Semangat Melakukan Perubahan Di Lingkungan PTAIN
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 20 Desember 2013 . in Dosen . 641 views

Beberapa tahun terakhir, semangat perubahan di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri tampak sedemikian besarnya. Perubahan yang dimaksudkan itu menyangkut berbagai aspek, di antaranya terkait pandangan keilmuan yang dikembangkan, kelembagaan, semangat kerja untuk mengejar prestasi, dan lain-lainnya. Perubahan pandangan keilmuan yang dimaksudkan itu cukup mendasar. Semula institusi lembaga pendidikan tinggi Islam yang dikelola oleh Kementerian Agama hanya mengembangkan jenis keilmuan yang terbatas, yaitu ilmu-ilmu agama. Sebutan ilmu agama yang dimaksud meliputi ilmu syari'ah, ushuluddin, tarbiyah, adab, dan dakwah. Pada perkembangannya kemudian, pandangan itu dianggap perlu dikaji kembali.

Penyebutan ilmu agama yang telah dibangun dan dikembangkan sejak bertahun-tahun itu, pada akhir-akhir ini dianggap kurang memadai, dan seharusnya dikembangkan secara luas dan komprehensif. Gerakan mereformulasi keilmuan agama dimaksud berhasil memunculkan konsep-konsep baru, misalnya integrasi dan interkoneksi keilmuan, islamisasi ilmu pengetahuan, kitab suci memandu ilmu , dan lain-lain. Masing-masing PTAIN, terutama yang sudah berubah menjadi UIN, mengembangkan kreatifitasnya sendiri-sendiri dalam mengembangkan paradigma keilmuannya. Akan tetapi di antara perbedaan paradigma yang dikembangkan itu, mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu ingin menangkap kebenaran dari dua sumber sekaligus, yaitu al Qur'an dan hadits sebagai sumber pokok ajaran Islam dan hasil-hasil kegiatan ilmiah.

Sebenarnya pemikiran untuk menggali ilmu pengetahuan dari dua sumber secara bersama-sama itu sudah terjadi sejak lama. Bahkan rumusan tujuan berdirinya perguruan tinggi Islam itu sendiri juga telah menggambarkan hal tersebut, yaitu ingin melahirkan ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Sebutan ulama menggambarkan orang yang memahami al Qur'an dan hadits, sementara sebutan intelektual adalah menggambarkan seseorang yang menggunakan akal budi dalam menggali kebenaran dengan melakukan penalaran logis, observasi, dan eksperimentasi. Usaha mencari kebenaran atau menggali ilmu dengan menggunakan dua jenis sumber sekaligus yang dimasudkan itu sebenarnya telah memiliki sandaran yang kuat, yaitu dari kitab suci al Qur'an dan hadits Nabi.

Sebagai buah semangat itu, maka sejak sepuluh tahun terakhir telah berhasil dilakukan perubahan kelembagaan beberapa STAIN dan IAIN menjadi UIN. Perubahan itu setelah berjalan beberapa lama, ternyata dirasakan oleh banyak kalangan sebagai langkah yang benar dan tepat oleh karena membawa hasil yang nyata. Di antara yang tampak dari hasil perubahan itu, bahwa para lulusan UIN, selain mampu memahami kitab suci al Qur'an dan Hadits Nabi juga memiliki wawasan pengetahuan yang digali dari kegiatan ilmiah. Lulusan Biologi, Fisika, Matematika, dan lain-lain dari UIN misalnya, selain memahami al Qur'an dan hadits juga menguasai disiplin ilmunya masing-masing. Bahkan pemahaman yang diperoleh dari dua sumber kebenaran yang berbeda itu berhasil dipadukan, sehingga muncullah konsep, misalnya integrasi dan interkoneksi, sebagaimana yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan orang di kalangan para ilmuwan muslim.

Perubahan STAIN dan IAIN menjadi UIN, selain menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan lebih sebagaimana dikemukakan di muka, juga menjadikan perguruan tinggi Islam dimaksud memiliki peluang semakin luas untuk membangun komunikasi dan jaringan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi lainnya. PTAIN dengan bentuk baru yaitu UIN, berhasil membangun citra, yaitu menjadi sama atau setara dengan perguruan tinggi pada umumnya. Hasil-hasil penelitian para dosen PTAIN bisa dikomunikasikan dengan hasil penelitian para dosen atau peneliti dari manapun. Hal yang mengesankan lagi, dengan perubahan itu sementara orang menyebut bahwa perguruan tingi Islam bukan lagi membahas atau menyiapkan kehidupan akherat kelak, melainkan juga kehidupan di dunia. Bahkan, hasil-hasil penelitian para dosen dan mahasiswa UIN, ternyata berhasil mengantarkan pada kesimpulan bahwa mengenal Tuhan tidak hanya bisa ditempuh melalui kajian tauhid, melainkan juga dari kajian terhadap alam semesta. Mengkaji fisika, kimia, biologi, psikologi, manakala dilakukan dengan pendekatan yang tepat, akan mengantarkan seseorang pada puncak ketauhidan atau keimanannya.

Selain itu, perubahan kelembagaan STAIN dan IAIN menjadi UIN yang secara singkat digambarkan itu, ternyata berhasil menumbuhkan keinginan dan semangat bagi PTAIN lainnya untuk melakukan hal sama. Semua IAIN dan STAIN sekarang ini, umpama mendapatkan peluang berubah, mereka pasti secara cepat akan melakukan perubahan. Semua PTAIN pada saat sekarang ini ingin mengembangkan keilmuan secara padu antara ayat-ayat qawliyah dan ayat kawniyah, atau dalam bahasa yang lebih populer adalah keilmuan Islam integraif dan interkoneksi, inklusifitas keilmuan, integrasi ilmu-ilmu, atau Islamisasi Ilmu pengetahuan, dan atau lainnya. Bahkan perubahan kelembagaan itu tidak saja diinginkan oleh PTAIN, melainkan juga oleh perguruan tinggi agama Kristen, Hindu, dan Budha. Mereka datang ke UIN untuk studi banding, sebagai persiapan untuk melakukan perubahan yang sama, yaitu mengubah kelembagaannya atas tuntutan pemaknaan agama yang semakin dinamis dan luas.

Gejala itu sebenarnya sangat positif dan menguntungkan bagi upaya membangun peradaban bangsa ini ke depan. Perubahan perguruan tinggi berbasis agama menjadi bentuk universitas akan memberi peluang pada umat dan khususnya para tokohnya, agar mampu menangkap ajaran agamanya secara lebih komprehensif dan mendalam. Sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila, maka keberadaan dan kualitas perguruan tinggi berbasis agama menjadi sangat penting. Negara dan bangsa yang menempatkan agama pada posisi strategis, yaitu sebagai landasan berbangsa dan bernegara tidak akan meraih hasil sempurna manakala masing-masing agama tidak dipahami oleh pemeluknya secara luas dan mendalam. Oleh karena itu, kehadiran lembaga pendidikan tinggi dimaksud adalah merupakan keniscayaan dan seharusnya mendapatkan perhatian pemerintah sepenuhnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up