Aktivitas Pensiunan Guru Agama
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 24 November 2013 . in Dosen . 1189 views

Guru itu ternyata tetap guru. Pensiun bukan menjadi sebab untuk berhenti mengabdi. Banyak orang setelah memasuki usia pensiun merasa kesepian, menganggap dirinya sudah tidak berguna, lalu stres. Ternyata gejala itu tidak selalu dialami oleh setiap orang, terutama pensiunan guru.

Banyak pensiunan guru yang hidupnya tetap tegar. Sekalipun sudah pensiun, para mantan pendidik dimaksud masih tetap bersemangat. Mereka selalu merasakan bahwa ada saja pekerjaan yang bisa dilakukan. Bahkan, setelah pensiun meraka merasa semakin bebas memilih jenis pengabdian yang disukai, dan tidak lagi terikat dengan aturan birokrasi.

Pada hari Sabtu, tanggal 23 Nopember 2013, saya bertemu dengan teman-teman lama yang semuanya sudah memasuki masa pensiun. Pada umumnya, mereka itu adalah para pensiunan guru agama. Salah seorang di antara pensiunan itu, berinisiatif mengumpulkan teman-teman lama. Mereka mengistlahkan sebagai reuni terbatas bagi teman-teman kuliah seangkatan di IAIN fakultas Tarbiyah Malang.

Para pensiunan guru itu, rata-rata kelahiran awal 1950 an, sehingga usia mereka pada saat ini sudah antara 62 atau 63 tahun. Oleh karena batas usia pensiun guru adalah 60 tahun, maka selain yang menjadi dosen, semuanya sudah pensiun. Umumnya lulusan Fakultas Tarbiyah bekerja sebagai guru agama. Memang ada di antara mereka yang menjabat sebagai pengawas, kepala sekolah, dan atau sejenisnya, tetapi sebelumnya adalah guru.

Pertemuan itu memang mengesankan. Sudah puluhan tahun di antara mereka tidak bertemu, sehingga pada awalnya masing-masing tidak saling mengenal. Setelah berusia lebih dari 60 tahun, wajah dan bahkan ukuran tubuh mereka menjadi berubah. Rambut mereka juga sudah memutih, gigi mereka, sebagian sudah tidak lengkap lagi, dan begitu pula kulitnya sudah kelihatan menua. Tapi anehnya, pensiunan guru agama tersebut masih tampak tegar dan penuh optimisme.

Banyak hal yang dibicarakan dalam pertemuan pensiunan itu, baik terkait dengan keluarga, aktivitas sehari-hari, maupun juga kenangan tatkala masih bersama-sama kuliah, puluhan tahun yang lalu. Terkait keluarga, pertanyaan yang muncul, selain kesehatan adalah tentang jumlah cucu masing-masing, dan bukan lagi terkait anaknya. Rupanya, orang yang berusia di atas 60 tahun, lebih relevan berbicara cucu daripada bicara tentang anak.

Hal yang menarik, bahwa semua pensiunan itu ternyata masih mempunyai aktivitas sehari-hari di tengah masyarakat. Di antara mereka, ada yang sehari-hari aktif memberi pengajian dari satu tempat ke tempat lainnya, menjadi pengurus organisasi soal keagamaan, membina lembaga pendidikan, ikut menjadi pengasuh pesantren, ketua takmir masjid, dan lain-lain. Semua mengaku masih memiliki kesibukan untuk kepentingan masyarakat.

Di tengah-tengah perbincangan itu, saya menangkap bahwa guru agama memang memiliki keunggulan tersendiri. Agama selalu hidup di tengah-tengah masyarakat. Maka, guru agama selalu memiliki tempat atau peran yang bisa dilakukan pada setiap saat. Guru agama tidak akan kehilangan peran, sekalipun mereka sudah memasuki masa usia pensiun.

Selain itu, hal yang menarik bagi saya dari pertemuan itu, bahwa setelah berusia di atas 60 tahun, mereka tidak lagi fanatik terhadap kelompok atau organisasi keagamaannya masing-masing. Di antara mereka, ada yang menjadi pengurus NU, Muhammadiyah, dan mungkin juga masih ada lainnya. Akan tetapi, perbedaan organisasi sudah tidak lagi dirasakan sebagai sesuatu yang mengganggu komunikasi. Perbedaan itu tidak saja dipahami, tetapi lebih dari itu juga diterima.

Para pensiunan itu, yang semula saya kenal aktif di NU, ternyata setelah sekian lama sudah berubah menjadi Muhammadiyah, dan begitu pula sebaliknya. Organisasi rupanya bagi mereka sudah diposisikan alat untuk berdakwah, atau sebagai tempat untuk membina kehidupan keagamaan di tengah masyarakat. Oleh karena dilihat sebagai instrumen atau wadah, maka organisasi tidak melahirkan sikap fanatik yang berlebihan.

Organisasi Sosial keagamaan dianggap harus ada, tetapi tidak perlu harus bersaing, dan apalagi menjadi musuh di antara sesamanya. Dari pertemuan itu, saya melihat ada keindahan luar biasa. Mereka saling bercanda, bergurau, dan menunjukkan aktivitasnya masing-masing di masyarakat setelah pensiun. Setelah pensiun, muanya tidak ada yang berhenti mengabdi. Saya semakin bergembira lagi, tatkala mendengar ucapan bahwa organisasi keagamaan hanyalah alat dakwah dan wadah untuk membina masyarakat. Dengan begitu para pensiunan guru, telah menangkap tentang betapa pentingnya persatuan umat yang selalu harus dibangun dan dirawat. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up