HUMAS UIN MALANG – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang bersama seluruh sivitas akademika mengucapkan selamat dan sukses atas pelantikan para pejabat baru di Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). Pelantikan ini menjadi momen penting bagi penguatan institusi Kemenag RI dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Rabu, 22 Januari 2025. Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Zainuddin MA, menyampaikan rasa bangganya atas pelantikan empat tokoh berpengaruh yang memiliki peran strategis di Kemenag RI. Keempat pejabat tersebut adalah: 1. Prof. Dr. H. Kamaruddin Amin, MA Dilantik sebagai Sekretaris Jenderal Kemenag RI, Prof. Kamaruddin Amin diharapkan mampu memperkuat tata kelola administrasi dan operasional kementerian. 2. Prof. Dr. H. Suyitno, MA Sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag RI, Prof. Suyitno memiliki tanggung jawab besar dalam mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia. 3. Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, MA Dilantik sebagai Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam), Prof. Abu Rokhmad diamanahi tugas untuk memperkuat pembinaan keagamaan dan kehidupan beragama di tengah masyarakat. 4. Prof. Dr. H. Ali Ramdhani, ST., MT Mengemban jabatan sebagai Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenag RI, Prof. Ali Ramdhani diharapkan dapat memperkuat komitmen moderasi beragama sebagai pilar kehidupan berbangsa. “Kami yakin keempat tokoh ini akan membawa Kemenag RI menuju arah yang lebih baik, selaras dengan visi moderasi beragama dan penguatan sumber daya manusia Indonesia,” ujar Prof. Zainuddin. Sivitas akademika UIN Malang juga berharap agar sinergi antara perguruan tinggi keagamaan Islam dan Kemenag RI semakin erat, khususnya dalam mendukung program-program strategis yang berorientasi pada pengembangan pendidikan dan moderasi beragama. Semoga amanah yang diberikan kepada para pejabat baru ini dapat dijalankan dengan baik demi kemajuan bangsa dan negara.
HUMAS UIN MALANG-Menteri Agama Nasaruddin Umar, meminta ekoteologi dan pelestarian alam masuk dalam kurikulum pendidikan agama dan keagamaan. Pesan ini disampaikan Menag saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pendidikan Islam 2025 di Jakarta, Selasa (21/1/2025) . Rakernas mengusung tema "Execution Matters! Beres Ya." Menag mengungkapkan tiga fokus pengembangan pendidikan agama dan keagamaan di masa depan, yakni isu lingkungan, toleransi, dan nasionalisme. Menag menekankan relevansi pendidikan dalam menjawab tantangan zaman, terutama krisis lingkungan. Ia menyebutkan pentingnya pendekatan ekoteologi untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam pelestarian alam.
Ekoteologi bisa dipahami sebagai konsep yang membahas tentang inter-relasi antara pandangan teologis-filosofis yang terkandung dalam ajaran agama dengan alam, khususnya lingkungan. "Konsep 'khalifah' dalam Islam menjadi landasan moral untuk mengajarkan siswa menjaga lingkungan hidup. Al-Quran dan hadis memberi pesan tegas untuk tidak merusak bumi," ujar Menag. Dalam tafsir Al-Quran yang diterbitkan Kementerian Agama, kata khalifah (QS Al Baqarah: 30) diterjemahkan sebagai pengelola alam semesta. Menag berharap nilai-nilai ini dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan agama, menjadikan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab manusia. Visi kedua yang diangkat adalah penguatan toleransi melalui moderasi beragama. Menag menyebut "Kurikulum Cinta" sebagai pendekatan inovatif untuk mengintegrasikan nilai moderasi ke dalam pembelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.
