wawancara dengan Majalah Jendela Santri Masjid Al Falah Surabaya
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 23 November 2013 . in Dosen . 1976 views

1. Benarkah menghafal al Qur'an bisa meningkatkan kecerdasan ?

Jawab : Orang yang kuat hafalannya itu sudah pertanda, bahwa yang bersangkutan memiliki kecerdasan tinggi. Apalagi, menghafal al Qur'an hingga genap 30 juz, bukan sesuatu prestasi yang mudah diraih. Selain itu juga tentu, semakin menghayati isi kitab suci akan semakin meraih kecerdasan secara utuh, baik kecerdasan intelektual, sosial, spiritual, maupun lainnya. Dari aspek intelektual misalnya, saya lihat setiap wisuda di UIN Malang, mahasiswa yang berprestasi unggul, atau IP nya paling tinggi adalah mereka yang hafal al Qur'an.

2. Apakah sudah ada penelitian yang menguatkan itu ?

Jawab : Selama ini saya belum tahu bahwa telah ada penelitian khusus tentang itu. Tetapi, dari pengalaman selama memimpin perguruan tinggi Islam, saya temukan prestasi akademik mahasiswa penghafal al Qur'an, selalu baik dan demikian pula kepribadiannya.

3. Fenomena prestasi akademik para penghafal al Qur'an di UIN Maliki Malang apakah anda temui di tempat lain selama kunjungan anda di berbagai tempat maupun di luar negeri ?

Jawab : betul, saya sering menemui hal itu. Di berbagai tempat yang saya kunjungi, saya selalu mendapat informasi bahwa, para siswa, satri atau mahasiswa penghafal al Qur'an prestasi akademiknya juga lebih baik. Lebih dari itu, dalam sejarahnya, para ulama' besar di dunia juga penghafal al Qur'an. Sebut saja misalnya Imam syafi'i, Imam al Ghazali dan banyak lagi lainnya adalah hafal al Qur'an secara sempurna. Saya juga pernah datang ke berbagai negara, di antaranya ke Iran dan juga Irak, anak-anak sejak usia 4 tahun dibiasakan menghafal al Qur'an. Mereka itu, pada usia selanjutnya, ternyata lebih cerdas dan juga lebih dewasa.

4. Apa yang membuat anda begitu getol mendukung gerakan menghafal al Qur'an di UIN Malang, bahkan anda juga banyak memberikan fasilitas beasiswa bagi para penghafal tersebut ?

Jawab : Sebagai seorang guru, pasti mendambakan agar para anak didiknya menjadi cerdas dan berakhlak mulia. Sementara itu saya lihat, para penghafal al Qur'an selain cerdas juga berakhlak mulia. Maka, menurut hemat saya untuk membangun karakter, sebagaimana yang digelorakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saran saya sederhana saja, yaitu dekatkan anak-anak bangsa pada tiga hal, yaitu (1) dekatkan mereka pada kitab suci, (2) dekatkan dengan tempat ibadah, dan (3) dekatkan anak didik pada para pemimpin agamanya. Saya berusaha menghargai, dengan memberi beasiswa kepada mereka yang hafal al Qur'an, agar kegiatan itu semakin berkembang di tengah masyarakat.

5. Kadang, semakin tinggi kapasitas intelektual seseorang itu tak sebanding lurus dengan perilaku akhlak keseharian. Apakah ini juga terjadi pada para penghafal al Qur'an di UIN Malang ? Kenapa bisa begitu ?

Jawab : Saya tidak pernah menemukan apa yang anda gambarkan itu di kampus UIN Malang. Mereka yang hafal al Qur'an, sekaligus selalu berakhlak bagus. Saya justru lihat sebaliknya, mahasiswa yang tidak lulus-lulus, dan juga tidak jelas orientasinya itu, pada umumnya mereka jauh dari kitab suci al Qur'an, jauh dari masjid, dan juga jauh dari tokoh agamanya. Silahkan lihat atau amati lagi, jangan-jangan penglihatan anda saja yang keliru.

6. UIN Malang terbukti mampu menunjukkan bahwa penghafal al Qur'an ternyata tidak menghalangi prestasi akademik seseorang, bahkan justru para penghafal ini mampu memiliki prestasi yang membanggakan. Apakah tidak sebaiknya konsep di UIN ini diadopsi di lembaga pendidikan di semua jenjang ?

Jawab : sekarang ini sudah banyak sekali lembaga pendidikan yang mengimplementasikan konsep itu. Bahkan perguruan tinggi negeri umum, seperti Universitas Trunojoyo Bangkalan, UNS, Universitas Brawijaya untuk fakultas tertentu, telah melakukannya. Demikian pula, saya dengar UNESA juga akan mengambil kebijakan, memberi beasiswa kepada mahasiswa yang hafal al Qur'an.

7. Sudah mendesakkah saat hal itu dilakukan saat ini ?

Jawab : pertanyaan ini terasa kurang jelas, apa yg dimaksud sebenarnya ? Tapi, kalaupun harus saya jawab, menurut hemat saya, kegiatan menghafal al Qur'an itu tidak perlu dipaksakan. Apa saja yang dipaksakan tidak banyak manfaatnya. Anak-anak cukup dihimbau, dipersuasi, hingga suatu saat dari alam kesadarannya muncul kemauannya sendiri...

8. Jika semua jenjang pendidikan mampu menerapkan seperti yang dilakukan UIN Malang, perubahan apa yang akan terjadi di dunia pendidikan ke depan ?

Jawab : Penerapan konsep dimaksud untuk semua jenjang pendidikan, rasanya berat, hingga tidak mungkin. Tapi umpama semakin banyak lembaga pendidikan yang mencobanya, maka akan semakin banyak orang cerdas sekalipun berkepribadian unggul atau berakhlak mulia. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up