Kompetisi Dalam Berbisnis
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 25 Desember 2013 . in Dosen . 3280 views

Akhir-akhir ini banyak pihak berusaha memotivasi dan menggerakkan anak muda untuk terjun di dunia usaha. Entrepreneurship dipandang sangat mendesak digerakkan di kalangan anak muda. Mengharapkan untuk menjadi pegawai negeri setelah lulus sekolah atau kuliah, --------sudah dimaklumi banyak orang, peluangnya sangat kecil. Oleh karena itu ke depan diharapkan banyak anak muda mampu mandiri, yaitu membuka usaha di berbagai jenis bidang ekonomi sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

Sementara orang mengatakan bahwa, bisnis itu mudah. Semua orang bisa melakukannya. Namun sejatinya tidak selalu begitu. Bisnis itu sulit, tetapi siapapun yang menyukai tantangan, kesulitan itu bisa ditaklukkan. Saya lebih suka mengatakan bahwa, menjalani bisnis itu sulit. Memang, nyatanya juga begitu. Artinya, pada kenyataannya tidak semua orang mampu dan berhasil menjalaninya. Tetapi, bagi orang yang berkehendak menjadi seorang yang berprestasi, maka berani membuka usaha adalah pilihan tepat.

Jenis pekerjaan yang mudah dijalani adalah menjadi pegawai atau buruh, termasuk juga menjadi pegawai negeri. Pegawai negeri sipil tidak banyak beresiko, asalkan mampu menjaga kejujuran, atau tidak korupsi. Begitu pula menjadi buruh. Akan tetapi, ternyata secara ekonomi, kehidupan para PNS dan buruh pada umumnya, hanya sampai pada tingkat biasa atau standard. Tidak pernah ada PNS atau buruh menjadi kaya, kecuali yang bersangkutan berani menyimpangkan uang negara, sedangkan akibatnya masuk penjara sebagaimana banyak terjadi akhir-akhir ini.

Oleh karena itu, mereka yang menginginkan hidup berlebih, maka tidak ada pilihan lain, kecuali harus berani menjadi entrepreneur atau wirausahawan. Hanya saja, bidang pekerjaan itu selain menuntut keuletan, tekun, penuh perhitungan, dan berani menanggung resiko, juga harus mampu bersaing dengan para kompetotor pebisnis lainnya. Sementara itu persaingan dalam berbisnis kadang sangat keras.

Sedemikian kerasnya berkompetisi dalam bisnis, hingga jauh lebih berat dibanding pertandingan di dunia olah raga seperti sepak bola, dan bahkan bertinju sekalipun. Dalam pertandingan tinju terdapat wasit yang akan memimpin pertandingan, dan menjaga keselamatan pemainnya. Wasit seperti dalam pertandingan olah raga itu tidak terdapat pada kompetisi di dunia bisnis. Oleh karena itu, banyak pebisnis pemula yang segera mati oleh karena usahanya dilumpuhkan oleh mereka yang senior, dan atau apalagi yang jauh lebih besar.

Persaingan dalam bisnis biasanya lebih keras, licik, dan tidak selalu bermain fair. Jegal menjegal, jatuh menjatuhkan, dan hal yang lebih keras lagi dari itu adalah dianggap biasa. Itulah persaingan dalam bisnis. Baru-baru saja, saya mendapatkan cerita tentang kebangkrutan seorang pengusaha. Seorang guru teknik, setelah pensiun, ia membuka usaha dengan membuat berbagai jenis grendel. Kualitas produknya dikenal sangat bagus, sehingga mampu menyaingi produk-produk sejenis sebelumnya.

Singkat cerita, pengusaha ini ternyata dengan mudah diruntuhkan oleh pesaingnya dengan cara yang sangat licik. Bagian pemasaran pengusaha baru dimaksud diajak bekerjasama oleh pengusaha lain, untuk memproduk grendel yang menyerupai atau hampir sama. Produk tiruan yang kualitasnya diturunkan itu dijual dengan harga lebih rendah. Akibatnya, produk yang asli tidak laku lagi, sehingga usaha yang dikembangkan oleh pensiunan itu bangkrut dan bahkan mati. Bagian pemasaran mau diajak bekerjasama, oleh karena, ia sementara waktu diberi keuntungan lebih besar.

Oleh karena itu, sebagai entrepreneur, tidak saja harus paham dalam mengelola usahanya, tetapi lebih dari itu, mereka juga harus mampu bersaing keras tanpa wasit itu. Pemerintah semestinya memposisikan diri sebagai wasit, yaitu melindungi pengusaha pemula atau pengusaha kecil yang selalu kalah bersaing itu. Akan tetapi dalam prakteknya, perlindungan itu tidak mudah diharapkan. Banyak sekali pengusaha pribumi bangkrut oleh karena tidak mampu bersaing dengan pemodal besar. Dunia bisnis rupanya tidak ubahnya dengan kehidupan di laut. Ikan-ikan kecil bukan tidak mau menjadi besar, melainkan bahkan dihirup oleh ikan besar atau hiu.

Manakala ke depan diharapkan muncul atau tumbuh para etrepreneur baru, maka yang diperlukan bukan saja mempermudah untuk mendapatkan permodalan dan peningkatan ketrampilan berusaha, tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah, melindungi mereka dari serangan pesaing yang sewaktu-waktu siap membunuh pengusaha pemula dimaksud. Bangkrutnya banyak pengusaha kecil di berbagai tempat tidak sedikit yang disebabkan oleh kelakuan buruk pengusaha besar. Oleh karena itu, tanpa perlindungan pemerintah, maka jangan berharap tumbuh dan berkembang entrepreneur baru dari kalangan generasi muda yang sebenarnya sangat ditunggu-tunggu oleh bangsa ini. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up