"Pendidikan adalah jalan utama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman," tegasnya. Moderasi beragama dianggap strategis dalam membangun masyarakat yang inklusif serta menanamkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin di berbagai tingkatan pendidikan. Nasionalisme menjadi pilar ketiga. Menag menekankan pentingnya pendidikan sejarah, penguatan budaya lokal, dan penghayatan nilai-nilai Pancasila sebagai upaya menanamkan cinta tanah air. "Nasionalisme bukan sekadar slogan, melainkan ruh dari setiap kebijakan pendidikan kita," ungkap Menag. Pendidikan agama diharapkan menjadi benteng untuk menjaga identitas bangsa di tengah derasnya pengaruh budaya asing. Sehingga, generasi muda memiliki wawasan global tanpa kehilangan akar budaya dan cinta tanah air.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Abu Rokhmad, menambahkan pentingnya eksekusi program yang tepat untuk mendukung kemajuan pendidikan Islam. "Perencanaan yang baik tidak berarti apa-apa tanpa eksekusi yang bersih, responsif, dan melayani. Oleh karena itu, tema Rakernas kali ini menjadi pijakan bagi kita semua untuk memastikan segala rencana dapat terealisasi dengan hasil nyata," ujar Abu.
Ia memperkenalkan visi besar Pendidikan Islam, yakni "MAJU dan HEBAT." MAJU merupakan akronim dari Melayani, Amanah, Juara, dan Unggul, sementara HEBAT adalah Helpful, Excellent, Brave, Active/Authentic, dan Think. Rakernas ini dihadiri berbagai stakeholder Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dari seluruh Indonesia. Rakernas menjadi ajang refleksi, evaluasi, dan sinergi. Agenda Rakernas meliputi talkshow inspiratif bersama Dr. Ary Ginanjar untuk membangun Pendis Culture dan sidang komisi yang membahas empat topik utama: Guru dan Tenaga Kependidikan Islam, Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, KSKK Madrasah, serta Pesantren dan Pendidikan Keagamaan Islam. "Rakernas ini adalah momentum untuk memperkuat komitmen kita bersama. Kita harus memastikan bahwa semua keputusan di sini membawa manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa," tutup Dirjen Pendis.
HUMAS UIN MALANG - Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang kembali membuktikan perannya dalam memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Salah satu kelompok KKM, yaitu kelompok 142 yang terdiri dari Abdinda Firdausi Nuzula dan Achmad Fairuz, memperkenalkan media pembelajaran kreatif berupa jaring-jaring bangun ruang. Program ini dirancang untuk membantu siswa SDN 1 Belung, Poncokusumo, memahami konsep bangun ruang tiga dimensi dengan lebih mudah dan menyenangkan. Inisiatif ini mendapat sambutan hangat dari kepala sekolah dan para guru, yang menganggapnya sebagai inovasi positif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Materi bangun ruang sering menjadi tantangan bagi siswa karena sifatnya yang abstrak. Namun, melalui media pembelajaran ini, siswa dapat mempelajari bentuk tiga dimensi dengan melihat langsung proses perakitan jaring-jaring hingga menjadi bangun ruang utuh. Bahan yang digunakan sederhana, seperti kertas asturo dan origami, yang membuat media ini tidak hanya mudah dibuat tetapi juga ramah lingkungan. “Kami ingin menciptakan pengalaman belajar yang interaktif dan menyenangkan, sehingga matematika tidak lagi dianggap membosankan,” ungkap Abdinda Firdausi.
Proses pembuatan media pembelajaran ini dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari mendesain jaring-jaring, memilih bahan yang aman dan mudah didapatkan, hingga merakitnya sesuai desain. Setelah media selesai dibuat, mahasiswa KKM mensosialisasikan cara penggunaannya kepada guru dan siswa, serta mendampingi siswa dalam merakit jaring-jaring tersebut. Antusiasme siswa terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Mereka tidak hanya lebih mudah memahami konsep bangun ruang, tetapi juga merasa senang dan tertantang untuk belajar.
Guru SDN 1 Belung mengapresiasi media pembelajaran ini karena mampu meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran matematika, khususnya materi bangun ruang. Dengan metode yang interaktif, siswa menjadi lebih percaya diri dan bersemangat dalam belajar. “Anak-anak terlihat lebih aktif dan memahami konsep dengan lebih baik. Ini adalah langkah yang sangat positif bagi pendidikan mereka,” ujar salah satu guru.
