Istilah pendidikan Berbasis Agama tanpa pagar, saya dapatkan dari Gubernur Sulawesi Utara, Dr.Sinyo Hari Sarundayang. Orang nomor satu di propinsi itu berniat akan membangun perguruan tinggi berbasis agama, yaitu STAIN dan STAKN Manado dalam satu lokasi. Dia berkeyakinan bahwa antar pemeluk agama yang berbeda tetapi selalu saling bertemu, melihat, dan menyapa pada setiap hari, oleh karena kampusnya berdekatan dan tanpa pagar itu, maka diharapkan kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama akan semakin terpelihara.
Ide besar dan mungkin juga terdengar agak aneh itu disampaikan oleh Dr. Sinyo Hari Sarundayang pada acara wisuda sarjana S1 STAIN Manado pada hari Senin, tanggal 25 Nopember 2013. Pada acara pengukuhan sarjana di perguruan tinggi Islam itu, Gubernur Sulawesi Utara, tidak saja hadir dan memberi sambutan, melainkan juga berkenan menyerahkan ijazah kepada masing-masing wisudawan setelah Ketua STAIN Manado Memindahkan kuncir mereka. Sepanjang pengalaman menghadiri acara wisuda, baru kali itu saya lihat seorang Kepala Daerah Tingkat I, berkenan terlibat dalam acara pengukuhan sarjana hingga sedemikian mendalam.
Dalam sambutan itu, Gubenur mengemukakan keinginannya untuk mengembangkan kedua sekolah tinggi berbasis agama yang berbeda, yaitu Islam dan Kristen Protestan, baik dari kelembagaannya maupun sarana dan prasarananya. Dalam aspek kelembagaan, Gubernur menginnginkan agar kedua sekolah tinggi berbasis agama diubah menjadi bentuk institut, dan jika mungkin ke depan, berubah lagi menjadi bentuk universitas, yaitu Universitas Islam Negeri Manado dan Universitas Kristen Negeri Manado. Selain itu, Gubernur juga bertekat, lewat anggaran APBD, akan memenuhi kebutuhan lahan dan bahkan sarana dan prasarana pendidikan lainnya yang diperlukan bagi kedua perguruan tinggi berbasis agama tersebut.
Keinginan besar membangun perguruan tinggi berbasis agama itu tampaknya bukan muncul secara tiba-tiba. Keinginan Dr.SH Sarundayanbg untuk mengembangkan keilmuan yang berbasis agama-agama itu sudah dimulai dengan melakukan kegiatan, di antaranya, dalam bentuk mengoleksi literatur berbagai macam agama. Rumah pribadinya, dilengkapi dengan perpustakaan, yang jumlah koleksinya, tercatat tidak kurang dari 15.000-an judul. Buku-buku dimaksud, selain bertemakan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, juga tentang berbagai jenis agama. Bahkan, di lokasi rumah pribadinya yang amat luas itu juga dilengkapi dengan fasilitas beberapa ruang pertemuan dan lainnya yang bisa digunakan tatkala menghadirkan berbagai tokoh agama yang berbeda-beda.
Salah satu isi sambutannya yang disampaikan pada acara wisuda sarjana STAIN Manado tersebut, Gubernur juga menjelaskan bahwa, dengan mengembangkan pendidikan berbasis agama tanpa pagar mengharapkan agar para pemeluk agama saling menunjukkan keindahan agamanya secara utuh. Maksudnya, kaum nasrani agar menunjukkan keindahan agamanya lewat perilaku mereka sehari-hari. Demikian pula, kaum muslimin diharapkan melakukan hal yang sama, yaitu menunjukkan keindahan agamanya melalui perbuatannya. Dengan cara itu, Gubernur meyakini, bahwa keimanan masing-masing pemeluk agama akan semakin kokoh. Semua orang akan menjaga agamanya melalui perilaku terbaiknya.
Saya menilai bahwa, ide Gubernur Sulawesi Utara sangat visioner. Dengan cara itu ke depan, setidak-tidaknya melalui lembaga pendidikan tinggi yang ada itu, para pemeluk agama tidak saja sekedar akan menunjukkan ajaran agamanya yang terbaik, melainkan juga keindahan masyarakat yang dibentuk oleh ajaran agama itu. Orang pada umumnya, tatkala menggambarkan kelompok lain, termasuk juga agama yang dipeluk, selalu dari perspektif kekurangannya, dan bukan keindahannya. Akibatnya, semua kelompok, tidak terkecuali umat beragama, selalu tampak kekurangannya. Gubernur Sulawesi Utara bermaksud membalik paradigma tersebut, ialah melihat orang lain tidak dari perspektif negatif, melainkan sebaliknya, yaitu dari pespektif keindahannya masing-masing. Dengan cara itu, Dr. Sinyo Hari Sarundayang berharap, agar di antara mereka yang berbeda itu terjadi saling berlomba-lomba memperkenalkan keindahan agamanya masing-masing secara lebih utuh dan menyeluruh.
Pandangan seperti itu, di Indonesia, rasanya belum begitu lazim. Upaya-upaya mendekatkan antar umat beragama baru sampai pada taraf berdialog dan melakukan kegiatan bersama. Oleh karena itu, saya menilai bahwa pandangan itu termasuk baru dan berani. Sulawesi Utara yang mayoritas penduduknya beragama nasrani, yakni sekitar 69 %, adalah cukup berani melakukan eksperimen semacam itu. Muslim di propinsi itu yang hanya sekitar 31 % , namun memiliki lembaga pendidikan tinggi Islam, berupa STAIN, yang ke depan diproyeksikan menjasi institut, dan bahkan universitas, maka seharusnya tertantang untuk menunjukkan agamanya, bukan saja dari ajaran yang dipahami, melainkan juga dari keindahan perilaku pemeluknya. Wallahu a'lam.



