GEMA-"Mudah-mudahan para guru besar di UIN Maliki ini mampu menorehkan prestasi dan prasasti. Bukan sekedar toganya dipegang terus digeserkan begitu pada umumnya tetapi apabila kelak mati punya torehan prestasi dan prasasti". Itulah salah satu harapan besar dari KH. Agoes Ali Masyhuri kepada UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Hal itu beliau sampaikan pada acara Halal bi Halal dalam rangka pembinaan mental dan spiritual keluarga besar UIN Maliki Malang. Acara yang mengusung tema ASN Moderat Indonesia Hebat itu berlangsung di ruang rektor, Lt. 1 Gedung (HC) Ir. Soekarno. Rabu(19/5).
Dalam tausyiahnya, Gus Ali sapaan akrabnya itu menjelaskan salah satu tanda kekasih Allah SWT yang cerdas dan ikhlas dalam beramal adalah hidupnya keramat, matinya keramat dan setelah matinya pun juga keramat. Sehingga Kyai besar pengasuh pondok pesantren Bumi Sholawat Lebo Sidoarjo itu menyimpulkan bahwa orang berilmu yang berpangkat dan derajatnya tinggi di samping Allah SWT memiliki ciri ketika ia hidup dicintai oleh banyak orang, ketika matinya dikerumuni banyak orang karena banyak merasa kehilangan dan setelah mati pun masih dikenang oleh banyak orang. Hal itu bukan hanya karena keberadaannya tetapi juga karena nilai-nilai jasa semasa hidupnya yang demikian itu tidak hanya punya prestasi tetapi juga menorehkan prasasti.
Lanjut, Gus Ali juga berharap agar seluruh warga kampus UIN Maliki Malang selalu berusaha meningkatkan SDM nya sehingga mampu menjalankan amanahnya sebagai insan yang cerdas dan ikhlas dalam beramal lalu melahirkan generasi yang unggul. Hal tersebut pastinya tidaklah mudah karena semuanya harus dilandasi dengan niat yang tulus dan benar. "Pandai-pandailah menata niat karena bagusnya niat menentukan kualitas amalan kita!", pesannya. (ptt)
GEMA-Dalam agenda Halal Bihalal daring, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tak hanya mengundang Menteri Agama RI. Salah satu pemuka agama di Jawa Timur juga turut dihadirkan, yaitu KH. Agoes Ali Masyhuri. Memulai ceramahnya, ia menekankan pentingnya memupuk keikhlasan dalam hati, Rabu (19/5). Ia menjelaskan, tanda seseorang benar-benar ikhlas dalam beramal ialah, segala yang dilakukan hanya diniatkan untuk meraih ridho Allah. Artinya, bukan pujian manusia yang diharapkan. “Mohon maaf, tidak ada pencitraan dan tidak dibungkus untuk kepentingan tertentu,” ia melanjutkan, “Orientasi mereka hanya akhirat sehingga ikhlasnya tinggi.” Pengasuh PP. Bumi Sholawat, Sidoarjo ini menyatakan, dengan kadar ikhlas yang sangat tinggi ini, meski orangnya telah wafat, amalnya tetap dapat dirasakan. “Orang lain masih membahasnya,” imbuhnya. Selain itu, KH. Agoes Ali Masyhuri juga menuturkan, sebaik-baik manusia ialah mereka yang hidup dan matinya keramat. Yang ia maksud adalah seseorang yang berjasa semasa hidupnya, sehingga ketika wafat, masyarakat masih mengenang dan membicarakan untuk waktu yang sangat lama. “Bukan hanya sekadar prestasi yang ditorehkan, tetapi ada prasastinya,” paparnya. (nd)
GEMA-Tak banyak yang mengetahui asal-usul Halal Bihalal, sebuah tradisi pasca Idul Fitri di Indonesia. Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas mengulas singkat sejarah tradisi tersebut. Hal ini ia sampaikan saat memberikan sambutan di agenda Halal Bihalal daring UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rabu (19/5). Halal Bihalal, kisahnya, adalah ijtihad salah satu Ulama pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Abdul Wahab Chasbullah. Pada Ramadhan tahun 1948, Presiden RI saat itu Ir. Soekarno merasa risau karena elit politiknya saling berseberangan dan tidak pernah bersepakat dalam majelis. Akibatnya, pertikaian terjadi di beberapa area di Indonesia, seperti Darul Islam, Tentara Islam Indonesia, dan PKI di Madiun. Mendengar kekhawatiran presiden, KH. Wahab menyarankan untuk mengadakan silaturrahim untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Namun, menurut Presiden Soekarno, kata silaturrahim tidak akan menarik minat para elit politik. Ia pun meminta istilah lain. Setelah berpikir, KH. Wahab menjawab bahwa saling bertikai itu dosa dan termasuk haram. Jadi, agar tidak dosa dan menjadi haram, maka harus dihalalkan. Maka, muncullah istilah Halal Bihalal. Menilik sejarahnya, sudah nampak bahwa tradisi Indonesia yang mencerminkan nilai keislaman ini hanya memiliki satu tujuan utama. “Halal Bihalal menyimpan makna bahwa penting sekali untuk merawat kebersamaan dan persatuan sesama manusia,” jelas Yaqut. (nd)