Melalui program ini, mahasiswa KKM UIN Malang menunjukkan bahwa kreativitas dan kepedulian dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Harapannya, inisiatif serupa dapat terus dikembangkan oleh mahasiswa lainnya sebagai bentuk kontribusi terhadap dunia pendidikan. Kuliah Kerja Mahasiswa bukan sekadar program wajib, tetapi juga momen untuk memberikan inspirasi dan perubahan nyata bagi lingkungan sekitar.
HUMAS UIN MALANG - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 135 Mangaladhikara, melaksanakan kegiatan sosialisasi parenting di Balai Desa Plandi, Sembalun. Sabtu, 18 Januari 2025.
Dalam kesempatan kali ini mahasiswa KKM 135 Mangaladhikara, dengan inisiatif dan perencanaan yang matang, berhasil mengundang narasumber yang kompeten, Ibu Asni Furaida, M.A., dosen dari UIN Malang. Kehadiran Ibu Asni memberikan nilai tambah yang signifikan bagi sosialisasi ini, memberikan para orang tua pemahaman yang komprehensif tentang pentingnya mengenali emosi anak, serta strategi efektif dalam mengelola perilaku tantrum.
Melalui sosialisasi ini, KKM 135 Mangaladhikara tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga membangun jembatan komunikasi yang efektif antara akademisi dan masyarakat. Program ini merupakan contoh nyata bagaimana mahasiswa dapat berkontribusi aktif dalam pembangunan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kualitas pengasuhan anak. Keberhasilan sosialisasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kelompok KKM lainnya untuk menciptakan program-program pemberdayaan masyarakat yang inovatif dan bermanfaat. KKM 135 membuktikan bahwa kontribusi mahasiswa tidak hanya terbatas di kampus, tetapi juga dapat memberikan dampak positif yang nyata di tengah masyarakat.
HUMAS UIN MALANG – Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang meninjau langsung proses belajar mengajar di tiga Taman Kanak-Kanak (TK) yang memiliki latar belakang agama berbeda. Ketiga TK itu di antaranya, TK Kristen Eleos (latar belakang agama Kristen), TK Bhakti Persada (latar belakang agama Hindu), dan TK Muslimat NU Al-Masithoh (Islam) yang berada di lingkungan Dusun Jamuran, Desa Sukodadi, Wagir, Malang.
Kunjungan itu berlangsung sejak 12 hingga 15 Januari 2025 lalu. Mahasiswa menyoroti hal menarik yang ada di TK itu, salah satunya penanaman rasa nasionalisme bagi anak-anak. Setiap awal pembelajaran, anak-anak diajarkan untuk menyanyikan lagu wajib sebagai bagian dari pendidikan karakter yang mengedepankan kecintaan terhadap tanah air. Selain menanamkan rasa kebangsaan, disiplin dan ketertiban juga diutamakan bagi ketiga TK itu. Anak-anak didik untuk baris berbaris sebelum memasuki kelas.
Salah satu mahasiswa, Shandyka Naraya Sukma, menceritakan observasi yang dilakukan ini merupakan bagian dari program moderasi beragama, di mana, menurutmya, semua memiliki pendekatan yang serupa dalam mendidik anak-anak. Menurutnya, program ini untuk membiasakan anak-anak dengan pentingnya tertib dan menjaga keteraturan, yang juga sejalan dengan nilai-nilai kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.
Shandyka, sapaan akrabnya, menambahkan, melalui observasi ini, para peserta KKM UIN Malang melihat bagaimana sekolah-sekolah tersebut berusaha menanamkan rasa nasionalisme dan ketertiban, sekaligus mengajarkan nilai-nilai keberagaman dan toleransi kepada anak-anak sejak usia dini.
Bu Dewi, selaku perwakilan satu guru TK yang beragama Budha, menyambut baik kedatangan mahasiswa dalam program moderasi beragama. Menurutnya, kedatangan mahasiswa membantu menciptakan generasi yang tidak hanya berlandaskan pada ajaran agama masing-masing, tetapi juga memiliki rasa persatuan dan kesatuan yang kuat dalam bingkai keberagaman.
