Kalimat dalam judul tulisan ini terasa kontradiktif. Sekolah mestinya mampu menghilangkan pengangguran, tetapi nyata tidak selalu begitu. Tidak sedikit lulusan sekolah dan bahkan hingga perguruan tinggi masih sulit mencari lapangan kerja dan akhirnya menganggur. Maka muncul istilah pengangguran intelektual atau penganguran sarjana.
Keadaan seperti digambarkan itu bukan hal baru. Di negeri ini, sudah sejak lama dikeluhkan, lulusan sekolah tingkat menengah dan bahkan perguruan tinggi tidak segera mendapatkan lapangan pekerjaan. Untuk mengatasinya banyak diskusi dan kebijakan yang diambil. Upaya mengubah kurikulum, memberikan mata kuliah entrepreneourship, memperbanyak sekolah kejuruan, dan lain-lain sebenarnya adalah untuk mengatasi persoalan itu.
Namun, usaha tersebut rupanya belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan yang semakin lama semakin tidak ringan itu. Antara perluasan lapangan kerja dan bertambahnya jumlah angkatan kerja lulusan sekolah menengah dan juga perguruan tinggi tidak sebanding. Bagi yang memiliki keberanian, tatkala mencari kerja di dalam negeri tidak berhasil, mereka merantau, pergi ke luar negeri, menjadi TKI atau TKW. Sekalipun tidak semua berbekalkan ketrampilan, mereka memperoleh pekerjaan, sekalipun misalnya, upahnya tidak terlalu tinggi.
Persoalan yang demikian itu, perlu kiranya, segera dicari jalan keluarnya, tidak terkecuali oleh lembaga pendidikan. Tidak boleh lembaga pendidikan hanya sekedar memproduk lulusan tanpa memikirkan akan dibawa kemana setelah mereka dinyatakan lulus. Banyak orang percaya kepada lembaga pendidikan tatkala institusi itu dianggap mampu berfungsi menyelesaikan problem yang dihadapi oleh masyarakat. Namun sebaliknya, tatkala tidak lagi dianggap fungsional, maka tidak menuntut kemungkinan akan ditinggalkannya.
Dahulu, sekedar lulusan SMA tidak sulit mencari kerja. Namun sekarang ini, lulusan SMA, bagi yang tidak meneruskan ke perguruan tinggi, hanya bisa diterima menjadi tenaga security, cleaning service, pelayan toko, sopir, dan sejenisnya. Bahkan, tatkala sarjana pun juga tidak mudah mendapatkan pekerjaan, mereka mau bekerja seadanya. Itulah sebabnya, banyak sarjana yang menganggur, sehingga akhirnya tidak sedikit di antara mereka yang nekat menjadi satpam, sopir taksi, dan sejenisnya.
Bagi sarjana yang masih memiliki simpanan uang, daripada menganggur, mereka meneruskan kuliah di program pascasarjana. Padahal dengan keputusan itu, tetap saja tidak ada yang menjamin, bahwa setelah lulus juga segera mendapatkan pekerjaan. Sekarang juga sudah mulai banyak lulusan S2 yang masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan semakin tinggi jenjang pendidikan yang dimiliki, justru semakin sulit mendapatkan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan ijazah dan gelar yang disandangnya .
Melihat kenyataan, semakin banyak lembaga pendidikan tetapi juga semakin banyak pengangguran, saya teringat informasi yang pernah saya dapatkan ketika kunjungan ke Maroko. Di Negara Arab yang berada di ujung paling barat itu terdapat sebuah etnis yang disebut dengan Suku Susi. Etnis yang menempati satu propinsi di Maroko itu tidak banyak yang tertarik pada pendidikan formal. Tatkala bersekolah, asalkan sudah mampu membaca, menulis, dan berhitung, mereka segera meninggalkannya tanpa mempedulikan ujian nasional, tanda lulus, dan juga ijazah. Bagi mereka, tujuan bersekolah adalah agar yang bersangkutan mampu membaca, menulis, dan berhitung.
Setelah keluar dari sekolah, berbekalkan kemampuan dasar tersebut, mereka mengikuti orang tuanya, bekerja. Bagi mereka yang ayahnya seorang pedagang, maka anak-anak drop out dari sekolah itu belajar berdagang. Begitu pula, bagi anak-anak yang orang tuanya bekerja sebagai pengrajin, petani, dan lain-lain, mengikutinya. Namun di masyarakat itu selalu ditanamkan keyakinan bahwa, jenis pekerjaan apapun harus selalu diimprovisasi atau dimodernisasi agar hasilnya bisa memenuhi tuntutan masyarakat yang selalu berkembang dan bahkan berubah.
Namun demikian anehnya, di tengah masyarakat yang tidak lulus sekolah dasar itu ternyata tidak mudah mencari pengangguran dan juga orang miskin. Masyarakat Etnis Susi itu, semuanya bekerja dan dengan demikian, mereka tidak miskin. Membandingkan keadaan masyarakat Susi di Maroko dengan masyarakat di Indonesia, terasa berbalik. Di sini banyak lulusan sarjana dan bahkan pascasarjana, tetapi banyak yang menganggur. Sementara itu, masyarakat Susi di Maroko, sekalipun drop out SD, bisa bekerja dan tidak miskin.
Sebagai tambahan, oleh karena ekonomi masyarakat Etnis Susi tergolong lebih bagus dibanding etnis lainnya, maka Raja Maroko, pernah mengangkat Idris Jetton, seorang yang berasal dari Etnis Susi, menduduki jabatan sebagai Perdana Menteri. Penunjukannya itu dengan maksud agar ia memperbaiki perekonomian negaranya. Padahal Idris Jetton adalah seorang yang tidak memiliki ijazah formal. Menurut informasi pula, penunjukkan Idris Jetton sebagai perdana menteri itu ternyata tepat. Buktinya, tidak lama kemudian, ekonomi Maroko terangkat, atau berhasil diperbaiki olehnya.
Melihat kasus tersebut, ternyata problem ketenaga-kerjaan tidak selalu bisa diatasi lewat lembaga pendidikan formal. Semakin banyak sekolah ternyata juga semakin banyak orang yang menganggur. Rupanya, seseorang agar bisa bekerja tidak selalu harus lewat lembaga pendidikan formal. Ketrampilan bekerja bisa diperoleh lewat latihan secara informal di keluarga atau masyarakat, sebagaimana yang terjadi di masyarakat Etnis Susi di Maroko. Bersekolah hingga tinggi-tinggi dan juga lama-lama, manakala tidak mau berlatih dan apalagi selalu menjaga gengsi, maka yang bersangkutan tidak akan memiliki ketrampilan dan juga tidak akan mampu bekerja. Akibatnya, mereka menjadi pengangguran intelektual atau sarjana nganggur. Rasanya berat. Wallahu a'lam.



