Ketika Sedang Sholat, Ibu Mengakhiri Hidupnya
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 22 Desember 2013 . in Dosen . 1331 views

Di hari ibu seperti sekarang ini, saya selalu mengingat ibu saya sendiri. Bagi saya, beliau adalah pahlawan yang sebenarnya. Beliau telah melahirkan, merawat, mendidik, menunjukkan mana yang baik dan yang buruk tentang kehidupan ini. Atas dasar kecintaannya kepada anak-anaknya, beliau selalu memberikan pesan-pesan yang amat berharga agar anak-anaknya menjadi selamat dan bahagia, baik di dunia maupun di akherat.

Sekalipun Ibu saya sudah wafat sejak beberapa tahun yang lalu, tetapi pesan-pesannya masih tetap hidup dalam hati saya. Di antara pesannya yang dianggap amat penting ialah terkait dengan shalat. Peringatan tentang shalat disampaikannya berulang-ulang pada setiap saat, seolah-olah tidak punya bosan. Tatkala saya terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan beliau tahu bahwa saya belum shalat, maka ibu segera mengingatkannya. Shalat harus ditunaikan tepat waktu dan syukur dilakukan secara berjama'ah.

Sekalipun wafatnya sudah begitu lama, namun sosok wajah ibu saya masih terbanyang dengan jelas. Dengan mengenakan pakaian mukena atau rukuh, ibu selalu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat fardhu. Setiap shalat fardhu, ibu selalu menunaikannya di masjid. Sementara itu, shalat sunnah dilaksanakan di rumah. Contoh kehidupan secara istiqomah seperti itu selalu dilaksanakan pada setiap hari, dan tentu para anak-anaknya, termasuk saya, ketika masih kecil dan berada di kampung, melihatnya sebagai tauladan.

Peran seorang ibu seperti itu, saya maknai sebagai pendidik sejati. Beliau tidak saja memberi nasehat atau petunjuk, tetapi juga memberi contoh atau tauladan. Nasehat tidak akan banyak manfaatnya manakala tidak diikuti oleh contoh. Demikian pula, contoh tidak akan sempurna manakala tidak dijelaskan melalui nasehat atau petunjuk. Keduanya adalah sangat penting diberikan di dalam proses pendidikan.

Memberi nasehat oleh siapa saja terasa mudah dilakukan. Tetapi sebaliknya, tidak demikian itu dalam memberi contoh. Banyak orang pintar dan trampil dalam memberikan nasehat, tetapi gagal ketika harus memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari. Padahal pendidikan yang sempurna adalah harus memberikan keduanya sekaligus, yaitu menasehati dan juga memberikan contoh yang harus dilakukan sehari-hari secara istiqomah.

Seingat saya, ibu yang seumur-umur hidupnya di pedesaan itu telah memberikan kedua-duanya, yaitu nasehat dan sekaligus juga contoh. Dalam hal yang kecil, tentang shalat misalnya, beliau selalu mengingatkan kepada anak-anaknya. Shalat harus ditunaikan tepat waktu dan syukur kalau dijalankan secara berjama'ah di masjid. Disebutkannya bahwa, shalat bukan perkara kecil dan sederhana. Sholat adalah tiyang agama, maka harus dijalankan secara tertib dan tidak boleh ditinggalkan. Pertanyaan populer dari ibu adalah : 'apakah kamu sudah shalat'.

Pada suatu saat, kira-kira jam 09.00 pagi, pada saat bekerja di kantor, saya dikejutkan oleh berita lewat tilpun, bahwa ibu wafat. Tentu suara HP dimaksud amat mengejutkan, oleh karena, selama itu tidak ada kabar bahwa ibu dalam keadaan sakit. Seketika itu pula, saya segera pulang ke kampung, dan mendapati kenyataan, bahwa orang yang sangat saya cintai, hormati, dan pahlawan dalam hidup saya, sudah benar-benar wafat.

Saya diberi tahu bahwa, ibu sebelumnya memang tidak sakit. Beliau shalat dhuha dan masih dalam keadaan mengenakan mukena atau rukuh, dan berada di atas sajadah itu, beliau dipanggil oleh Allah, wafat. Ketika itu, saya membayangkan dan bertanya dalam hati, apakah oleh karena selalu mengingatkan tentang shalat itu, beliau dipanggil oleh Allah dengan cara mudah, yaitu tatkala masih sedang dalam menjalankan shalat. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up