Membenci Buahnya, Tetapi Membiarkan Pohonnya Tetap Tumbuh
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 18 Desember 2013 . in Dosen . 7812 views

Untuk menemukan penjelasan tentang pemberantasan korupsi yang tidak segera kelihatan hasilnya, saya mencoba untuk menggambarkan bahwa korupsi adalah buah dari sebatang pohon tertentu. Korupsi bukan sebab melainkan sebagai akibat, atau buah dan bukan pohonnya. Oleh karena itu semestinya, cara strategis menghilangkan buah yang dibenci itu adalah dengan cara menghilangan jenis pohon itu.

Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah, mengapa seseorang dengan resiko sedemikian berat, baik dunia dan akherat, tetapi tetap saja melakukan korupsi. Perbuatan korup itu tidak saja akan diancam oleh KPK, yaitu diadili dan dimasukkan ke penjara, tetapi juga akan disiksa nanti di akherat oleh Tuhan Yang Maha Adil, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Pemilik kehidupan ini.

Kenekadan para koruptor tersebut sebenarnya sama saja dengan seorang perjaka yang amat mencintai seorang gadis kenalannya. Sekalipun keluarganya menolak pinangannya dengan berbagai alasan, maka pemuda dimaksud dengan berbagai cara yang bisa ditempuh, berjuang sekuat tenaga dan pikirannya untuk untuk meraih keinginannya itu. Disuruh apa saja pemuda itu mau, asalkan keinginannya tercapai. Bahkan kalau perlu, dengan resiko yang amat berat, ia mencuri perempuan yang dicintainya itu dan dibawa lari.

Cinta yang berlebihan ternyata membuat seseorang menjadi buta, tuli, dan bahkan hilang akalnya, sehingga yang bersangkutan tidak bisa lagi mampu melihat, mendengar, dan menghitung segala resiko yang akan diterima atas perbuatan salah yang dijalaninya. Hal demikian itu tidak saja kecintaan perjaka terhadap gadis, tetapi juga terhadap lainnya, termasuk terhadap jabatan dan harta kekayaan.

Siapapun berkemungkinan mencintai secara berlebihan terhadap jabatan dan kekayaan. Tidak pandang orang, semua adalah sama. Orang yang sudah meraih kekayaan sebanyak apapun, masih mencintai harta dan jabatan. Oleh karena itu, sesorang yang sudah amat kaya sekalipun, telah memiliki triliyunan rupiah, masih tetap saja berusaha mencari tambahan, agar ia semakin kaya lagi. Tidak pernah kita melihat orang kaya berhenti mencari harta, bahkan semakin banyak kekayaannya akan semakin rajin menambahnya. Demikian pula tentang jabatan, kebanyakan orang tidak mau berhenti di dalam mengejar jabatan sekalipun fisiknya sudah menua.

Mencintai harta dan jabatan itu adalah boleh asalkan tidak berlebihan. Naluri mencintai harta dan jabatan tidak perlu dimatikan. Sifat itu adalah milik manusia pada umumnya. Yang perlu dilakukan adalah membatasinya. Siapapun boleh saja mencintai harta, tetapi harus mengikuti rambu-rambu atau batas-batasnya. Harta harus diperoleh secara benar dan harus diperoleh secara halal, serta dibelanjakan secara tepat. Tidak dibolehkan harta diperoleh dengan cara sembarangan, termasuk lewat korupsi.

Manakala perbuatan korupsi itu diumpakan sebagai buahnya, maka kecintaan terhadap harta dan kekuasaan secara berlebihan adalah merupakan pohonnya. Mencintai harta dan jabatan secara berlebihan itulah sebenarnya sebagai sumber dari segala perbuatan menyimpang itu. Namun sayangnya, pada zaman sekarang ini, orang justru didorong untuk mengejarnya. Bahkan memasuki lembaga pendidikan pun, hanya sekedar diorientasikan agar diterima di lapangan kerja, menjadi orang kaya dan atau meraih jabatan basah. Padahal, tanpa didorong pun, manusia sudah memiliki naluri untuk mencintai itu semua.

Selain itu, jumlah kekayaan dan jabatan selalu dijadikan tolok ukur keberhasilan hidup. Disebut sebagai orang sukses hidupnya manakala yang bersangkutan berhasil memiliki kekayaan melimpah dan jabatan penting. Akibatnya, orang semakin bersemangat untuk mengejarnya. Sekedar sebagai contoh, untuk mengejar jabatan dalam politik misalnya, orang berani menempuh bergagai cara, termasuk membayar atau menyuap. Politik yang seharusnya dijadikan media untuk memakmurkan rakyat dan mewujudkan keadilan, ternyata akhirnya dijadikan bisnis untuk meraih kekuasaan dan kekayaan belaka.

Suasana masyarakat seperti digambarkan tersebut dianggap ideal, memenuhi tuntutan demokrasi, menjadi bebas, dan masing-masing orang memperoleh hak yang sama. Akan tetapi ternyata buahnya sangat menakutkan. Antar kelompok, golongan, dan bahkan individu saling berebut dan bahkan konflik. Antar orang tidak saling menyelamatkan melainkan sebaliknya, yaitu saling menuduh, mengintai, menjatuhkan dan bahkan bunuh membunuh. Tatkala seseorang, -------oleh karena kesalahannya, dimasukkan ke penjara, yang lainnya justru bersorak sorai bergembira.

Oleh karena itu memberantas korupsi, selain menghukum pelakunya, juga harus lewat upaya menghilangkan sebabnya. Berlebih-lebihan mencintai harta itu adalah sebab atau pohon yang selalu berbuah perbuatan korup. Boleh saja, seseorang mencari harta sebanyak-banyaknya, tetapi kekayaan yang dikumpulkan itu tidak perlu dijadikan ukuran keberhasilan seseorang. Keberhasilan hidup itu seharusnya diukur dari kesanggupannya dalam memberi manfaat terhadap orang lain.

Seorang dianggap berhasil dan hebat dalam hidupnya, manakala kekayaannya itu digunakan untuk menolong orang lain yang membutuhkannya. Selain itu, bahwa prestasi itu harus diraih dengan cara yang benar, baik, dan halal. Umpama ukuran keberhasilan itu adalah sejauh mana seseorang memberi manfaat bagi orang lain, dan hal itu selalu dikedepankan oleh pemerintah, maka korupsi akan berkurang dengan sendirinya. Orang akan mengejar kesuksesan dengan ukuran yang tepat. Pohon kebaikan akan menghasilkan buah yang baik pula. Saya selalu merenung dan berpikir, jangan-jangan bangsa ini sedang membenci jenis buah tertentu, sedangkan pohonnya tetap dipelihara. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up