GEMA-Panitia Lokal UM-PTKIN Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan simulasi persiapan pelaksanaan ujian Sisitem Seleksi Elekteronik (SSE) Ujian UM-PTKIN 2021 di ruang pertemuan gedung Rektorat Lt.3, Senin (17/5). Hadir dalam kegiatan ini, Wakil Rektor Bidang Akadermik Prof. Dr. M. Zainuddin, MA, sekaligus Ketua Panlok UM-PTKIN UIN Malang, Kabiro AAKK Drs. Mahfudh Shodar, M.Ag dan Koordinator SSE Lokal UIN Malang Imam Ahmad, M.Ag Simulasi ini dilakukan untuk melihat persiapan panitia dalam proses pelaksanaan dan capaian selama masa seleksi mahasiswa. Output dari kegiatan ini lebih menitik beratkan kepada proses persiapan, pelaksanaan, dan capaian selama masa seleksi mahasiswa baru di PTKIN. Prof. Dr. M. Zainuddin berharap dari proses pelaksanaan simulasi ujian UM-PTKIN ini setidaknya bisa mengukur kesiapan panitia lokal UIN Malang, meski begitu semoga pelaksanaan simulasi ini bisa berjalan dengan baik, jika menemukan kendala bisa segera di evaluasi dan dilakukan perbaikan demi lancarnya proses ujian di hari H. Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator SSE Lokal UIN Malang Imam Ahmad, M.Ag. Semua Panlok se-Indonesia melakukan simulasi pelaksanaan ujian UM-PTKIN. UIN Malang bersama panitia selama empat hari kedepan 17-20 Mei 2021 akan melaksanakan simulasi sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, sehingga saat pelaksanaan ujian UMPTKIN bisa meminimalisir kendala yang ada. Meski begitu, Kepala Bagian Akademik dan Kemahsiswaan berharap melalui seleksi UM-PTKIN ini UIN Malang bisa menjaring mahasiswa yang unggul dan juga memiliki kemampuan dalam baca tulis Alquran. Pasalnya, semua mahasiswa UIN Malang dituntut tidak hanya pandai dalam disiplin ilmu umum saja, akan tetapi memiliki kemampuan tambahan terkait baca tulis Alquran tersebut.
GEMA-Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. menerima buku karya salah satu dosen asing yang mengajar di kampusnya. Penyerahan buku di Lt.1 Gedung Rektorat tersebut dilakukan pasca rekaman Syiar Ramadan 1442 H. Dosen asing yang menyerahkan karyanya ialah Prof. Dr. Sulaiman Hassan Suleiman asal Libya. Ia mengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam (SPI), Senin (26/4). Prof. Haris menyatakan, buku itu merupakan karya pertama dosen asing yang ia terima. Buku tersebut berjudul "Al Afrikiyan Minal Hadharah ila At-Tabi’iyyah" (Afrika: Dari Peradaban Asli hingga Heteronomi [Sistem Politik Heteronomi]). Pembahasan utama buku tersebut yakni tentang hadharah atau peradaban Islam di Afrika dan juga kebudayaan yang membawa Islam masuk ke Indonesia. Rektor melanjutkan bahwa penulisan buku itu menggunakan perspektif politik dan partai. Isinya membahas topik penting tentang dampak dan konsekuensi kolonialisme bagi masyarakat pasca kemerdekaan. Terutama masyarakat Islam di Afrika yang berkaitan dengan sistem politik, hukum dan ekonomi-sosial serta gambaran terbalik buatan kolonialisme tentang bangsa yang dijajahnya. Selanjutnya, buku itu pun menjelaskan juga tentang wajah buruknya kolonialisme Eropa dan tindakan eksploitasi sumber daya manusia di benua Afrika. Misalnya, dalam bentuk perdagangan, perbudakan serta pencurian sumber daya alam berupa emas, uranium dan tambang berharga lainnya. Ia menambahkan, penjajahan lah yang merusak tatanan kehidupan karena adanya peperangan. Sehingga apa yang terjadi di Afrika itu mirip dengan yang dialami Indonesia. Penderitaan yang dialami penduduknya pun sama. "Oleh karena itu, Islam datang membawa peradaban dengan prinsip keilmuan dan pemikiran yang maju sehingga menuntun bangsa pemeluk Islam ikut maju," terang Prof. Haris. Rektor mengungkapkan betapa pentingnya kajian yang ada dalam buku itu. Ia berani mengungkapkan rahasia, intrik, dan pengaruh kolonialisme. "Saya berharap mahasiswa dan pembaca lainnya bisa mengambil manfaat dan bekal dari kajian luar biasa yang berharga ini, " tuturnya. (ptt/nd)