Mewakili guru-guru TK, Bu Dewi berharap anak-anak bisa menanamkan nilai-nilai toleransi, saling menghormati, dan menghargai keberagaman sejak usia dini sebagai bagian dari kekayaan bangsa, sehingga mereka dapat memahami pentingnya hidup berdampingan secara harmonis di tengah perbedaan.
Sejalan dengan harapan itu, para mahasiswa bisa banyak belajar menghormati keyakinan dan tradisi agama lain, serta menumbuhkan rasa persaudaraan tanpa memandang perbedaan agama, agar terciptan hubungan yang lebih erat antara lembaga-lembaga pendidikan lintas agama.(mh/sf)
HUMAS UIN MALANG-Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Prof. Dr. H. M. Zainuddin, MA, bersama Kepala Biro Bidang AUPK, Dr. H. Muhtar Hazawawi, turut hadir dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pendidikan Islam 2025. Acara ini bertajuk "Execution Matters! Beres Ya." dan berlangsung di Mercure Ancol Jakarta pada 21-23 Januari 2025. Rakernas dihadiri oleh Menteri Agama serta para pemangku kebijakan di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, baik secara luring maupun daring.
Dalam sambutannya, Prof. Abu Rohmad, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, menekankan pentingnya eksekusi yang baik dalam menjalankan rencana. “Perencanaan yang baik tidak akan berarti apa-apa jika eksekusi dan aksi tidak terlaksana dengan baik. Setiap rencana harus dijalankan dengan bersih, responsif, dan melayani,” ungkapnya. Ia juga menyoroti perlunya evaluasi atas pelaksanaan program-program yang telah direncanakan, agar langkah-langkah yang diambil memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Rakernas ini menjadi momentum untuk refleksi dan evaluasi, memastikan bahwa alokasi anggaran digunakan tepat sasaran demi mendukung visi dan misi yang telah ditetapkan. Prof. Abu juga menyampaikan pesan Menteri Agama untuk menjaga integritas, menjalankan prinsip transparansi, dan menjauhkan diri dari praktik penyelewengan. “Setiap langkah harus mencerminkan nilai-nilai bersih, anti fraud, dan pelayanan prima,” tegasnya.
Fokus pada Pendidikan Anak dan Pengelolaan yang Relevan Dirjen Pendidikan Islam juga menekankan pentingnya memahami dunia anak-anak, mulai dari usia dini hingga perguruan tinggi. “Sebagai pengelola pendidikan, kita harus menyelami dunia mereka, memahami cara mereka tumbuh dan berkembang, agar pendidikan yang diberikan relevan dan sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Refleksi Menteri Agama: Tantangan Esensial Pendidikan Agama Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, dalam pidatonya, mengulas capaian kinerja 100 hari Kemenag. Meskipun laporan menunjukkan realisasi anggaran mencapai 100 persen, beliau menyoroti tantangan esensial terkait dampak terhadap kualitas anak didik. “Apakah anggaran yang tinggi memiliki hubungan linier dengan kualitas capaian anak didik? Faktanya, tidak selalu demikian,” ujarnya. Menurutnya, keberhasilan harus diukur secara holistik, mencakup peningkatan karakter dan visi pendidikan agama.
Beliau menyoroti tiga isu utama dalam pendidikan agama yaitu pertama, Penyelamatan Bumi Melalui Pendidikan Agama. Pendidikan agama harus menyertakan pesan lingkungan hidup yang kuat. Dengan pendekatan eco-teologi, doktrin agama perlu dikaji ulang agar tidak menjadi legitimasi eksploitasi alam. “Manusia sebagai khalifah di bumi harus diartikan sebagai penjaga, bukan perusak,” tegasnya.
