Mengejar Kebahagiaan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 4 November 2013 . in Dosen . 2857 views

Suatu saat, saya berbincang-bincang santai bersama orang yang sudah berumur, tentang konsep kebahagiaan. Orang tua itu rupanya memang arif, artinya apa yang diucapkan tidak saja mendasarkan pada buah pikiran dan pengalamannya semata, melainkan juga bersumber dari pemahamannya tentang agama. Sebetulnya tampak sekali, pemahamannya tentang agama juga tidak terlalu mendalam, tetapi terasa ia menangkap jiwa atau ruhnya. Itulah yang menjadikannya memiliki kearifan itu.

Dalam berdiksusi itu, dia menyimpulkan bahwa, sebenarnya banyak orang salah paham tatkala mengejar kebahagiaan itu. Mereka mengira bahwa letak kebahagiaan ada di banyaknya harta. Maka, dikejarlah harta itu hingga dengan berbagai cara. Mereka juga mengira bahwa harta itu ada pada orang yang memiliki jabatan. Maka jabatan yang dianggap akan mendatangkan kekayaan itu, bagaimana pun caranya dikejar-kejar. Logikanya bahwa dengan jabatan, maka mereka akan bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan kekayaan.

Setelah harta diperoleh dan begitu pula jabatan telah dimiliki, ternyata kebahagiaan pun juga belum bisa dirasakan. Sehari-hari, orang yang telah berhasil menyandang kedua kelebihan itu ternyata belum bisa menikmati kebahagiaan itu. Justru dengan kekayaannya itu sehari-hari mereka selalu khawatir, jumlah kekayaannya akan berkurang dan begitu pula jabatannya dikhawatirkan lepas kepada orang lain. Maka, justru kekayaan dan jabatan itu menjadi sumber kegelisahannya.

Kesalah-pahaman lainnya, mengira bahwa kebahagiaan itu ada pada popularitas, gelar akademik dan atau lainnya. Oleh karena itu, sumber-sumber penghormatan tersebut dikejar tanpa mengenal lelah. Akhirnya, popularitas, gelar dan lain-lain berhasil diperoleh. Akan tetapi, setelah semua itu, termasuk gelar di depan dan di belakang namanya tercantum secara syah, ternyata perasaan bahagia juga tidak dirasakan. Maka, mereka menjadi tahu bahwa kebahagiaan itu letaknya bukan pada popularitas, gelar, maupun kehormatan yang diperoleh.

Sementara orang lainnya juga mengira bahwa, kebahagiaan itu ada pada isteri cantik atau suami yang tampan. Tatkala mendapatkan isteri cantik atau suami tampan, pada awalnya memang tampak bahagia. Akan tetapi, ternyata betapa banyak suami isteri gaduh dan bahkan bercerai dalam usia muda. Kebahagiaan bukan selalu terletak pada isteri cantik dan atau suami yang tampan. Memang, isteri cantik atau suami tampan bisa mendatangkan kebahagiaan, akan tetapi dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Bisa jadi, justru isteri cantik atau suami tampan menjadi sumber persoalan hidup.

Dari perbincangan santai itu, sampailah pada kesimpulan bahwa letak kebahagiaan itu sebenarnya bukan berada di tempat-tempat sebagaimana diduga oleh banyak orang itu. Kebahagiaan bukan berada di harta kekayaan yang melimpah, jabatan atau pangkat yang tinggi, bukan ada di popularitas, gelar akademik yang tinggi, dan bahkan juga bukan terletak pada isteri cantik atau suami tampan. Orang tua yang arif itu, kemudian mengajak melihat orang yang bisa tertawa. Dikatakan bahwa, salah satu pertanda orang bahagia adalah tatkala seseorang bisa tertawa. Tatkala orang itu tertawa, maka pertanda, mereka itu senang dan atau bahagia.

Orang tua itu kemudian mengatakan bahwa tertawa bisa dialami oleh siapa saja. Orang yang tidak punya rumah dan harta kekayaan, sehingga sehari-hari hidup menggelandang di pinggir jalan, suatu ketika, ternyata bisa tertawa. Buruh pabrik yang gajinya pas-pasan dan bahkan tidak mencukupi untuk menghidupi keluarganya hingga akhir bulan, ternyata juga bisa tertawa. Pegawai honor yang setiap bulan hanya menerima upah yang tidak seberapa, ternyata juga masih bisa senyum. Melalui, renungan itu, orang yang telah berumur tersebut mengatakan bahwa, memang Tuhan tatkala membagi rizki, jabatan, dan lain-lain, masing-masing orang mendapatkan bagian yang berbeda-beda. Tetapi rupanya, tatkala membagi kebahagiaan ternyata merata, semua mendapatkan bagian.

Kesimpulan lainnya, bahwa kebahagiaan itu tidak perlu dikejar. Kebahagiaan itu tidak berada di tempat yang jauh, melainkan berada di tempat yang amat dekat, yaitu berada pada diri masing-masing orang. Kebahagiaan itu tempatnya di hati. Hati sehat dan mampu bersyukur itulah sebenarnya letak kebahagiaan. Hati sehat bisa saja dimiliki oleh setiap orang. Orang kaya, pejabat tinggi, rakyat, orang miskin, dan semuanya berpeluang memiliki hati sehat, dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu kebahagiaan tidak perlu selalu dikejar hingga jauh-jauh, sebab ternyata kebahagiaan itu dimungkinkan berada pada setiap orang. Persoalannya adalah bisakah seseorang itu menyehatkan hatinya, dan juga bersyukur. Di sanalah sebenarnya letak kebahagiaan itu. Wallahu a'lam.

(Admin)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up