Shalat Subuh Di Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Jakarta
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 18 November 2013 . in Dosen . 1560 views

Pada hari Ahad sore, tanggal 17 Nopmber 2013, saya bersilaturrahmi ke pesantren Ash Siddiqiyah di Jakarta yang sehari-hari diasuh oleh KH Noer Muhammad Iskandar SQ. Pesantren itu cukup besar, dan ternyata telah memiliki 11 cabang di berbagai tempat. Ribuan santri belajar di pesantren itu.

Kedatangan ke pesantren tersebut atas inisiatif saya sendiri. Artinya, saya datang bukan karena diundang untuk mengikuti acara pesantren atau untuk memberi ceramah dan semacamnya. Saya datang untuk berdiskusi secara informal tentang pendidikan Islam dengan seorang tokoh yang saya anggap selama ini sukses mengembangkan lembaga pendidikan pesantren di banyak tempat.

Bagi saya, ada sesuatu yang aneh tentang pendidikan pesantren yang dikembangkan oleh KH Noer Muhammad Iskandar SQ. Selama ini pesantren dianggap sebagai lembaga pendidikan yang hanya cocok untuk masyarakat pedesaan. Akan tetapi, ternyata pesantren juga bisa berkembang dan maju di kota besar seperti Jakarta. Artinya, orang kota pun sebenarnya juga meminati pendidikan yang seringkali diberi label tradisional itu.

Lembaga pendidikan pesantren sebenarnya memiliki banyak kelebihan. Saya menangkap, paling tidak, di antaranya adalah dalam pengajaran bahasa asing. Pesantren sukses dalam memberikan pengajaran Bahasa Arab. Sekalipun baru belajar beberapa tahun di pesantren, para santri sudah mampu bercakap-cakap dan memahami kitab yang berbahasa Arab. Manakala mau jujur, bandingkan saja dengan sekolah umum. Para siswa, mulai dari tingkat SMP, SMA, dan bahkan perguruan tinggi, diajari Bahasa Inggris dan telah dinyatakan lulus Ujian Nasional. Akan tetapi, kemampuan mereka ternyata belum banyak kelihatan dalam aktivitas sehari-hari. Mestinya, anak pesantren bisa berbahasa Arab, maka anak-anak lulusan sekolah umum bisa berbahasa Inggris.

Dalam hal belajar bahasa asing saja, anak pesantren jauh lebih unggul dibanding anak-anak lulusan sekolah umum. Anak pesantren bisa memahami buku berbahasa arab, sementara itu, anak sekolah umum belum tentu. Bahkan, para santri beberapa pesantren seperti misalnya, pesantren Gontor Ponorogo, pesantren Al Amien Prenduan, Sumenep, Madura, selain mampu berbahasa Arab juga mengerti Bahasa Inggris. Bahkan, banyak karya tulis para santri menggunakan dua bahasa asing, yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Sementara itu, siswa sekolah umum tidak selalu bisa, sekedar menulis dengan menggunakan Bahasa Inggris. Itulah di antara kelebihan pesantren.

Padahal diakui, bahwa tidak semua pesantren telah berhasil melengkapi fasilitas pendidikan yang diperlukanh, seperti tempat belajar yang representatif, buku-buku yang diperlukan, dan apalagi imbalan finansial yang diberikan kepada para guru atau pengasuhnya. Banyak kondisi lembaga pendidikan pesantren yang belum dianggap cukup, tetapi telah membuahkan prestasi yang membanggakan. Kelebihan pendidikan pesantren itu menurut kesimpulan sementara kyai, adalah bahwa para santrinya dalam belajar memiliki niat yang kuat dan benar. Mereka belajar bukan untuk memperoleh ijazah atau tanda lulus, melainkan agar alim atau menguasai ilmu yang dipelajarinya.

Kunjungan semalam di pondok Ash

(Admin)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up