Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 31 Desember 2013 . in Dosen . 5708 views

Di tengah-tengah semakin berkurangnya peminat masyarakat memilih fakultas atau jurusan dakwah, ternyata di Pamekasan justru dibuka program studi itu. Pondok pesantren al Hamidy, yang diasuh oleh KH Mohammad Rofi'i Baidhawi membuka sekolah tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam. Pembukaan perguruan tinggi Islam swasta itu diresmikan di kampusnya, pada tanggal 29 Desember 2013 yang lalu.

Pada saat acara peresmian itu, saya diundang untuk memberi kuliah umum. Hadir pada kegiatan itu para kyai, ulama, tokoh masyarakat, dan undangan, tidak kurang dari 500 an orang. Banyaknya undangan yang hadir itu menggambarkan betapa besar pengaruh pesantren yang bersangkutan dan juga sambutan masyarakat terhadap berdirinya sekolah tinggi itu.

Disampaikan sendiri oleh pengasuh pesantren, yakni Kyai Muhammad Rofi'i Baidhawi, bahwa selama ini pesantren al Hamidy telah menyelenggarakan pendidikan calon da'i. Setiap tahun para alumninya menyebar ke berbagai daerah, seperti ke Kalimantan, Sulawesi, dan bahkan hingga ke Papua. Disebutkan pula bahwa, permintaan tenaga da'i dari masyarakat, terutamna dari luar Madura, setiap tahunnya cukup banyak. Para da'i alumni pesantren itu diharapkan bersedia menjadi khotib atau imam masjid, dan membina kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.

Tugas-tugas sebagai imam masjid, khotib, dan pembina sosial keagamaan di tengah masyarakat, menurut kyai, sebenarnya tidak terlalu memerlukan ijazah formal yang diakui oleh pemerintah. Itulah sebabnya sebelum berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam, sudah banyak alumni pondok pesantren yang menyebar ke berbagai daerah untuk memenuhi permintaan masyarakat.

Selama ini, para santri pesantren al Hamidy dibekali dengan pengetahuan agama secara cukup, bahasa Arab, dan bahkan tidak sedikit para alumninya yang hafal al Qur'an hingga 30 juz. Tanpa ijazah pun, menurut pandangan Kyai, manakala seseorang santri dikenal menguasai ilmu pengetahuan agama, ------di mana dan kapan saja, akan dicari oleh masyarakat. Masyarakat tidak terlalu mempersyaratkan ijazah, tetapi adalah kemampuan sebenarnya yang dimiliki oleh seseorang.

Namun demikian, untuk memenuhi tuntutan zaman, dengan disetujuinya pembukaan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikiasi Islam oleh Kementerian Agama, maka tuntutan itu akan secara lengkap berhasil terpenuhi, yaitu dari aspek formalnya para alumni akan memperoleh ijazah, sedangkan aspek substansi pendidikannya, sebagaimana yang telah dihasilkan selama ini, telah memenuhi tuntutan masyarakat.

Dalam kesempatan kuliah umum itu, saya memberikan pandangan bahwa hendaknya para da'i lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam, berhasil menangkap tanda-tanda zaman. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat seperti sekarang ini, menuntut para da'i mampu bersaing dengan lingkungan yang lebih luas dan bahkan juga semakin lebih keras. Dalam persaingan itu, siapapun yang lebih kuat, maka merekalah pemenangnya. Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam harus mampu menjadi pemenangnya.

Mendengar informasi, bahwa para santrinya tidak saja dibekali dengan kemampuan Bahasa Arab, tetapi juga Bahasa Inggris, dan juga ketrampilan tertentu, maka lulusannya tidak akan kehilangan relevansi di tengah-tengah masyarakat. Sebagai ciri khas pendidikan pesantren pada umumnya adalah lebih mengutamakan isi atau substansi daripada simbol-simbol formalitasnya. Di sinilah salah satu kekuatan pesantren, sehingga sekalipun lembaganya tidak terlalu memiliki kekuatan finansial atau sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, tetapi hasilnya tidak mengecewakan. Kesungguhan dan keikhlasan ternyata selalu menjadi kekuatan yang luar biasa. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up