Dokter : Apa Seharusnya Berdemonstrasi ?
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 28 November 2013 . in Dosen . 1079 views

Tatkala para dokter melakukan solidaritas terhadap teman-temannya yang terkena kasus hukum dan dianggap tidak diperlakukan sebagaimana seharusnya, maka kiranya tidak ada orang yang tidak sependapat. Solidaritas itu dianggap penting dan sekaligus menggambarkan bahwa di antara mereka memiliki kebersamaan yang kokoh. Siapa yang akan membela dokter, manakala bukan para dokter sendiri.

Memang akhir-akhir ini, demonstrasi dianggap menjadi sebuah cara efektif untuk menyampaikan tuntutan atau protes terkait sesuatu yang dianggap mengganggu dan atau tidak menyenangkan. Unjuk rasa bisanya ditujukan kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan atau kekuasaan. Kegiatan itu dilakukan setelah cara-cara biasa, berdialog misalnya, tidak mendapatkan hasil.

Tidak semua kalangan dalam menuntut sesuatu dilakukan lewat demonstrasi. Dulu demonstrasi hanya dilakukan oleh para buruh pabrik untuk menuntut kenaikan upah. Adalah hal biasa para buruh melakukan demonstrasi. Mereka menganggap bahwa tuntutan kepada majikannya akan lebih efektif lewat berdemonstrasi bersama-sama. Selain para buruh, berdemonstrasi juga dilakukan oleh para mahasiswa. Mereka menuntut pemerintah agar misalnya, memperhatikan aspirasi rakyat. Seringkali mahasiswa juga mendemo pimpinan kampusnya untuk menuntut kebijakan yang diinginkan.

Ternyata pada akhir-akhir ini, demontrasi tidak saja dilakukan oleh buruh dan juga mahasiswa, melainkan banyak kalangan lainnya. Petani, nelayan, pamong desa, guru, dan ternyata dokter pun tidak mau ketinggalan, mereka juga berunjuk rasa atau melakukan demonstrasi. Bahkan, demonstrasi yang dilakukan oleh para dokter pada hari Rabu, tanggal 17 Nopember 2013, bersifat nasional. Rupanya mereka berhasil membangun solidaritas secara luas hingga ke seluruh wilayah, baik di kota besar hingga kota kecil.

Demonstrasi adalah sesuatu yang biasa, akan tetapi persoalannya, apakah hal itu harus dilakukan oleh guru dan juga akhir-akhir ini oleh para dokter. Ternyata demonstrasi para dokter juga hampir tidak ada bedanya dengan kegiatan serupa yang dilakukan oleh para buruh dan mahasiswa. Dari yang bisa dilihat lewat TV, demonstrasi para dokter juga berorasi. Seseorang di antara mereka, dengan alat microphone beragitasi untuk membakar semangat, dan kemudian teman-temannya sesama dokter meresponnya.

Semula saya membayangkan bahwa demonstrasi yang dilakukan oleh para dokter adalah berbeda dari lainnya. Misalnya, mereka dengan pakaian dokter berbaris dan sekedar memegang spanduk berisi pesan kemanusiaan yang penuh dengan kesantunan. Pada saat para dokter berdemonstrasi, lewat siaran radio el Sinta, saya mendengarkan langsung orasi dan komentar-komentar yang disampaikan. Dengan jelas terdengar bahwa demonstrasi para dokter ternyata sama sebagaimana demonstrasi pada umumnya.

Mendengarkan berita itu, maka dalam pikiran saya muncul pendapat bahwa, apa tidak sebaiknya aspirasi mulia itu disampaikan lewat bentuk yang berbeda. Misalnya, pimpinan organisasi dokter, mewakili semua anggotanya menghadap langsung ke presiden atau wakil presiden. Atau, selain itu juga menyampaikan kepada DPR sebagai wakil rakyat. Cara-cara itu kiranya justru lebih elegan dan sekaligus memberikan tauladan kepada semua elemen masyarakat. Dengan cara itu, keberadaan para dokter tidak saja menyehatkan masyarakat secara fisik, tetapi juga aspek lainnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up