Memburu Kekayaan Untuk Mendekatkan Diri Pada Tuhan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 21 Desember 2013 . in Dosen . 1939 views

Kita bisa membayangkan, umpama Arab Saudi itu miskin, mungkin masjidil Haram, -----dengan alasan tidak memiliki dana cukup, tidak direhab total seperti sekarang ini. Masjid Nabawi tidak seindah sebagaimana yang kita lihat. Begitu pula tempat melempar jumrah di Mina juga tidak serapi sekarang. Sehingga, setiap tahun tatkala jama'ah haji melempar jumrah pada waktu yang bersamaan akan selalu berebut tempat sehingga sangat membahayakan bagi jama'ah sendiri.

Persoalan yang sama juga terjadi di tempat lain. Orang tidak bisa membangun masjid berukuran besar dan bagus manakala tidak punya uang. Padahal, kaum muslimin sangat membutuhkan adanya tempat ibadah. Demikian pula, lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, madrasah, universitas Islam, pusat-pusat penelitian, dan lain-lain tidak akan bisa dibangun manakala kaum muslimin tidak kaya. Kita melihat banyak negara miskin tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pelayanan pendidikannya.

Demikian pula, kalau tidak punya uang, maka rumah sakit, pelayanan sosial, perluasan lapangan kerja dan lain-lain tidak bisa dilakukan. Oleh karena itu, kekayaan bagi siapa saja menjadi sangat penting, termasuk bagi kaum muslimin. Siapapun yang miskin akan kalah bersaing dan tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karena miskin, maka posisinya menjadi rendah dan terkalahkan oleh mereka yang kuat. Dalam struktur ekonomi, orang miskin dan apalagi tidak memiliki ilmu dan ketrampilan, maka tenaganya juga hanya akan dihargai murah, menjadi buruh dengan upah terbatas.

Itulah sebabnya, Islam memberikan petunjuk, agar kaum muslimin mau bekerja untuk mencari rizki yang halal. Diingatkan bahwa hampir-hampir kefakiran mendekatkan seseorang pada kekufuran. Nabi pernah membuat statemen yang sedemikian keras, bahwa umpama kemiskinan itu berupa sesuatu yang hidup maka akan dibunuhnya. Statemen itu menunjukkan bahwa, betapa bahayanya keadaan miskin itu. Harkat dan martabat seseorang menjadi rendah oleh karena kemiskinan itu. Islam sebaliknya, mengajarkan agar kaum muslimin berada pada posisi di atas, yaitu sebagai pemberi, penolong, dan bahkan ukuran terbaik bagi seseorang adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.

Dengan demikian sebenarnya memburu kekayaan itu adalah sangat penting dan diajarkan dalam Islam. Muhammad sendiri sebelum diangkat menjadi Rasul juga bekerja sebagai pedagang. Beliau belajar berdagang lewat kegiatan praktis, yaitu membantu Khadidjah, seorang saudagar perempuan kaya, yang kemudian wanita itu dinikah hingga menjadi isterinya. Sekarang ini, negara berpenduduk muslim yang kaya mampu membangun sarana dan prasarana kehidupan ekonomi, sosial, pendidikan, tempat ibadah,dan lain-lain secara modern, dan begitu pula sebaliknya.

Umpama kaum muslimin di Indonesia unggul di bidang ekonomi, maka tidak ada lagi orang yang mencari sumbangan untuk pembangunan masjid di pinggir jalan, madrasah yang dibangun seadanya, pondok pesantren yang kekurangan biaya pembangunan, dan lain-lain. Selain itu, umpama kaum muslimin berada pada pihak yang kaya di negeri ini, maka pembangunan mall, rumah susun, hotel, apartemen yang besar-besar di kota-kota besar akan dilengkapi dengan tempat ibadah atau masjid. Namun sayang sekali, fasilitas kehidupan modern dimaksud tidak dirancang, dibangun, dan dimiliki oleh umat Islam. Akibatnya, suasana spiritual yang sangat penting keberadaannya itu selalu terlewatkan.

Sebenarnya Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Bahkan Islam menganjurkan umatnya agar selalu mencari rizki yang halal tanpa dibatasi tentang jumlahnya. Berapapun boleh, asalkan dilakukan dengan cara yang benar, dibelanjakan dengan cara yang tepat, serta dipenuhi hak-hak orang lain melalui zakat, shadaqoh, infaq, dan lain-lain. Kaum muslimin juga dianjurkan agar mengejar kebahagiaan secara sempurna, yaitu kebahagiaan di dunia dan juga kebahagiaan di akherat. Sebagai bekal kebahagiaan di dunia, seseorang harus tercukupi harta kerkayaannya. Sebenarnya yang tidak diperbolehkan adalah berlebihan dalam mencintai harta. Orang kaya tidak selalu mencintai secara berlebihan terhadap hartanya. Bisa saja, kekayaannya itu, lewat jalan yang benar, justru selalu digunakan untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up