Pohon Ilmu UIN Maliki

Kolom WR I

More in: Kolom WR I

    100%
    -
    +
    2
    Show options

    Kolom WR III

    More in: Kolom WR III

      100%
      -
      +
      2
      Show options

      Sekilas Info

      Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2011/2012 dapat di download di_sini


      Jadwal Kegiatan Layanan Online UIN MALIKI Malang 2011/2012 semester genap dapat di download di sini


      Kalender Akademik UIN MALIKI Malang 2012/2013 semester gasal dapat di download di_sini


      Download Surat Permohonan Company Profile Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


      Download Form Isian Data Rekanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

      Pengunjung

      Kami memiliki 304 Tamu online
      mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
      mod_vvisit_counterHari ini12898
      mod_vvisit_counterKemarin5563
      mod_vvisit_counterMinggu ini65379
      mod_vvisit_counterBulan ini192110
      mod_vvisit_counterTotal57660242
      Indahnya kekitaan PDF Cetak E-mail
      Ditulis oleh Kerjasama - UIN Malang   
      Sabtu, 29 Oktober 2016 22:39

       

      Berbicara tentang kita berarti berbicara untuk semua. Hal itu berbeda jika hanya dalam lingkup aku dan atau kamu.  Beberapa orang mau bekerja bersama-sama jika hasilnya untuk kepentingan bersama atau untuk kita. Sebaliknya, tidak akan dirasakan adil  jika misalnya hasilnya hanya  dinikmati oleh  seseorang atau disebut  sebagai milikku,  kepentinganku, untukku dan seterusnya. Atau juga sebaliknya,  untukmu, milikmu, keperluanmu, atau kebutuhanmu.  Tentu kata ku dan mu  akan menjadi indah jika diubah menjadi kita, yakni milik kita, kepentingan kita, dan demi kebahagiaan kita bersama.  

       

      Hal sederhana tentang kebersamaan tersebut ternyata tidak mudah dilakukan oleh kebanyakan orang. Kegagalan itu bukan dipengaruhi oleh taraf pendidikan, posisi, atau  jabatan seseorang. Bisa jadi seseorang yang sebenarnya berpendidikan atau pejabat tinggi tetapi oleh karena memiliki keakuan yang tinggi maka tidak mampu membangun kekitaan itu. Sebaliknya, orang yang berpendidikan rendah dan tidak memiliki posisi atau  kekuasaan, tetapi mampu membangun kekitaan. Kemampuan membangun kekitaan bukan berasal dari kecerdasan nalar melainkan oleh kecerdasan hatinya.

       

      Dalam alam modern seperti sekarang ini suasana  kekitaan ternyata semakin pudar. Banyak orang sudah tidak mengenal yang sebenarnya kata “kita" lagi. Banyak orang apa saja diukur dari kepentingan dan atau keperluannya sendiri. Seolah-olah orang lain sudah tidak diperlukan lagi. Mereka meyakini, seakan-akan semua persoalan  bisa diselesaikan dängan kemampuannya sendiri. Kebutuhan apa saja dirasakan bisa  diselesaikan dengan menyuruh orang lain dengan cara dibayar.  Maka,  siapa saja yang memiliki banyak uang  bisa memperoleh dan atau menyelesaikan apa saja. 

       

      Akibat dari hal tersebut, suasana kekitaan menjadi semakin melemah oleh karena kegiatan kebersamaan sudah diganti dengan uang. Bahkan  tidak terkecuali, kegiatan ritual yang bersifat pribadi sekalipun sudah diupahkan pada orang lain. Sudah menjadi tradisi bagi kelangan tertentu ketika ditinggal mati keluarganya, beberapa malam di rumahnya diselenggarakan kegiatan ritual. Oleh karena keluarga yang bersangkutan tergolong berkecukupan dan tidak terbiasa menjalankannya, maka cara yang ditempuh mengundang dan memberi upah kepada sekelompok orang yang terbiasa menjalankan kegiatan seperti itu.  

       

      Selain itu, berbagai kegiatan yang sebenarnya untuk  kepentingan bersama seperti pendidikan dan  kesehatan sebenarnya adalah  keperluan kekitaan. Oleh karena itu seharusnya dipenuhi secara bersama-sama. Namun yang terjadi adalah  sebaliknya. Keperluan pendidikan dan kesehatan sudah menjadi barang yang diperjual belikan. Seseorang boleh ikut belajar di institusi pendidikan dan atau pelayanan kesehatan asalkan bersedia membayar dalam jumlah tertentu. Bahkan penggantian biaya dimaksud  sudah bernuansa ekonomis, artinya sudah menjadi komuditi  untuk memperbanyak kekayaan. 

       

      Bersekolah atau datang ke rumah sakit ketika diharuskan mengeluarkan biaya besar dianggap wajar sekalipun sebenarnya dirasakan sangat memberatkan. Dengan demikian sekolah dan atau rumah sakit sudah diposisikan sebagai sarana ekonomi, artinya untuk mengumpulkan uang. Orang mendirikan lembaga tersebut memang diniatkan untuk memperoleh keuntungan.  Suasana yang serba kapitalistik seperti itu secara otomastis akan menghilangkan suasana kekitaan, dan sebagai resikonya apa saja selalu berorientasi pada aku, kamu, dan atau untukmu. 

       

      Akhirnya sebagai akibat budaya itu, antar manusia menjadi berjarak, dan kadang jarak itu sedemikian jauh. Penyebabnya sederhana, yaitu orang hanya sekedar mengejar-ngejar harta hingga apapun yang dapat dilakukan. Padahal hidup dengan berorientasi seperti itu, orang kehilangan sesuatu yang indah dan membahagiakan, yaitu suasana kekitaan.Wallahu a’lam