Berbincang Dengan Beberapa Caleg
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 1 November 2013 . in Dosen . 2165 views

Beberapa hari terakhir ini, saya sering didatangi tamu ke rumah dari beberapa Caleg. Mereka itu berasal dari partai politik yang berbeda-beda. Saya sebagai PNS, mungkin dilihat oleh mereka, menjadi orang bebas. Tidak terikat dengan partai politik apapun. Dan, memang, saya tidak membangun jarak berbeda terhadap berbagai partai politik yang ada.

Kedatangan mereka ke rumah biasanya berasalan bersilaturahmi. Kadang di antara caleg itu, ada yang datang sendirian atau bersama-sama. Ada beberapa hal menarik dari berbincang-bincang dengan para caleg itu. Kepada mereka yang datang bersilaturrahmi ke rumah itu, saya biasanya memberikan apresiasi atas semangatnya yang tinggi, bersedia terjun ke dunia politik. Saya selalu menyebut bahwa, terjun di dalam politik adalah penting, agar bisa ikut memperjuangkan kepentingan rakyat.

Dengan memberi apresiasi itu, saya berharap mereka semakin bersemangat dan berhasil merumuskan niat yang seharusnya dipegangi oleh orang yang menerjuni di bidang politik. Hal itu saya lakukan oleh karena saya tahu, atau paling tidak menduga, bahwa tidak semua Caleg memiliki motivasi yang benar dalam berpolitik. Bahkan kehadiran mereka itu ke rumah sebenarnya, yang lebih penting, ialah sekedar agar saya memberikan dukungan pada pemilihan umum yang akan datang. Mereka menyebutnya bersilaturrahmi ke rumah, dan bukan berkampanye, oleh karena memang belum waktunya untuk itu.

Dari percakapan dengan para caleg dimaksud, saya menangkap ada beberapa hal menarik, di antaranya, sebagai berikut : Pertama, menjadi caleg ternyata tidak mudah dan murah. Agar berhasil terpilih menjadi anggota legislatif harus bisa mengumpulkan jumlah suara sebagai dukungan dalam jumlah yang tidak kecil, tergantung pada levelnya masing-masing. Anggota legislatif tingkat pusat, tingkat propinsi, dan kabupaten kota, ditentukan target suara yang harus dikumpulkan dalam jumlah berbeda-beda.

Untuk mendapatkan dukungan suara itu, bagi orang yang belum terkenal di wilayah yang akan diwakili, tentu bukan perkara gampang. Memang terasa aneh, orang yang masih asing berani mengajukan diri sebagai calon wakil masyarakat yang belum mengenalnya. Mereka belum dikenal, oleh karena tidak berdomisili di wilayah itu, dan juga belum pernah berbuat apa-apa terhadap masyarakat yang bersangkutan. Mereka bermaksud menjadi anggota legislatif hanya oleh karena sekedar menginginkan jabatan politik itu.

Orang yang seperti digambarkan itu, tentu tidak mudah mendapatkan dukungan. Mereka harus bekerja keras, bahkan pontang panting, bersaing dengan yang lain guna memperkenalkan dirinya di tengah masyarakat. Pekerjaan itu selain sulit juga tidak murah. Pada era sekarang ini tidak ada sesuatu yang gratis. Dari berbagai perbincangan, saya mendapatkan informasi bahwa biaya sosialisasi untuk anggota legislatif tingkat kabupaten kota ternyata mencapai ratusan juga, bahkan untuk tingkat propinsi, dan bahkan tingkat pusat harus menyediakan dana hingga milyaran rupiah.

Kedua, bahwa persaingan itu tampak amat keras. Para caleg tidak saja bersaing antar partai politik, melainkan juga bersaing dengan sesama temannya di internal partainya sendiri. Oleh karena itu, ketika bersilaturrahmi ke rumah, mereka yang sedang bersaing itu, sekalipun berada dalam satu partai, tidak pernah datang bersama-sama. Kebersamaan itu baru terjadi manakala di antara mereka sebagai Caleg yang berbeda tingkatnya, yaitu tingkat pusat, tingkat satu, dan atau tingkat kabupaten kota. Persaingan antar caleg sesama partai politik bisa jadi lebih keras dibanding dengan partai yang berbeda.

