Perubahan Karakter
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 29 Desember 2013 . in Dosen . 22099 views

Karakter seseorang ternyata dalam waktu yang tidak lama juga bisa berubah. Seseorang yang semula tampak jujur, ikhlas, penyabar, mencintai kebenaran, peduli kepada banyak orang, suka menolong dan seterusnya, ternyata bisa berubah seratus delapan puluh derajad. Orang yang semula dikenal berperilaku jujur ternyata berubah menjadi tidak jujur, suka menyimpang, tidak peduli pada kepentingan orang lain, dan sebagainya.

Seseorang yang semula dikenal berperilaku jujur, amanah, dan selalu berpegang kepada kebenaran sehingga dipilih menjadi pemimpin, atau pejabat penting, ternyata dalam waktu yang tidak lama berubah menjadi korup, berlebihan menyukai harta, dan bahkan juga wanita. Lewat proses demokrasi, menjadikan tidak sedikit orang terpilih menjadi bupati, walikota, gubernur, menteri, dan lain-lain. Orang-orang pilihan tersebut ternyata tidak lama kemudian ditengarai menyimpang, mereka melakukan korupsi, kemudian ditangkap dan akhirnya dipenjarakan.

Padahal sebelumnya para kepala daerah atau pejabat yang korup tersebut sama sekali tidak dikenal sebagai orang jahat. Bermodalkan dikenal sebagai orang baik itu, maka kemudian yang bersangkutan dipilih oleh banyak orang, hingga menang dalam pemilihan kepala daerah, kepala wilayah, menjadi anggota DPRD, DPD, dan bahkan ditunjuk menjadi menteri. Umpama saja yang bersangkutan itu sebelumnya diketahui sebagai orang jahat, maka tidak akan mungkin diangkat sebagai pejabat publik yang sangat terhormat itu.

Atas dasar keunggulan karakternya itu, ketika mereka dilantik, maka para sanak saudara, kenalan, sesama pejabat, dan orang-orang yang diangap penting datang. Mereka memberikan ucapan selamat, dan bahkan berkirim karangan bunga sebagai tanda hormat atau apresiasi atas keberhasilannya dalam membangun kehidupan hingga mendapatkan jabaan penting itu. Pada saat dinyatakan menang dalam pemilihan dan dilantik, maka mereka tidak diketahui kekurangan atau bahkan keburukannya, kecuali oleh kompetitornya. Namun setelah memegang jabatan, karakter baiknya berubah menjadi buruk, berani korupsi.

Gambaran tentang perubahan karakter yang demikian itu tidak saja dialami oleh orang-orang tertentu, melainkan bisa menimpa terhadap semua orang di banyak kalangan. Dahulu ada Ketua KPK yang dikenal sangat tegas di dalam memberantas korupsi, namun ternyata sekarang ini juga telah diputus oleh pengadilan sebagai orang yang telah melakukan kesalahan, hingga pada saat ini, ia masih dipenjara. Hal yang sama juga dialami oleh oknum pejabat tinggi di kepolisian, kejaksaan, pimpinan MK, pimpinan partai politik, dan lain-lain. Demikian pula, juga pernah ada orang-orang yang menyatakan di hadapan publik tentang kebenciannya terhadap korupsi. Namun mereka itu pada saat sekarang ini juga sudah ada di dalam penjara, karena melakukan perbuatan korupsi.

Orang-orang yang mengalami nasip sial sebagaimana disebutkan itu hanyalah sebagai contoh. Hingga saat ini ada ratusan kepala daerah tingkat dua, belasan gubernur, anggota legislatif, hakim, jaksa, pimpinan BUMN, pimpinan Bank, polisi, anggota DPR, dan masih banyak lagi lainnya, ternyata juga bernasip sama, dipersalahkan telah melakukan tindak pidana korupsi. Orang-orang yang secara dhahir membenci korupsi, dan bahkan bertugas memberantas korupsi, ternyata dirinya sendiri juga menjalankannya. Oleh karena itu, menjadi lebih bijak kiranya, ketika tidak terlalu menyatakan diri sebagai orang bersih. Belajar dari kasus-kasus tersebut, ternyata bahkan petugas pemberantas korupsi pun juga ada yang melakukan perbuatan yang selama dibenci oleh banyak orang.

Dalam pespektif agama, hidup ini memang sebagai ujian. Seseorang dinyatakan lulus adalah tatkala ujian itu sudah selesai dan hasil pekerjaannya telah dikoreksi oleh Dzat Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui. Tidak mungkin proses ujian masih sedang berlangsung, namun seseorang peserta mengaku bahwa dirinya telah lulus. Tatkala seseorang masih hidup, maka sebenarnya ujian itu masih sedang berlangsung. Bisa jadi, suatu saat, dalam menjalani ujian hidup itu, seseorang yang semula berkarakter baik ternyata didatangi oleh makhluk yang sangat canggih menggodanya, akhirnya melakukan tindakan yang dibencinya sendiri itu.

Oleh karena itu cara yang tepat adalah, selalu memohon petunjuk kepada Dzat Yang Maha Pemberi Petunjuk, agar hidupnya selalu dipandu kepada jalan yang lurus dan benar. Berlebihan membenci orang tersesat bukanlah merupakan sikap arif. Sesama manusia menurut petunjuk agama dianjurkan agar saling menghormati, mengasihi, dan selalu mengingatkan tentang kebenaran, dan kesabaran.

Memperhatikan ajaran agama yang mulia itu, maka tidaklah bijak, tatkala masih sama-sama diuji dalam kehidupan ini, seseorang berani mengklaim bahwa dirinya telah lulus dan tidak punya salah. Lulus atau gagal itu akan ditentukan nanti tatkala ujian telah usai, yaitu ketika manusia telah kembali kepada-Nya. Semestinya disadari bahwa, iman yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang, sewaktu-waktu sangat mungkin berubah secara total, sehingga sesuatu yang semula sangat dibenci ternyata berubah total, menjadi kesenangannya, termasuk korupsi, misalnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up