Beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa perguruan tinggi Islam atas undangan mereka untuk berceramah. Setelah tidak menjadi rektor, sejak beberapa bulan yang lalu, tatkala diundang, saya selalu hadir. Sekalipun agak capek, oleh karena undangan berturut-turut, tidak ada lagi alasan untuk tidak mendatanginya.
Selama dua minggu, saya datang ke beberapa kampus, mulai ke Yogyakarta, Jember, Blitar, Manado, Jakarta, dan langsung ke Ternate. Minggu berikutnya, ke Medan, Jakarta, lalu ke Palembang dan ke esok harinya masih kembali lagi ke Jakarta. Saya diundang ke kampus-kampus untuk kegiatan seminar atau diskusi dengan para dosen. Dalam klunjungan itu, saya diajak oleh para dosen untuk berdialog, mencari jalan keluar bagaimana mengembangkan profesi sebagai dosen di perguruan tinggi Islam tempat mereka bekerja.
Sungguh, saya sangat bergembira melihat semangat para dosen muda di beberapa kampus tersebut. Mereka menunjukkan semangat, tanggung jawab, integritas yang tinggi, dan keinginan untuk maju. Para dosen muda itu rata-rata sudah berpendidikan S2, dan bahkan beberapa di antaranya sudah lulus Doktor, baik lulusan dalam negeri maupun luar negeri.
Hal yang menggembirakan lagi, di antara para dosen dimaksud sudah menulis buku dan beberapa di antaranya diterbitkan oleh penerbit yang terkenal bagus. Setiap saya ke kampus-kampus perguruan tinggi islam dihadiahi karya-karya tulis mereka. Mungkin mereka tahu bahwa, saya suka menulis dan selalu mendorong kepada para dosen muda untuk melakukan hal yang sama. Rupanya, mereka juga senang manakala berhasil menunjukkan prestasinya masing-masing.
Dalama kesempatan berdialog itu, di mana-mana, saya selalu mendapatkan kesan atau masukan yang sama, yaitu mereka membutuhkan pengayoman dan ketauladanan. Tatkala datang ke kampus-kampus perguruan tinggi Islam, saya tidak pernah menemukan dosen yang mengeluh soal-soal pribadi, kesejahteraan, atau sejenisnya. Mungkin mereka sudah paham dan bahkan sadar bahwa kehidupan dosen di mana-mana memang seperti yang dialaminya itu
Yang mereka butuhkan adalah pengayoman dan ketauladanan. Mereka membayangkan bahwa, sebagai dosen muda masih memerlukan rasa aman, dan oleh karena itu harus diayomi. Selain itu, mereka juga masih memerlukan ketauladanan dari para pemimpinnya. Tentu, aspirasi itu tidak segera saya respon. Menurut hemat saya, sebagai seorang dosen di perguruan tinggi, apalagi sudah berpendidikan S2 dan bahkan S3, sudah tidak terlalu perlu lagi mendapatkan intervensi dari pimpinan secara berlebihan.
Saya menangkap harapan para dosen muda itu sebagai gambaran, bahwa di banyak kampus para seniornya justru menunjukkan kurang produktivitasnya. Tatkala para dosen muda sudah banyak melakukan penelitian, penulisan buku, dan karya-karya akademik lainnya, ternyata para seniornya justru yang kurang produktif. Pertambahan umur dosen senior ternyata tidak selalu diikuti oleh semakin semangat dan banyaknya jumlah karya-karya akademik atau karya ilmiah mereka.
Kenyataan seperti itu menjadikan para dosen yunior merasakan bahwa di kampus itu tidak ada pengayoman dan ketauladanan. Mereka membayangkan bahwa, umpama senioritas juga selalu dibuktikan dari jumlah dan kualitas karya ilmiahnya, maka kewibawaan kampus akan semakin cepat diakui oleh masyarakat akademik pada umumnya. Kehebatan kampus ke depan bukan saja terletak dari berapa jumlah mahasiswanya, berapa kali mewisuda sarjana dan jumlah yang ikut pada setiap semester, keindahan gedung dan tamannya, melainkan dari temuan dan pikiran besar yang dihasilkan oleh warga kampus yang bersangkutan.
Memahami aspirasi para dosen muda tersebut dan apalagi tatkala saya kaitkan dengan ukuran kehebatan perguruan tinggi Islam ke depan, saya semakin optimis. Kesadaran pribadi para dosen muda tersebut manakala terus berkembang, maka akan mampu mengubah sejarah perguruan tinggi Islam ke depan. Keberadaan dosen muda yang telah berpendidikan S3 atau bergelar Doktor dimaksud akan menjadi kekuatan luar biasa untuk mengembangkan lembaga pendidikan tinggi Islam di masa depan.
Namun sebenarnya hal yang diperlukan pada saat sekarang ini adalah lingkungan akademik yang mampu menumbuh-kembangkan keilmuan. Sebaliknya, yang harus dihilangkan adalah gulma (penyakit) perguruan tinggi Islam yang selama ini tumbuh di mana-mana, yaitu seperti permain politik kampus, fanatisme berlebihan terhadap aliran, kelompok atau organisasi, mental proyek, dan sejenisnya. Apabila hal-hal yang disebutkan terakhir itu masih tetap berkembang, sekalipun mereka bergelar Doktor, dan bahkan lulusan perguruan tinggi luar negeri sekalipun, maka perguruan tinggi Islam tidak akan bisa bergerak ke mana-mana, dan apalagi maju. Wallahu a'lam.