GEMA-Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Malang kembali mencatat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai Satuan Berkinerja Terbaik I, Kamis (15/4). Penghargaan PRISMA serupa pernah diterima di Triwulan ke-4 tahun 2020. Kini, kampus berlogo Ulul Albab tersebut menerima kembali penghargaan itu di Triwulan Pertama tahun 2021. Penyerahan penghargaan berlangsung di Ruang Aula Sakura (Sinergi dan Kolaborasi untuk Negara), Gedung KPPN Kota Malang lt. 2. Rektor Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. menerangkan bahwa UIN Malang tercatat dalam penghargaan untuk kategori Bidang Manajemen Badan Layanan Umum (BLU). Penghargaan PRISMA yang diterima ini tak sekadar prestasi namun sebagai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas. Ia pun ingin agar prestasi kinerja ini tak hanya diapresiasi di lingkup KPPN Kota Malang, “Namun juga bisa sampai pada institusi terkait yang lebih tinggi lingkupnya.” Ia melanjutkan, capaian kinerja ini merupakan hasil kerjasama segala komponen di UIN Malang, dari staf hingga pimpinan. “Kami ingin agar manajemen BLU optimal dan pengguna jasa kampus mendapatkan layanan yang terbaik,” imbuhnya. Prosesi penyerahan penghargaan PRISMA kali ini bertema Peningkatan Pemberdayaan UMKM dalam Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2021 Guna Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional. Peringkat kedua di kategori yang sama diraih oleh Universitas Negeri Malang. Sedangkan peringkat ketiga diraih oleh Universitas Brawijaya Malang. (ptt/nd)
Tim UIN Mengabdi yang terdiri dari 3 dosen dan 2 mahasiswa mengajak masyarakat untuk mengkaji kitab dan membaca wirid bersama-sama secara rutin. Kegiatan ini dilaksanakan pada awal bulan puasa tahun 1443 H lalu, di masjid Raden Rahmat yang berdekatan dengan Taman Singha Merjosari Kota Malang. Tujuan kegiatan ini disamping untuk menyemarakkan bulan suci Ramadhan sekaligus menambah pengetahuan agama masyarakat, “salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman agama masyarakat, baik penduduk asli Malang maupun mahasiswa sebagai pendatang. Bentuknya kajian kitab Bulughul Maram dengan tema Adab dan pembacaan wirid Ratib al Haddad” Jelas Syaiful Mustofa, ketua tim UIN Mengabdi.
Kajian kitab dan pembacaan wirid penting diadakan secara rutin apalagi di saat pandemi seperti ini untuk meningkatkan keimanan dan imunitas warga masyarakat, “saat datangnya musibah pandemi Cofid-19 peningkatan keimanan dan imunitas warga masyarakat sangat diperlukan. Kebetulan bulan Ramadhan saat ini kondisi Kelurahan Merjosari di level hijau, artinya longgar untuk melaksanakan kegiatan dengan tetap menjaga prokes” tegas Bapak Abdullah, Lurah Merjosari dan sekaligus ketua ta’mir masjid Raden Rahmat.
Kajian kitab dan pembacaan wirid dilaksanakan sejak tahun 2019 sebelum pandemi ada. Dua kegiatan ini terus dilakukan secara bersama-sama dan berkesinambungan agar daya hidup masyarakat kuat dalam menghadapi tantangan zaman, “kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami agar pemahaman agama terus berkembang dan ditambah dengan bacaan wirid agar hati menjadi tenang dalam menghadapi tantangan zaman” tukas Ahmad salah satu warga yang juga pengurus ta’mir.
Kegiatan ini bermanfaat bagi pengembangan diri seseorang, “kegiatan ini sangat berguna dalam mewujudkan mental yang kuat dan keimanan yang kokoh. Ilmu ini sebagai bekal saya ke depan dalam menjalankan aktifitas sehari-hari” jelas Nurul Fukaubun, mahasiswa jurusan PBA UIN Malang asal Papua. Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang peserta, “Kekuatan mental ini merupakan salah satu instrument penting dalam mewujudkan stabilitas jiwa dan rohani seseorang’ jelas Lalu, mahasiswa asal Lombok.
