Rupanya tidak semua orang mengetahui bahwa, antara kemudahan membeli dengan cara kredit, jalan macet, dan ruko tidak banyak yang hidup, adalah saling berkaitan. Tawaran pembelian kendaraan bermotor dengan cara sedemikian mudah menjadikan masyarakat tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tawaran kredit sepeda motor dan bahkan mobil itu, menjadi solusi termudah. Tanpa harus menabung, dengan memiliki uang muka sekedarnya, siapapun bisa mendapatkan kendaraan baru dari toko.
Akibat kemudahan membeli motor dan mobil dengan cara mengangsur itu, maka hampir semua orang memiliki kendaraan bermotor. Dahulu kendaraan bermesin hanya dimiliki oleh orang-orang kaya. Pegawai negeri atau pedagang yang bisa menikmatinya. Berbeda dengan dulu, sekarang ini, hampir semua orang memiliki sepeda motor dan bahkan mobil. Pencari rumput dan bahkan tukang rongsokan pun pergi dan pulang kerja naik kendaraan bermotor. Sarana transportasi modern menjadi bukan barang mewah, dan mendapatkannya bisa dilakukan dengan cara mudah, yaitu lewat cara kredit.
Perubahan cara orang bergerak dari menggunakan kaki menjadi dengan roda bermesin juga mengakibatkan jalan-jalan macet. Sehari-hari jalan besar hingga sampai jalan kampung pun dipenuhi kendaraan, baik roda dua atau roda empat. Kemacetan bukan sesuatu yang aneh, dan bahkan sebaliknya, terasa aneh tatkala jalan masih lancar. Kemacetan memuncak pada saat waktu banyak orang pergi ke kantor atau tempat kerja dan pada waktu-waktu pulangnya. Pemerintah juga dibuat bingung untuk mengatasi kemacetan itu.
Bagi orang yang suka mengkritik, maka sedemikian mudah menyalahkan pemerintah. Mereka dianggap terlambat menyelesaikan masalah, tidak memiliki perencanaan kota, tidak memiliki konsep, dan seterusnya. Memang umpama setiap orang mampu memprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang secara tepat, maka perencanaan itu bisa dibuat jauh sebelumnya. Namun tidak semua orang atau bahkan para pemimpin mampu melakukan perhitungan yang tidak mudah itu. Fenomena tertentu bisa muncul secara cepat sehingga tidak mudah diperhitungkan akibatnya. Siapa yang mampu mengetahui bahwa pada saat sekarang ini terjadi fenomena kemacetan yang sedemikian parah itu.
Tawaran berupa pembelian motor dan atau mobil secara kredit ternyata mengakibatkan kemacetan. Banyak orang mempunyai sepeda motor dan bahkan mobil, sehingga kemana-mana, mereka tidak mau lagi berjalan kaki. Sementara itu, kapasitas jalan tidak bertambah. Atau, paling tidak, antara penambahan kapasitas jalan dan jumlah kendaraan tidak seimbang. Kecepatan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor jauh berlipat dibanding penambahan kapasitas jalan. Itulah di antaranya yang menyebabkan kemacetan itu.
Fenomena lainnya yang muncul adalah pertumbuhan ruko. Sepanjang jalan di kota-kota, pada saat sekarang ini, dipenuhi oleh rumah toko atau disingkat ruko. Orang berlomba-lomba membangun rumah dan sekaligus menjadi tempat usaha ekonomi itu. Namun anehnya, tidak semua ruko bisa hidup dan berkembang. Bahkan, tidak sedikit yang baru saja mulai buka, ternyata tidak lama kemudian berhenti dan tutup. Banyak ruko yang tutup sebelum berkembang. Mungkin juga bangkrut.
Melihat fenomena itu pula, saya pernah mengajak berdiskusi dengan seorang mahasiswa eknomi, mengapa banyak ruko tidak banyak yang mampu berkembang. Ada beberapa jawaban, misalnya karena kekurangan modal, pengelolanya tidak berpengalaman, salah memilih jenis usaha, dan sebagainya. Di tengah-tengah usaha mencari jawaban dalam diskusi itu, saya menawarkan jawaban sederhana, yaitu oleh karena tidak ada orang yang membeli barang yang dijual di ruko itu. Mereka tidak membeli barang yang ditawarkan, bukan karena tidak memerlukan, melainkan oleh karena tidak tersedia lagi uangnya. Penghasilan yang didapatkan pada setiap bulan habis digunakan untuk membayar kredit sepeda motor atau mobil. Maka, ruko menjadi tutup atau bahkan mati.
Kait mengkait antara kemudahan kredit kendaraan bermotor, kemacetan jalan-jalan, dan banyak ruko yang tidak mampu tumbuh dan apalagi berkembang menjadi sedemikian mudah dilihat dengan jelas. Bahkan jika dikaji secara saksama, kaitan itu menjadi lebih luas lagi, baik yang bernilai positif maupun negatif. Yang bernilai positif misalnya, dengan memiliki kendaraan bermotor sendiri, maka orang pergi kemana-mana menjadi lebih cepat. Sedangkan pihak yang terugikan, atau disebut dampak negatifnya, ialah dialami oleh para pemilik usaha angkutan umum. Setelah banyak orang memiliki kendaraan pribadi, maka mereka mencari penumpang sulitnya bukan main. Itulah kehidupan modern, keadaannya selalu kait mengkait satu dengan yang lain. Berbekalkan pengetahuan itu, mestinya orang bisa menghindar dari kerugian yang mungkin akan dialami. Wallahu a'lam.



