Mengutamakan Orang Tua
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 27 November 2013 . in Dosen . 13133 views

Dalam suatu kesempatan, saya mendengar sendiri, seorang pimpinan kantor pemerintah, tatkala memberikan pengarahan kepada anak buahnya terasa sangat menarik dan mulia. Nasehat yang dimaksudkan itu adalah agar semua stafnya selalu lebih mengutamakan kedua orang tuanya dibanding pekerjaan rutin di kantor sehari-hari. Disebutkannya bahwa, menghormati dan mengutamakan terhadap kedua orang tua adalah sumber berkah dan ridha dari Allah. Dikatakan oleh pimpinan itu bahwa, kantor ini, akan selalu membawa berkah manakala semua pegawai mau menghormat dan lebih mengutamakan kedua orang tuanya dari pada tugas-tugas lainnya.

Bahkan, secara lebih jelas lagi kepala kantor dimaksud memberikan arahan bahwa, manakala ada sesuatu yang menimpa orang tuanya, sakit misalnya, ia mempersilahkan untuk meninggakan kantor dan segera mengurus orang tuanya. Seorang staf tatkala tidak masuk kantor atau datang terlambat dengan alasan mengurus orang tuanya yang sedang sakit misalnya, maka pimpinan kantor itu akan memahaminya. Tatkala tidak masuk kantor oleh karena mengantar orang tuanya ke rumah sakit misalnya, yang bersangkutan tidak perlu berkirim surat, melainkan cukup memberi tahu lewat tilpun atau kirim sms. Pimpinan kantor tersebut menggambarkan betapa pentingnya berbakti kepada orang tua. Tugas-tugas rutin kantor boleh dikalahkan oleh kegiatan mengurus orang tua yang sedang sakit misalnya.

Kepala kantor menyebut bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah puncak akhlaq mulia yang harus dipelihara oleh siapapun. Mengaku cerdas dan bijak adalah dianggap bohong belaka manakala yang bersangkutan tidak mampu menunjukkan kebaktiannya kepada kedua orang tua. Ia mengingatkan bahwa ridha Allah berada pada ridha orang tuanya, dan juga murka Allah adalah berada pada kemurkaan kedua orang tuanya. Orang tua harus diurus semaksimal mungkin.

Mmengutamakan orang tua dari pada tugas lainnya adalah sederhana, tetapi ternyata tidak semua orang memiliki kesadaran terhadap kewajiban itu. Berbakti kepada orang tua tidak selalu berkorelasi dengan tingkat pendidikan formal seseorang. Banyak sekali orang yang berpendidikan tinggi tetapi ternyata gagal dalam menunaikan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Sebaliknya, orang yang tidak berpendidikan`kecuali hanya sekedarnya, tetapi yang bersangkutan sedemikian tekun dan tinggi kebaktiannya terhadap kedua orang tuanya. Anak-anak jebolan pesantren tatkala diamati, pada umumnya ternyata jauh lebih mampu menghormat orang tua dibanding misalnya, lulusan perguruan tinggi dan lebih-lebih lagi perguruan tinggi dari negara sekuler atau negara barat. Atas dasar pengamatan itu, seringkali terdengar semacam joke atau kelakar, bahwa manakala seseorang menginginkan agar ketika meninggal nanti ditangisi oleh anaknya, maka jangan semua anaknya dikuliahkan ke perguruan tinggi.

Berbakti kepada kedua orang tua tidak memerlukan bekal kemampuan rasionalitas yang tinggi, melainkan berupa kekayaan atau kejernihan dan ketajaman hati. Berbakti kepada orang tua tidak boleh didasari oleh pertimbangan keuntungan material dan apalagi transaksi kebendaan. Berbakti kepada kedua orang tua adalah merupakan panggilan hati. Orang yang menyandang kekayaan hati adalah mereka itu yang sanggup menunaikan kewajiban itu. Orang yang memiliki kecerdasan intelektual tanpa disempurnakan dengan kecerdasan hati, maka tidak akan sanggup mengutamakan orang tua dari pada lainnya. Banyak contoh orang berpendidikan tinggi ternyata melupakan kepada kedua orang tuanya. Islam mengajarkan agar anak selalu berbakti kepada kedua orang tua. Birrul walidain adalah akhlak yang harus dikembangkan oleh setiap muslim. Banyak sekali ayat-ayat al Qur'an memberikan tuntunan agar berbuat baik kepada kedua orang tua.

Sedemikian tinggi nilai kebaktian anak terhadap kedua orang tuanya. Oleh karena itu pantas sekali manakala seseorang berpendidikan tinggi tetapi tidak berbakti kepada kedua orang tuanya, maka yang bersangkutan akan dianggap bahwa ilmunya tidak memberi arti apa-apa bagi kehidupannya. Sekalipun secara intelektual yang bersangkutan dianggap cerdas, tetapi sebenarnya gagal di dalam membangun akhlak dan spiritualitasnya. Orang yang demikian itu, hidupnya tidak akan mendapatkan berkah, dan bahkan apapun jabatan dan gelar akademiknya tidak akan memberi manfaat apa-apa bagi hidupnya dan juga masyarakat lingkungannya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up