Beristiqomah Dalam menulis
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 7 Desember 2013 . in Dosen . 1377 views

Mengetahui bahwa saya selalu menulis pada setiap hari, maka tidak sedikit mahasiswa atau juga mereka yang sudah menjadi sarjana sekalipun, bertanya tentang cara membiasakan diri dan selalu istiqomah dalam membuat karya tulis. Ada sementara mereka yang mengaku, sebenarnya memiliki banyak ide, gagasan, pandangan, pendapat dan bahkan juga kisah-kisah menarik yang perlu ditulis, tetapi mereka mengaku kesulitan mengemukakannya melalui tulisan. Setiap mau menulis, dirasakan sulit memulai, dan setelah memulai, juga mengalami kesulitan untuk meneruskannya.

Keinginan menulis itu bagi kebanyakan orang dirasakan selalu ada. Bahkan keinginan itu sedemikian kuatnya. Apalagi bagi mereka yang berstatus sebagai mahasiswa, guru, dan bahkan dosen. Mereka tahu bahwa membuat karya tulis adalah sudah menjadi tuntutan bagi siapapun yang menyandang status tersebut. Para mahasiswa dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas penulisan karya ilmiah. Demikian pula para guru dan bahkan dosen, ketika mau naik pangkat, dipersyaratkan membuat karya ilmiah. Akibatnya bagi mereka yang tidak terbiasa menulis, persyaratan itu dirasakan sebagai beban yang berat, maka ada saja yang mengambil jalan pintas yaitu melakukan plagiat. Padahal, kalau mau saja beristiqomah menulis, maka tidak perlu melakukan kesalahan fatal itu. Mereka sebenarnya memiliki kemampuan, hanya persoalannya, yang bersangkutan tidak mau membiasakan diri saja.

Menjawab pertanyaan tersebut di muka, saya selalu memberi jawaban sederhana. Bahwa manakala keinginan menulis sudah tumbuh dan gagasan atau ide yang ditulis sudah muncul, maka segera sajalah memulai untuk menulis. Saya selalu memberi saran, tatkala sedang memulai menulis maka tidak perlu berpikir bahwa tulisannya tidak bermutu atau tidak berkualitas. Yakinkan diri sendiri, bahwa ide yang sedang ditulis itu adalah penting bagi banyak orang. Selain itu, buanglah jauh-jauh rasa takut dan khawatir, bahwa kalimat yang digunakan keliru, isinya tidak bermutu, akan dikritik orang, dan sejenisnya. Manakala rasa takut dan kekhawatiran itu muncul, maka kegiatan menulisnya juga akan berhenti. Ketakutan dan kekhawatiran itu akan menjadikan gagasan atau idenya hilang. Selain itu, kalau pun selesai, hasil tulisannya juga menjadi kurang baik.

Tatkala sedang memulai menulis, maka perasaan yang seharusnya ditumbuh-kembangkan adalah, bahwa seolah-olah ada orang yang berada di depannya yang sedang menunggu untuk diberikan penjelasan lewat tulisan yang sedang dibuat itu. Hendaknya dibayangkan bahwa, orang-orang dimaksud memang sedang mengharapkan penjelasan itu. Mereka itu tidak berharap mendapatkan pilihan kata yang terbaik, kalimat yang indah, dan lain-lain. Bayangkan bahwa, seolah-olah, bagi mereka yang terpenting adalah penjelasannya bisa dimengerti dan memang sedang dibutuhkan. Kekhawatiran dan bahkan ketakutan bahwa ide atau gagasannya tidak penting, atau kalimatnya tidak jelas harus dihilangkan. Dirinya sendiri harus diyakinkan bahwa orang yang sedang ada di depannya memang menunggu penjelasan lewat tulisan itu.

Maka sebenarnya, yang diperlukan bagi siapa saja ketika sedang menulis adalah kepercayaan diri. Perasaan bebas, berani, dan tidak khawatir sedikitpun itulah sebenarnya modal penting untuk membuat tulisan. Banyak orang yang sebenarnya kaya ide, gagasan, pendapat, atau pandangan tetapi gagal disampaikan lewat tulisan, oleh karena yang bersangkutan tidak memiliki keberanian itu. Mereka takut atau khawatir bahwa tulisannya akan disalahkan orang, atau akan diangggap tidak bermutu. Perasaan yang muncul seperti itulah sebenarnya yang menjadikan seseorang tidak banyak menghasilkan karya tulis. Oleh karena itu, siapapun yang akan membiasakan diri secara istiqomah untuk menulis, maka tugas terpenting yang harus dilakukan adalah menumbuhkan atau membangun kepercayaan diri itu.

Sedangkan cara tepat untuk menumbuh-kembangkan kepercayaan diri adalah juga sederhana. Yaitu jangan selalu mengingat-ingat kelemahan atau kekurangan dirinya sendiri. Seseorang yang selalu menginventarisasi kelemahannya, maka yang bersangkutan akan mendapatkan prestasi sebagaimana yang digambarkannya sendiri itu. Orang yang selalu menggambarkan bahwa dirinya tidak mampu menulis, maka yang bersangkutan tidak akan memiliki tulisan. Orang yang selalu berpikir bahwa dirinya lemah, tidak mampu, banyak memiliki kekurangan, dan sebagainya, maka ia akan mendapatkan keadaan sebagaimana yang digambarkan sendiri itu. Begitu pula sebaliknya, orang yang selalu optimis, khusnudzon, dan percaya diri, maka hidupnya akan berhasil. Prestasi seseorang akan selalu sejalan atau sesuai dengan suara hati yang dikembangkannya sendiri itu.

Sekedar berbagi pengalaman, pada setiap hari, ketika sedang menulis, saya tidak pernah khawatir dan apalagi takut, tulisan saya akan dinilai orang tidak bermutu, pilihan katanya salah, kalimatnya tidak teratur, dan sebagainya. Saya tidak mau berpikir negatif. Sebaliknya, tatkala sedang menulis, sekalipun tulisan itu memang sederhana, tetapi kesederhanaan itu tidak pernah saya ingat-ingat. Pada saat menulis, yang saya bayangkan adalah bahwa banyak orang menunggu tulisan saya untuk segera dibaca. Perasaan seperti itulah yang menjadikan saya bisa bertahan menulis pada setiap hari tanpa pernah henti hingga dua ribu hari. Saya yakin, para mahasiswa, guru dan apalagi dosen, memiliki kemampuan menulis dengan lebih baik. Persoalannya adalah tinggal kemauan dan kepercayaan diri itu, dimiliki atau tidak ?. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up