan ini tetap berlangsung.***

      *) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang