Pendekatan Dakwah Kyai Modjo
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 29 November 2013 . in Dosen . 1276 views

Dalam kunjungan ke Manado beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan ahli sejarah dari Universitas Negeri Manado. Pertemuan itu hanya kebetulan saja. Yaitu, sama-sama menghadiri acara wisuda sarjana STAIN di kota itu, dan kebetulan duduk bersebelahan. Sambil menunggu berlangsungnya acara itu, saya bercakap-cakap tentang beberapa hal, di antaranya adalah tentang masuknya Islam di Sulawesi Utara.

Salah satu tokoh sejarah yang sangat dikenal di Jawa, namun kemudian pindah ke daerah Sulawesi Utara, lalu meninggal dan kemudian dimakamkan di tempat itu, ialah Kyai Modjo. Seorang tokoh pendatang ini dikenal sebagai penyebar agama Islam di Sulawesi Utara, yang hingga kini jejak perjuangannya tetap dikenang, hingga makamnya selalu diziarahi oleh banyak orang dari berbagai daerah.

Dalam perbincangan itu, oleh karena dosen Universitas Negeri Manado itu adalah ahli sejarah, maka rupanya merasakan lebih enak, berbicara tentang sejarah. Pada saat itu ia membawa pembicaraan pada sejarah masuknya Islam di Propinsi Sulawesi Utara. Mungkin pilihan itu juga sebagai upaya menyesuaikan, karena mengetahui bahwa saya datang dari perguruan tinggi Islam.

Ahli sejarah dari UNMA dimaksud menceritakan tentang awal kedatangan Kyai Modjo bersama rombongannya di wilayah Sulawesi Utara. Dijelaskan bahwa, pada saat datang pertama kali, Kyai Modjo tidak memperkenalkan ajaran Islam ke lingkungan masyarakat yang ditempati itu. Ia dan pengikutnya hanya ikut bermukim dan bekerja sebagai petani.

Ketika itu, jumlah penduduk masyarakat Sulawesi Utara, dan apalagi di wilayah yang ditempati Kyai Modjo, masih sangat terbatas. Menurut kisahnya, sebagai petani, Kyai Modjo tertarik pada tanah rawa, yang sebetulnya oleh masyarakat setempat dianggap menjadi sumber penyakit. Tanah basah berupa rawa-rawa banyak bersarang nyamuk. Oleh karena masih banyak pilihan, penduduk setempat ketika itu, untuk bertani, lebih memilih tanah kering.

Berbeda dengan masyarakat setempat, Kyai Modjo memilih lahan yang tidak disukai oleh penduduk yang lebih dahulu bertempat tinggal di wilayah itu. Dengan pilihan itu, maka kehadirannya tidak menjadi persaing dan atau saling mengganggu. Bahkan, Kyai Modjo memperkenalkan alat-alat pertanian yang selama itu belum dikenal oleh masyarakat setempat, yang dibawanya dari Jawa.

Ternyata, Kyai Modjo sukses dalam mengelola pertanian di tanah rawa-rawa itu, dan sekaligus juga masyarakat menjadi tertarik dengan alat-alat pertanian yang digunakannya. Masyarakat setempat yang bermukim terlebih dahulu di wilayah itu akhirnya berusaha mendekat pada pendatang baru itu untuk mendapatkan manfaat dari usaha pertaniannya. Terhadap pendatang baru itu pula, masyarakat tidak memperhatikan tentang agama atau kepercayaan yang dibawanya.

Selanjutnya, sebagai penganut Islam, Kyai Modjo mendirikan tempat ibadah berupa masjid. Masyakat setempat, sekalipun sama sekali belum mengenal Islam, sebagai bagian dari upaya mendekatinya, ikut membantu proses pembangunan itu. Tentu lewat proses dan waktu yang lama, akhirnya Islam dikenal dan diterima oleh masyarakat di wilayah itu.

Dari kisah sederhana tersebut, maka dapat ditangkap bahwa Islam diperkenalkan lewat pendekatan kultural dan jalan damai. Ketika di Jawa, Islam diperkenalkan melalui perdagangan, maka di wilayah Sulawesi Utara ternyata diperkenalkan melalui usaha pertanian. Dari kisah dakwah Kyai Modjo ini, maka semakin jelas, bahwa agar sukses, dakwah harus dilakukan lewat cara mendekat dan menyenangkan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up