Kedua, Pendidikan Toleransi dan Moderasi. Menteri Agama menyoroti rendahnya kesadaran toleransi dalam pendidikan agama. “Jika pendidikan agama sejak dini menanamkan kebencian, kita akan semakin jauh dari semangat kerukunan. Pendidikan harus mengajarkan toleransi sebagai inti ajaran agama,” ungkapnya. Katiga, Penguatan Nasionalisme. Pendidikan agama harus memperkuat identitas kebangsaan melalui sejarah, budaya lokal, dan nilai-nilai Pancasila. “Nasionalisme harus menjadi ruh dari setiap kebijakan pendidikan agama, bukan sekadar slogan,” tambahnya.
Pendidikan Agama sebagai Transformasi Sosial Menutup pidatonya, Menteri Agama menegaskan bahwa misi besar Kemenag adalah mendidik generasi penerus yang unggul secara intelektual dan berkarakter mulia. Pendidikan agama harus menjadi wahana transformasi sosial untuk menyelamatkan alam dan mempererat kerukunan. “Dengan visi yang kuat, kita dapat mewujudkan pendidikan yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa,” pungkasnya. Rakernas 2025 ini diharapkan menjadi tonggak penting untuk memperkuat komitmen dalam membangun pendidikan Islam yang bersih, transparan, dan berdampak positif. (*)
HUMAS UIN MALANG - Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 135 Mangaladhikara, melaksanakan kegiatan sosialisasi parenting di Balai Desa Plandi, Sembalun. Sabtu, 18 Januari 2025.
Sosialisasi ini sangat meriah dengan hadirnya puluhan orang tua yang antusias ingin memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang cara mendidik anak, khususnya dalam menghadapi perilaku tantrum yang seringkali menjadi tantangan bagi keluarga.
Mengangkat tema "Melatih Anak Mengungkapkan Emosinya Secara Positif Agar Tidak Tantrum," sosialisasi ini menghadirkan narasumber yang berkompeten, Ibu Asni Furaida, M.A., seorang dosen UIN Malang. Dengan gaya penyampaian yang lugas dan interaktif, Ibu Asni memaparkan materi tentang pentingnya memahami emosi anak sejak dini, hingga pentingnya mengenali faktor-faktor yang dapat memicu tantrum pada anak. Seperti kelelahan, rasa lapar, atau kurangnya perhatian. Diakhir penyampaian materi, beliau menekankan juga bahwa, parenting bukan hanya tanggung jawab ibu, melainkan peran serta seluruh anggota keluarga, "Ingat, mendidik anak adalah tanggung jawab bersama." Tegas bu Ani.
Melalui sosialisasi ini diharapkan, ilmu dan wawasan yang diperoleh para peserta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan lingkungan keluarga yang lebih harmonis dan suportif bagi tumbuh kembang anak. Kelompok KKM 135 Mangaladhikara berencana untuk mengadakan kegiatan serupa di masa mendatang untuk terus mendukung upaya peningkatan kualitas pengasuhan anak di wilayah Wonosari.
HUMAS UIN MALANG – Kelompok KKM 86 UIN Malang bekerja sama dengan Forum Laskar Anak Desa Wonorejo sukses menyelenggarakan acara sosialisasi permainan tradisional DONAT (Dolanan Anak Tradisional) di MI Al-Amin, Desa Wonorejo. Acara ini bertujuan untuk mengenalkan kembali dua permainan tradisional yang hampir terlupakan, yaitu Engklek dan Gobak Sodor kepada anak-anak di desa setempat (21/1).
Dalam acara yang berlangsung meriah, para peserta diajak untuk memainkan kedua permainan tersebut dengan tambahan unsur edukatif. Permainan tradisional ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendidik. Dengan memainkan Engklek dan Gobak Sodor, anak-anak dapat mengembangkan kemampuan sosial, motorik, dan kognitif. Selain itu, permainan ini juga dapat membantu anak-anak mengembangkan nilai-nilai moral dan karakter yang baik.
Acara ini mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Desa Wonorejo. Lomba permainan Engklek dan Gobak Sodor yang diselenggarakan setelah sosialisasi juga mendapatkan hadiah dari Pemerintah Desa Wonorejo. Dengan semangat yang tinggi, Forum Laskar Anak Desa Wonorejo berharap permainan tradisional dapat terus dilestarikan dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari anak-anak di era digital ini.