Hal yang saya anggap aneh ialah bahwa, saya tidak pernah mendengarkan idiologi yang ingin diperjuangkan andaikan mereka terpilih. Perbedaan di antara para caleg yang berasal dari partai politik yang berbeda-beda itu, seolah-olah hanya terletak pada nama dan lambang partai politiknya. Di antara mereka tidak memiliki distingsi idiologi yang jelas. Dari para caleg yang datang berganti-ganti itu, saya belum pernah mendengar keterangan yang jelas tentang idiologi yang akan diperjuangkan andaikan mereka menang atau terpilih. Umumnya yang dipikirkan oleh mereka hanyalah sebatas bagaimana agar menang dan terpilih menjadi anggota legislatif.

Ketiga, cara memperkenalkan diri, pada umumnya sama, ialah dengan membagikan kartu nama. Para caleg itu rupanya datang kemana-mana, hanya bermodalkan kartu nama. Bentuk kartu nama itu juga sama. Berisi pesan agar dirinya dipilih, foto yang bersangkutan, lambang partai, dan juga foto ketua umum partai politiknya. Sebagaimana disebutkan di muka, beberapa nama caleg pada dapil yang sama dalam satu partai, tidak ada yang mencantumkan nama secara bersama-sama. Individualisme dalam berkampanye di antara beberapa caleg dari dapil dan partai politik yang sama ternyata lebih mengedepan.

Membayangkan betapa beratnya sukses menjadi anggota legislatif, yaitu harus memeras otak, menguras tenaga, dan juga mwngeluarkan dana yang tidak sedikit, maka muncul pertanyaan dalam hati saya, yaitu apa sebenarnya yang mendorong, hingga mereka itu mau melakukan pekerjaan berat dan beresiko itu. Umpama mereka itu benar-benar akan membela rakyat, apa memang harus lewat modal dan resiko besar seperti itu. Dalam persaingan itu mereka terjerembab pada suasana gambling yang luar biasa. Umpama menang, mereka harus mengembalikan modal dan beresiko. Sebaliknya, andaikan kalah, biaya ratusan juta dan bahkan milyaran rupiah yang telah terlanjur dibelanjakan, tentu tidak akan bisa ditarik kembali.

Pertanyaan sederhana selanjutnya adalah, apakah memang sudah benar dan tepat, bahwa berjuang demi rakyat harus dilakukan sebagaimana berjudi, bahkan berpeluang bangkrut seperti itu. Contoh mereka yang kalah lalu harus menangggung derita sudah cukup banyak jumlahnya. Bahkan, mereka yang menang sekalipun lalu harus korupsi untuk mengembalikan modalnya dan kemudian dipenjara juga tidak sedikit. Saya kemudian berpikir, apa tidak sebaiknya, sistem yang penuh resiko itu segera dikaji ulang, agar korbannya tidak semakin banyak. Salah satu alternatif misalnya, anggota legislatif tidak perlu diberi status bagaikan tenaga tetap sebagai pegawai, berdinas setiap hari, lebih-lebih untuk tingkat I dan kabupaten kota. Para anggota legislatif itu hanya diminta datang sewaktu-waktu, tatkala ada sidang. Dengan demikian, gaji dan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah juga tidak perlu terlalu besar.

Saya yakin, umpama gaji dan fasilitas anggota legislatif tidak terlalu tinggi, maka para Caleg juga tidak akan mau mengeluarkan uang milyaran rupiah hanya untuk mengejar status itu. Selain itu, dengan strategi itu, anggota legislatif menjadi tidak selalu disorot negatif, anggaran bisa dihemat, dan posisi itu tidak terlalu diperebutkan. Wakil rakyat dipilih dari para tokoh yang sehari-hari hidup bersama rakyat, sehingga mereka benar-benar mengetahui persoalan dan aspirasi mereka. Selain itu, wakil rakyat bukan posisi yang diperebutkan dan apalagi dibuat gambling dan bahkan digunakan sekedar untuk mendapatkan penghidupan. Wallahu a'lam.

(Admin)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up