Akhir-akhir ini betapa beratnya tugas para pendidik Islam, da'i, muballigh, dan siapa saja yang terkait dengan penyiaran Islam. Mereka itu setiap hari menjelaskan tentang keindahan ajaran Islam, baik yang bisa dibaca dari al Qur'an, hadits nabi, maupun tatanan masyarakat yang diwarnai oleh ajaran itu. Siapapun yang menjalankan ajaran Islam, maka pikirannya akan cerdas, hatinya semakin mulia, dan perilakunya semakin terpuji.
Keterangan semacam itu mendasarkan pada isi kitab suci. Bukti-bukti sejarah menunjukkan tentang hal demikian itu. Kehidupan Muhammad saw., sebagai rasul tatkala masih hidup, di Makkah maupun Madinah, baik terkait dengan pribadi, keluarga, bertetangga, masyarakat, dan bahkan bernegara, mendasarkan pada tuntunan Islam itu, menjadi sangat ideal.
Atas dasar ajaran Islam, maka kehidupan masyarakat menjadi tenang tetapi dinamis, mereka seluruhnya diperlakukan secara adil. Persoalan kehidupan sehari-hari, baik terkait dengan kegiatan ritual, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, hukum, pendidikan, sosial dan lain-lain, semuanya diberi tuntunan atau pedoman dalam al Qur'an dan selanjutnya diberikan tauladan pelaksanaannya melalui kehidupan yang dijalankan oleh Muhammad sebagai rasulullah sehari-hari..
Ajaran Islam yang indah itu, sehari-hari dijelaskan oleh para pendidik Islam, da'i, muballigh, ulama', dan lain-lain, baik di masjid, sekolah, pengajian terbatas maupun pengajian umum, atau bahkan lewat media lainnya. Contoh-contoh kehidupan yang indah itu berhasil diberikan dengan mudah. Para petugas penyiar Islam itu dipercaya oleh karena mereka juga mampu menjalankan kehidupan sehari-hari atas dasar ajaran Islam, sekalipun misalnya tidak sempurna, namun masih menunjukkan adanya konsistensi dengan ajaran yang sehari-hari disampaikan.
Akan tetapi pada akhir-akhir ini, tatkala di lingkungan partai politik yang memasang label Islam, demikian pula lembaga pendidikan Islam, dan bahkan elite agama yang semula dikenal sebagai perceramah dan pembela Islam, ternyata terkena kasus yang tidak seharusnya terjadi, yaitu korupsi atau melakukan penyimpangan uang negara. Maka, para pendidik Islam, mubaligh, pendakwah, ulama dalam berbagai tingkatannya, menjadi merasa terpukul oleh kejadian buruk itu.
Atas peristiwa itu, maka keindahan dan kemuliaan ajaran Islam terganggu atau tertutupi oleh perilaku umatnya sendiri. Tatkala pendidik, mubaligh, atau ulama menjelaskan tentang ajaran Islam yang indah itu, maka sementara orang mempertanyakan korelasinya ajaran itu dengan kasus-kasus memalukan yang dilakukan oleh oknum yang semula dikenal sebagai elite atau tokoh agama itu sendiri. Persoalan itu bukan sederhana, tetapi adalah amat mendasar dan atau bersifat prinsip. Ajaran yang indah itu, dengan adanya perilaku yang sangat disayangkan tersebut, dianggap tidak mampu dijalankan oleh umatnya sendiri.
Berbagai rumor bernada ejekan, mengatakan bahwa tidak selalu jidad hitam, jenggot yang subur, surban yang tebal menunjukkan kesalehan atau kemuliaan seseorang. Simbul atau lambang-lambang kesalehan menjadi runtuh akibat perilaku yang tidak seharusnya dijalankan oleh elite yang mengaku sebagai pejuang dan pendidik Islam itu. Ajaran Islam yang sedemikian indah tertutupi oleh perilaku umat dan bahkan tokoh atau elitenya sendiri.
Persoalan berat seperti itu, sebenarnya bukanlah merupakan sesuatu yang baru dan apalagi aneh. Manusia dinyatakan dalam ajaran Islam sebagai tempatnya lupa dan keliru, makhalul khotho' wa nisyan. Al Qur'an dengan jelas dan tegas juga mengingatkan bahwa semua manusia akan merugi, kecuali mereka yang mampu menjaga keimanannya dan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Sebagai peringatan untuk kita semua, bahwa mereka yang terjerumus pada perbuatan salah dan nista, ----------tidak terkecuali para pemukanya, adalah rupanya termasuk sebagian orang yang tidak mampu menjalankan ajaran yang mulia dan indah itu. Wallahu a'lam.



