Hidup Tanpa HP
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 21 November 2013 . in Dosen . 1190 views

Aneh sekali, sesuatu dianggap penting tatkala barang itu sedang tidak ada. Sebaliknya, ketika masih ada, tidak dirasa terlalu pelu. Ketika HP masih berada di saku misalnya, atau ditangan sekalipun, keberadaannya dirasa tidak terlalu penting. Benda itu disadari sangat dibutuhkan tatkala alat komunikai itu sedang tertinggal, atau bateri dan pulsanya sedang habis.

Perasaan tersebut juga sering saya alami sendiri tatkala HP saya sedang tertinggal. Dalam keadaan seperti itu, HP rasanya menjadi sangat penting. Mau menghubungi siapapun yang berjarak jauh tidak bisa. Padahal saat itu harus menyampaikan pesan penting ke beberapa orang dengan penggunakan alat itu. Oleh karena tidak ada HP, maka semuanya gagal saya lakukan.

Dalam keadaan seperti itu, maka terbayang dalam pikiran saya, betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan modern ini. Tidak bisa dibayangkan, umpama ilmu pengetahuan dan teknologi belum semaju sekarang ini. Sekedar menyampaikan pesan saja, kita harus menggunakan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Bahkan, menjadi lebih sulit lagi, manakala misalnya belum ditemukan alat-alat transportasi, seperti motor, mobil atau pesawat terbang.

Pada saat ini, dengan jasa teknologi, sekedar berkomunikasi menjadi sedemikian mudah. Kita bisa berbicara lewat HP dalam jarak yang tidak terbatas. Lewat HP, kita bisa menyampaikan kabar, pesan, dan bahkan bercanda dengan orang lain yang saling berjauhan, bahkan antar benua, misalnya. Kenikmatan itu kita rasakan, tidak terkecuali saat berhaji. Tatkala sedang thawaf, wukuf di Arafah, melempar jumrah di Mina, lewat HP kita bisa mengkabari anak, saudara, cucu, yang ada di tanah air atau asal negaranya masing-masing.

Betapa pentingnya produk teknologi, kita bisa membandingkan pengangkutan jama'ah haji antara sebelum dan sesudah menggunakan pesawat terbang. Sebelum menggunakan pesawat terbang seperti sekarang ini, jama'ah haji harus naik kapal berbulan-bulan. Hal itu sangat berbeda dari sekarang ibi. Pada saat ini, naik haji cukup hanya 40 hari saja, dan bahkan bisa kurang dari itu. Ini membuktikan bahwa ternyata produk ilmu pengetahuan dan teknologi terasa besar sekali kegunaannya. Namun anehnya, tatkala kita sedang memanfaatkan produk teknologi itu tidak selalu merasakan pentingnya, sehingga berterima kasih kepada pencipta dan pembuatnya pun juga terlupakan.

Kita diajarkan oleh Islam agar menjadi manusia terbaik. Sedangkan ukuran sebagai manusia terbaik itu adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. Ajaran itu telah benar-benar kita pahami. Akan tetapi, pemahaman terhadap pesan hadist itu seringkali terasa masih terbatas. Kita merasa cukup tatkala sudah memberi sedekah kepada anak yatim, fakir miskin, uang recehan kepada para peminta-minta, dan sejenisnya. Padahal ternyata ada umat lain yang sehari-hari merenungkan dan mengkaji alam semesta dan kemudian membuahkan teknologi modern yang sehari-hari kita nikmati. Usaha mereka itu ternyata memberi manfaat luar biasa bagi kehidupan sekarang ini.

Kita tidak bisa membayangkan, betapa besar manfaat yang berhasil diberikan oleh para pencipta HP dan juga para memproduknya. Dengan HP itu, maka siapa saja, mulai dari para penggiat ekonomi, politik, sosial, hukum, agamawan, pendidik, mahasiswa, dan bahkan para pembantu rumah tangga, atau siapapun lah, hidupnya menjadi mudah. Maka ilmu pengetahuan dan teknologi memang sangat penting dalam kehidupan ini. Betapa pentingnya ilmu pengetahuan, hingga Islam mengajarkan, bahwa dalam mencari ilmu hendaknya mulai dari ayunan hingga masuk liang lahat. Bahkan, mencari ilmu juga jangan dibatasi. Menurut hadis nabi, hingga ke negeri China sekalipun.

Umpama umat Islam, sebagaimana diajarkan oleh al Qur'an, bahkan lewat ayat yang pertama kali turun adalah perintah membaca, dan itu segera ditunaikan, maka umat Islam akan berada pada posisi terdepan dalam berbagai hal, termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan begitu, mereka akan menjadi umat terbaik. Namun sayangnya, hingga para tokohnya sekalipun, sekedar mengubah kelembagaan perguruan tinggi saja, semisal STAIN atau IAIN menjadi UIN, masih sulitnya bukan main. Padahal peluang mengembangkan teknologi secara leluasa, ----------semisal membuat HP saja, baru akan bisa dilakukan manakala kelembagaan pendidikan Islam itu diubah bentuknya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up