Ibu Khozimah, mewakili Kepala Sekolah MI Al-Amin, dalam sambutannya mengungkapkan rasa antusiasme dan dukungannya terhadap kegiatan ini. "Zaman sekarang, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget. Padahal, permainan tradisional sangat asyik dan mendukung perkembangan sosial dan motorik anak-anak. Saya berharap acara ini dapat menjadi pemicu bagi anak-anak untuk kembali bermain di luar bersama teman-teman sebaya," ujarnya.
Acara ini juga menjadi langkah awal bagi Forum Laskar Anak Desa Wonorejo untuk melanjutkan sosialisasi DONAT ke sekolah-sekolah lain di wilayah tersebut. Dengan demikian, diharapkan permainan tradisional dapat kembali menjadi bagian dari kehidupan anak-anak Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, KKM UIN Malang menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak terkait yang telah mendukung suksesnya acara ini. Terutama kepada MTs Al-Amin Desa Wonorejo, yang telah memberikan partisipasi luar biasa melalui Forum Laskar Anak Desa Wonorejo, yang terdiri dari siswa-siswi MTs Al-Amin. Mereka telah dipilih langsung oleh Kepala Desa dan digembleng untuk menjadi pionir dalam pemenuhan hak-hak anak di desa ini. Upaya mereka dalam mengajak teman-teman sebaya untuk melestarikan permainan tradisional dan mendukung pemberdayaan anak menjadi kontribusi penting dalam acara ini.
Acara yang dihadiri oleh seluruh siswa-siswi MI Al-Amin dan staf pengajar menunjukkan antusiasme besar dari semua pihak dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya permainan anak tradisional. Dengan semangat kebersamaan, harapannya permainan tradisional ini akan semakin dikenal dan terus dimainkan oleh generasi mendatang.
HUMAS UIN MALANG – Sebanyak 70 mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam (IAI) Faqih Asy’ari Kediri, yang dipimpin langsung oleh Dekan Dr. Mustajib, M.Pd melakukan kunjungan studi empiris ke Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) pada Selasa, 21 Januari 2025.
Rombongan ini disambut hangat oleh Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama (AAKK) UIN Malang, Dr. H. Barnoto, M.Pd.I, bersama Kepala Perencanaan Imam Bani Mustalik, dan Kepala Keuangan Umi Hanik Tasnida. Acara berlangsung di ruang pertemuan Gedung Rektorat lantai 3, dengan fokus utama belajar tentang administrasi keuangan khususnya di bidang akademik.
Dalam sambutannya, Dr. Barnoto mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasi atas kunjungan tersebut. “Selamat datang di kampus Ulul Albab, UIN Malang. Kami sangat senang bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait pengelolaan administrasi keuangan akademik,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa IAI Faqih Asy’ari untuk memahami bagaimana sistem administrasi keuangan diterapkan di UIN Malang. Kepala Perencanaan Imam Bani Mustalik dan Kepala Keuangan Umi Hanik Tasnida memberikan pemaparan mengenai tata kelola keuangan yang efisien dan transparan untuk mendukung proses akademik. Diskusi berlangsung interaktif dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dari para mahasiswa.
Perwakilan dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAI Faqih Asy’ari, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan UIN Malang. “Kami sangat terbantu dengan pengalaman dan informasi yang dibagikan. Hal ini memberikan wawasan baru bagi kami dalam meningkatkan pengelolaan administrasi di kampus,” ujarnya.
Kunjungan ini bukan hanya menjadi ajang studi empiris, tetapi juga menjadi langkah awal yang potensial untuk memperkuat kerja sama antar perguruan tinggi Islam di Indonesia. Dengan semangat sinergi dan kolaborasi, kedua institusi berharap dapat bersama-sama berkontribusi dalam mencetak generasi unggul yang membawa kemajuan bagi pendidikan Islam.
UIN Malang, dengan tagline “Unggul bereputasi internasional” terus membuka pintunya bagi kemitraan strategis demi kemajuan bersama di dunia pendidikan tinggi Islam.