Semangat Muslim Bima Mengembangkan Lembaga Pendidikan Islam
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 16 Desember 2013 . in Dosen . 1968 views

Pada hari Ahad, tanggal 14 Desember 2013, saya menghadiri undangan panitia persiapan pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Bima, Nusa TenggaraBarat. Untuk datang ke kota yang baru pertama kali saya kunjungi itu, saya mengajak Dr.H. Suaib H Muhammad, dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang kebetulan kelahiran kabupaten yang kaya laut dan sekaligus juga memiliki banyak gunung itu. Sudah menjadi kebiasaan, tatkala menghadiri undangan ke berbagai daerah, saya mengajak dosen atau pegawai UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang kebetulan berasal dari daerah yang dimaksud.

Menurut sejarahnya, Kabupaten Bima pernah memiliki Perguruan Tinggi Islam Negeri, yaitu Fakultas Syari'ah Cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya. Akan tetapi, karena terbentur oleh peraturan, akhirnya ditutup begitu saja, tanpa mempertimbangkan keuntungannya bagi masyarakat Islam di wilayah itu. Namun demikian, semangat anak-anak muda masyarakat Bima untuk mencari ilmu tetap tinggi. Mereka pergi ke pulau Jawa, atau ke tempat lain untuk kuliah ke perguruan tinggi agama Islam. Hal itu dapat diketahui dari banyaknya mahasiswa asal Bima yang kuliah di Surabaya, Malang, Yogya, Jakarta, Makasar, dan lain-lain.

Ternyata juga banyak mahasiswa asal Bima yang berprestasi dan kemudian muncul sebagai tokoh di kota-kota besar. Menyebut beberapa di antaranya, almarhum Prof. Affan Ghafar, guru besar UGM, Marwan Saridjo, mantan Sekjen Kementerian Agama, Prof. Tieb Raya, Guru Besar UIN jakarta, Prof. Agus Suman, Guru Besar UB, dan masih banyak lagi lainnya. Dulu di IAIN Malang, ada dosen yang sangat mahir dalam Bahasa Arab, yaitu Drs. H. Abubakar Muhammad. Para mahasiswa, di luar jam kuliah, belajar bahasa Arab di rumah dosen yang berasal dari Bima ini. Siapapun mengakui terhadap kemampuannya dalam Bahasa Arab. Beliau juga menyusun banyak buku, baik yang terkait dengan Bahasa Arab maupun ilmu pengetahuan agama. Pak Abubakar Muhammad sangat dikenal oleh para mahasiswa dan masyarakat kota Malang atas kelebihannya itu. Sekarang ini, Dr. H. Suaib H Muhammad, dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga berasal dari Bima.

Sebagai buah dari semangat mencari ilmu itu, maka pada saat ini, Kabupaten Bima telah memiliki banyak sarjana, baik S1, S2 dan bahkan ada yang S3. Selain itu, dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh panitia persiapan pendirian Perguruan Tinggi Islam di kabupaten itu, saya mendapatkan informasi, bahwa pada saat sekarang ini, ada empat orang asal Bima yang kuliah S3 di Perancis, dan belum lagi di negara lain atau di dalam negeri sendiri. Bersekolah bagi orang Bima sudah dianggap sebagai tuntutan. Oleh karena itu, sekalipun tidak dibiayai oleh pemerintah, orang tuanya sendiri akan membiayasi sendiri sekolah anak-anaknya, meskipun dilihat dari kekuatan ekonominya, mereka sebenarnya belum tergolong berlebih.

Selain itu, bukti adanya semangat terhadap pengembangan pendidikan Islam, masyarakat Bima yang didukung oleh pemerintah setempat telah berkali-kali merencanakan pendirian perguruan tinggi Islam yang berstatus negeri. Namun hingga sampai saat ini, usaha itu belum berhasil terwujud. Baru-baru ini, beberapa anak-anak muda yang kebetulan telah menjadi dosen di Mataram dan juga ditempat lain, bersama-sama para lulusan S2 dan juga S3 yang masih belum terikat dengan pekerjaan tertentu, bergabung dalam sebuah panitia persiapan pendirian perguruan tinggi Islam negeri dimaksud. Mereka menyusun proposal dan berbagai hal lainnya yang diperlukan. Saya menyaksikan sendiri, semangat anak-anak muda lulusan dari beberapa perguruan tinggi di luar Bima itu luar biasa besarnya.

Rupanya semangat anak-anak muda tersebut juga mendapat dukungan dari generasi tua, yaitu para tokoh dan ulama masyarakat Bima. Sebagai bukti, ketika panitia persiapan pendirian perguruan tingi Islam Negeri itu melaporkan bahwa rencana itu masih terkendala oleh ketersediaan lahan untuk membangun kampus, maka secara spontan ternyata ada salah seorang tokoh Bima yang bersedia mencukupinya. Ia akan menghibahkan tanahnya yang diperlukan, sekitar 10 Ha. , atau bahkan lebih. Seorang tokoh itu adalah Dr. Siti Maryam Salahuddin, pensiunan dosen UI, yang sekarang memilih bertempat tinggal di Bima.

Dalam kesempatan berdialog dengan panitia persiapan pendirian Perguruan inggi Agama Islam Negeri di Bima yang juga dihadiri oleh para tokoh dan ulama Bima itu, saya menyampaikan pandangan bahwa hendaknya kampus perguruan tinggi Islam yang direncanakan akan didirikan jangan bersifat konvensional. Perguruan tinggi Islam itu harus berlandaskan pada petunjuk dan nilai-nilai al Qur'an dan hadits nabi. Usaha yang didasarkan pada kitab suci itu harus berorientasi untuk memenuhi kebutuhan, bermanfaat, dan mampu memakmurkan masyarakat, baik lahir dan batin. Perguruan tinggi Islam di kabupaten Bima itu harus berani membuat terobosan baru, misalnya, mengubah gunung-gunung yang secara ekonomi tidak banyak menghasilkan sesutu menjadi kebun-kebun kurma yang hasilnya bisa dieksport ke negara-negara Timur Tengah. Saya mendapatkan infoermasi bahwa jenis buah-buahan yang disebut di dalam al Qur'an ternyata bisa ditanam di semua tempat dan daerah, apapun iklim dan jenis tanahnya.

Selain itu, keberadaan perguruan tinggi Islam di Bima juga semestinya diarahkan untuk ikut menyelesaikan persoalan bangsa. Misalnya, jika sementara ini daging sapi saja harus import, maka ke depan kebutuhan daging harus bisa dipenuhi dari wilayah Pulau Sumbawa itu. Begitu pula kebutuhan lainnya, seperti bawang, sayuran, ikan, dan lain-lain. Manakala perguruan tinggi Islam negeri yang direncanakan itu mampu menjawab persoalan besar seperti tersebut itu, maka kehadirannya tidak saja ditunggu oleh masyarakat Bima sendiri, melainkan juga oleh bangsa ini secara keseluruhan. Saya optimis, manakala proyek dimaksud ditangani secara sungguh-sungguh dan serius, maka akan membuahkan hasil yang luar biasa. Prestasi anak-anak Bima sebenarnya sudah berhasil ditunjukkan lewat lahirnya para tokoh nasional yang berasal dari pulau berukuran kecil di bagian timur Indonesia ini. Tentu prestasi dimaksud harus dilanjutkan oleh generasi ke generasi berikutnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up