Kegiatan pembelajaran kitab kuning bertujuan untuk meningkatkan spiritual masyarakat Merjosari Kota Malang, “Alhamdulillah dengan kegiatan rutin seperti ini pelan-pelan kualitas spiritual masyarakat akan semakin meningkat. Peningkatan ini bisa dilihat dari pelaksanaan ibadah shalat 5 waktu yang semakin khusu’ dan istiqamah” jelas Bapak Abdullah, Lurah Merjosari.
Adapun pembacaan wirid bertujuan untuk meningkatkan etika sosial masyarakat, “dengan membaca wirid rutin maka etika sosial semakin baik diukur dari terciptanya kerukunan dan kedamaian antar warga masyarakat. Juga bisa dilihat pada saat membaca wirid, mereka terlihat serius dan menghayati saat melantumkan bacaan wirid” tegas Bapak Amin, salah satu warga masyarakat yang rutin ikut kegiatan tersebut.
GEMA-Meski tak bisa tampil secara langsung dalam acara yang diadakan Pusat Studi Penelitian-LP2M UIN Malang, Rektor Prof. Dr. Abd. Haris, M.Ag. masih menyempatkan membuka acara secara daring, Rabu (7/4). Sebagai pimpinan, ia menyambut baik Workshop Metode Penelitian Kebijakan Pendidikan bagi Tenaga Kependidikan yang ditujukan khusus bagi para staf kampus. Prof. Haris menyatakan, untuk menuju impian UIN Malang menjadi Smart Islamic University, dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil. Yang ia harapkan ialah SDM yang menguasai tugas dan fungsinya serta peka terhadap perkembangan di bidangnya masing-masing. “Para tenaga kependidikan harus paham, ada kebijakan baru apa di area kerjanya,” imbuhnya. Selanjutnya, masih kata rektor, kebijakan yang dikeluarkan hendaknya dibahas dalam bentuk riset. Sehingga, ada bahasan apakah kebijakan tersebut memberikan efek positif atau malah memperburuk kinerja. “Memiliki staf yang giat dan aktif seperti ini akan menguatkan pengembangan UIN Malang di masa mendatang,” jelas Prof. Haris. (nd)
GEMA-Pesatnya perkembangan teknologi menjadi hal yang ditekankan Prof. Dr. Imron Arifin, M.Pd. dalam pemaparan materi metodologi penelitian di hadapan para tenaga kependidikan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Makin banyaknya penggunaan teknologi di semua lini kehidupan, tentu harus dimanfaatkan untuk memberi kemudahan. Kehadiran Prof. Imron tak hanya untuk mengajarkan metode riset, namun juga membantu para staf untuk menemukan bahan yang diteliti di institusi pendidikan, Rabu (7/4). Sebagai pakar yang sudah berkecimpung selama puluhan tahun di dunia pendidikan, Prof. Imron menyadari betapa teknologi adalah bagian dari perubahan zaman yang tak bisa dihindari. Ia mengambil contoh, saat ini, di beberapa perpustakaan, pengunjung tak memadati rak buku seperti dulu. “Justru mereka ke Perpustakaan, langsung menghadap komputer atau laptop untuk mengakses buku atau jurnal elektronik,” jelasnya. Mencari referensi dengan kata kunci tentu lebih mudah dibanding membolak-balik lembaran buku selama berjam-jam. Layaknya contoh yang diberikan, ia berharap agar staf UIN Malang juga memberikan ide-ide yang memanfaatkan teknologi. “Manfaatnya akan sangat positif bagi kemajuan tempat kerja Bapak-Ibu sekalian,” imbuh Ketua Yayasan Pendidikan Anak Sholeh tersebut. Ia memaklumi jika para tenaga kependidikan akan mengalami kesulitan di awal penelitian. Pasalnya, pekerjaan hariannya ialah berurusan dengan administrasi dan birokrasi. “Bisa mulai dari kebijakan-kebijakan di tempat kerja masing-masing. Yang di bidang pelayanan, mencari kebijakan yang memudahkan dalam melayani mahasiswa, begitu juga lainnya,” paparnya. Prof. Imron juga mengatakan, meneliti kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan institusi pendidikan akan memberi wawasan mengenai efektivitas kebijakan tersebut. Jika bagus, maka kebijakan akan tetap dilanjutkan. Namun jika terbukti kurang efektif, maka penelitian selanjutnya yang harus dilakukan ialah evaluasi untuk memperbaiki kebijakan tersebut. Kehadiran guru besar dari Universitas Negeri Malang itu merupakan pembukaan dari rangkaian Workshop Metode Penelitian Kebijakan Pendidikan bagi Tenaga Kependidikan. Program ini digagas Pusat Studi Penelitian yang digawangi Dr. Nur Ali, M.Pd. yang ada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (nd)