Sudah terlalu sering kita mendengar terjadi peristiwa kekerasan di ruag pengadilan. Terakhir peristiwa yang memprihatinkan itu terjadi di Mahkamah Konstitusi, di Jakarta. Pihak-pihak yang berpekara, oleh karena merasa tidak mendapatkan rasa keadilan, mengamuk dan bahkan merusak benda-benda penting di tempat itu. Memang semestinya, kekerasan seperti itu di mana saja tidak boleh terjadi, apalagi di tempat terhormat yang seharusnya dijunjung tinggi oleh semua warga negara, siapapun orangnya.
Hal yang perlu dicermati, bahwa pada setiap ada peristiwa aneh, seperti kekerasan, maka yang pertama kali disalahkan adalah masyarakat yang melakukannya. Pelakunya begitu mudah dipersalahkan, tanpa melihat sebab musabab yang melatar belakangi kejadian itu. Masyarakat diharapkan bisa berperilaku dewasa dan menerima segala keputusan di lembaga peradilan. Sementara itu, oknum pelaksana pengadilan berbuat semaunya sendiri, tanpa memperhatikan nurani orang-orang yang mencari keadilan.
Sikap wajar atau normal bagi semua pihak akan terbentuk dengan sendirinya manakala proses-proses di lembaga pengadilan itu berjalan normal dan obyektif. Akan tetapi pada kenyataannya, bahwa ternyata dunia peradilan tidak seindah yang digambarkan. Tidak sedikit kasus, dialami banyak orang yang sebenarnya sangat menyakitkan. Dakwaan dan juga keputusan hakim tidak mustahil bisa dibeli. Kasus yang dilakukan oleh Akil Muhtar misalnya, adalah contoh kongkrit tentang betapa lembaga pengadilan di negeri ini sudah sangat memprihatinkan.
Selain itu, kehadiran KPK sebagai institusi yang mendapatkan amanah untuk memerangi korupsi adalah bukti bahwa lembaga pengadilan di negeri ini sudah tidak sepenuhnya dianggap mampu menjalankan fungsinya. Mengetahui keadaan seperti itu, maka bisa dimengerti manakala masyarakat lantas curiga terhadap obyektifitas pengadilan yang sedang berjalan. Tatkala perasaan diperlakukan tidak adil itu benar-benar terjadi dan atau menimpa seseorang, maka luapan emosi yang berlebihan itu, kiranya tidak sulit untuk dimengerti.
Semua orang kiranya akan menghormati keputusan hakim, dan bahkan juga semua orang akan menghormati lembaga pengadilan di negerenya sendiri. Akan tetapi manakala selalu saja ada berita, informasi, data, tentang penyimpangan di lembaga pengadilan, maka kiranya wajar kecurigaan dan luapan emosi seseorang muncul dengan tiba-tiba, dan bahkan hingga dalam bentuk kekerasan itu.
Dalam keadaan lembaga peradilan sedang mendapatkan citra yang tidak semestinya seperti sekarang ini, maka hal yang perlu mendapatkan perhatian seksama, adalah bahwa rasanya tidak adil tatkala terjadi sesuatu, -------semisal kekerasan di lembaga pengadilan, segera menyalahkan pihak-pihak yang tidak berdaya, ialah rakyat. Sebaliknya, selalu berpegang teguhy bahwa, oknum pelaksana di lembaga pengadilan selalu benar. Sikap seperti itu kiranya perlu dikoreksi kembali. Berbagai kenyataan pada akhir-akhir ini, bahwa oknum pejabat yang terkait dengan lembaga pengadilan, seperti polisi, jaksa, dan hakim, ternyata mau disuap adalah bukti adanya kebobrokan di lembaga itu.
Atas dasar kenyataan tersebut, tatkala muncul kekerasan di lembaga pengadilan, maka sebelum menyalahkan pihak-pihak tertentu, maka seharusnya terlebih dahulu mengkaji secara saksama, siapa sebenarnya yang melakukan kesalahan. Bisa jadi, rakyat yang mencari keadilan di tempat itu berperilaku tidak semestinya. Akan tetapi juga sebaliknya, justru pejabat di tempat itu yang ceroboh. Banyak pengalaman membuktikan, bahwa di lembaga pengadilan itu sendiri ternyata tidak sepi dari kegiatan manipulasi, jual beli keputusan, suap menyuap, dan sebagainya. Dengan demikian, kita semua menjadi paham, mengapa kekerasan terjadi di tempat yang seharusnya dihormati bersama itu.
Cara terbaik adalah semua pihak seharusnya berinstropeksi dan selanjutnya melakukan perubahan mental secara bersama-sama. Mental tidak jujur, tidak amanah, manipulatif, mencari untung, dan seterusnya segera diubah secara revolusioner menjadi jujur, amanah dan bertanggung jawab. Manakala hal itu segera dilakukan, maka negeri ini akan segera terselamatkan. Akan tetapi jika sebaliknya, yaitu jaksa dan hakim masih terus saja melakukan kecerebohan sebagaimana banyak contoh akhir-akhir ini, maka kekerasan di pengadilan akan selalu terjadi, dan bahkan bangsa ini akan segera runtuh. Tentu, kita semua tidak ada yang menghendakinya. Wallahu a'lam.



