Pada tanggal 28 Desember2013, saya diundang oleh Universitas Matla'ul Anwar Jakarta dalam rangka seminar sehari tentang Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi. Bersama Prof. Azyumardi Azra, Direktur Pascasarjana UIN Syahid Jakarta, dan Muhammad Zen, Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Matlaul Anwar, saya diminta untuk menjadi pembicara.
Perguruan tinggi yang menyelenggarakan seminar itu berdiri belum lama. Yakni, baru dua tahun menerima mahasiswa baru. Jumlah mahasiswanya juga tidak banyak. Akan tetapi ada yang agak aneh, di antaranya ada yang berusia 78 tahun. Saya lihat semangat mahasiswa yang telah berumur ini luar biasa besarnya. Ia juga ikut menjemput saya di Bandara Soekarno Hatta. Saya mengira sebelumnya, salah seorang yang menjemput saya dimaksud adalah dosen, atau karyawan, tetapi teryata mahasiswa.
Mahasiswa yang usianya sudah melebihi rektornya itu menyampaikan bahwa, ia sebagai mahasiswa Fakultas Agama Universitas Matla'ul Anwar semester tiga. Disebutkannya sendiri, bahwa usianya sudah 78 tahun. Sehari-hari selain kuliah, mengaku sebagai tukang listrik. Lewat kuliah di kampus itu, ia ingin menambah pengetahuan agama. Belajar, menurut pengakuannya, bisa dijalani secara autodidak, atau belajar sendiri. Tetapi, ia ingin mencari teman, agar tetap bersemangat, selain juga bermaksud agar mendapat surat keterangan lulus.
Sekalipun sebagai tukang listrik, di kampungnya, ia dituakan. Mahasiswa berusia 78 tahun itu, seringkali diminta memberi pengajian, khutbah jum'at, atau acara lain di lingkungan tempat tinggalnya. Oleh karena itu baginya, ilmu agama di tengah-tengah masyarakat dirasakan sangat penting. Berbekalkan ilmu itu, ia selalu dibutuhkan dan sekaligus bisa berkomunikasi dengan lingkungannya. Selain itu menurutnya, mencari ilmu agama tidak ada batas umur.
Mahasiswa yang semua anaknya telah menikah dan berhasil memberi cucu itu, saya lihat semangatnya luar biasa besarnya. Dalam seminar sebagaimana mahasiswa lainnya, ia mengenakan jaket seragam kampus. Tanpa canggung sedikitpun, dia aktif mengikuti jalannya seminar. Tatkala tiba waktunya tanya jawab, dia pertama kali mengangkat tangan sebagai pertanda ingin menyumbangkan pendapatnya. Setelah diberi waktu, dia menyampaikan pikiran-pikirannya tentang pendidikan. Pendidikan menurutnya, harus dimulai dari keluarga. Namun, ternyata banyak orang beranggapan keliru. Dikira, pendidikan cukup diserahkan kepada sekolah. Sementara itu pihak sekolah juga memandang bahwa, hal-hal tertentu adalah menjadi tanggung jawab orang tua.
Terjadinya saling melempar tanggung jawab itu tentu berakibat fatal. Anak-anak menjadi tidak terdidik secara sempurna. Kenakalan anak-anak dalam berbagai bentuknya di tengah masyarakat sebenarnya adalah bersumber dari kesalah pahaman dalam memaknai fungsi pendidikan itu. Seharusnya, antara sekolah dan keluarga saling bersinergi. Di sekolah oleh gurunya, anak-anak diberikan ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Selanjutnya, di rumah oleh orang tuanya, semestinya mereka diberi contoh mengimplementasikannya.
Keterpaduan seperti digambarkan tersebut ternyata tidak selalu terjadi. Orang tua oleh karena kesibukannya sehari-hari, menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Tidak sedikit orang tua pada setiap hari meninggalkan rumah sebelum anak-anaknya bangun dan pulang setelah anaknya tidur kembali. Dengan demikian, banyak anak-anak di lingkungan keluarga secara riil tidak pernah bertemu dengan orang tuanya sendiri. Proses pendidikan keluarga menjadi tidak terjadi. Itulah sebabnya, kata mahasiswa yang telah berusia 78 tahun tersebut, sebenarnya pendidikan tidak berjalan secara sempurna.
Dalam seminar itu, tatkala memperhatikan mahasiswa yang telah berusia lanjut tersebut, saya menjadi semakin gembira. Bahwa di tempat itu, ternyata ada contoh yang amat baik tentang bagaimana seharusnya mencari ilmu. Tugas mencari ilmu bisa dilakukan oleh siapa pun dan pada umur berapa pun. Hal itu sangat relevan dengan hadits nabi yang menyebutkan bahwa kewajiban mencari ilmu itu mulai dari ayunan hingga masuk liang lahat. Sekalipun sudah barang tentu, kewajiban itu bisa ditunaikan lewat berbagai cara, di antaranya lewat kuliah, sekalipun usianya sudah lanjut.
Tukang listrik yang masih aktif kuliah itu juga mengatakan bahwa, apa yang ia tempuh sekarang ini, adalah sekaligus bermaksud untuk memberi semangat kepada yang masih muda, termasuk kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Sekalipun sudah tua, ia ingin memberi pelajaran kepada banyak orang lewat contoh nyata. Dan ternyata, apa yang ia inginkan tercapai. Buktinya, tidak sedikit mahasiswa menjadi bersemangat dengan kehadiran dirinya itu.
Saya juga melihat, orang yang sudah berumur tetapi masih kuliah lagi itu, menjadikan penampilannya tampak segar, bersemangat, dan tidak kelihatan ketuaannya. Umurnya melebihi penampakan wajahnya. Melihat kenyataan itu pula, saya berkesimpulan bahwa, orang yang masih memiliki cita-cita hidup, harapan, kemauan, semangat, dan sejenisnya, maka akan tampak tetap segar.
Tuhan lewat kitab suci-Nya, juga mengajarkan tentang kehidupan masa depan yang membahagiakan, yaitu kehidupan di akherat kelak. Kehidupan yang disebut menyenangkan itu hanya bisa diraih oleh orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan berakhlakul karimah. Kesadaran tentang masa depan itulah yang menjadikan orang bersemangat hidup dan sekaligus berusaha meraihnya. Saya melihat mahasiswa Matla'ul Anwar yang sudah lewat umur tetapi masih tetap segar itu, -------bisa jadi, oleh karena ia memiliki cita-cita dan orientasi hidup masa depan yang jelas. Wallahu a'lam.



