Kemarin sore, hari Rabu, tanggal 18 Desember 2013, saya berbicara dengan Pak Marwan Saridjo, mantan Sekretaris Jendral Kementerian Agama lewat HP. Pada kesempatan itu, saya ingin menyampaikan informasi tentang kunjungan saya beberapa waktu yang lalu ke Kabupaten Bima. Mengabari Pak Marwan Saridjo, saya rasakan penting, oleh karena beliau adalah seorang kelahiran Bima dan saya lihat keberadaannya masih sangat ditokohkan.
Lewat komunikasi melalui tilpun itu, ternyata beliau berada di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, sedang menunggu pesawat ke Denpasar dalam rangka menghadiri acara di pulau Dewata, dan selanjutnya menurut rencana, perjalanannya itu akan diteruskan ke Bima. Pak Marwan Saridjo akan datang ke Bima untuk menghadiri undangan rapat persiapan usulan pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di kota itu.
Sekalipun hanya lewat tilpun, saya menyampaikan secara panjang lebar kunjungan saya ke kota kelahirannya itu. Saya sampaikan bahwa pada hari Senin, tanggal 16 Desember 2013, oleh karena kesehatan Bupatinya terganggu, saya hanya ditemui oleh Wakil Bupati Bima. Setelah pertemuan itu kemudian diteruskan dialog dengan para tokoh, ulama, dan para aktivies, termasuk Dr.H. Suaeb H. Muhammad, seorang kelahiran Bima yang menjadi dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, untuk mempersiapkan berdirinya perguruan tinggi Islam negeri dimaksud.
Kepada Pak Marwan Saridjo saya sampaikan bahwa, saya telah memberikan pandangan bahwa perguruan tinggi Islam negeri yang dirancang harus berbeda dari IAIN atau STAIN di Indonesia. Perguruan tinggi Islam negeri di Bima harus menghasilkan pemikiran dan juga lulusan yang mampu memberi andil untuk memajukan, memakmurkan, dan mensejahterakan masyarakat Bima baik lahir maupun batin secara keseluruhan. Saya katakan kepada para peserta dialog itu bahwa sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam nantinya harus mampu mengejawantahkan pesan-pesan al Qur'an dan hadits Nabi secara nyata di tengah-tengah masyarakat.
Selanjutnya saya mengemukakan bahwa, al Qur'an telah berhasil digunakan oleh Nabi Muhammad saw., untuk mengubah masyarakat Madinah dan sekitarnya menjadi lebih maju, adil, makmur, sejahtera, dan beradab. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad telah menjadi kekuatan pengubah yang luar biasa. Perubahan itu tidak hanya pada aspek ritual yang berpusat di masjid, melainkan juga menyentuh semua aspek kehidupan yang menyeluruh, mulai dari penyadaran terhadap pentingnya ilmu pengetahuan, peningkatan kualitas manusia, tatanan kehidupan sosial yang adil makmur dan beradab, dan selalu bekerja profesional atau beramal shaleh.
Selain itu juga saya katakan bahwa, nantinya pendekatan pendidikan yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Islam Negeri Bima harus mengikuti petunjuk al Qur'an dan hadits Nabi. Pendidikan dalam al Qur'an bukan sebatas berupa pemberian ilmu pengetahuan, melainkan lebih luas dari itu. Mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw., bahwa tugas seorang guru atau dosen dalam pendidikan Islam, harus meliputi kegiatan yang lebih luas dan mendalam, yaitu berupa mengajak para peserta didiknya untuk membaca jagad raya, mensucikan jiwa dan raga, mengajarkan isi kitab suci, hingga menunjukkan dan sekaligus melatih berperilaku arif atau hikmah.
Selama ini, pendidikan hanya dimaknai secara sederhana, yaitu proses penyampaian ilmu pengetahuan. Para peserta didik hanya diajari menulis, membaca, berhitung, IPA, IPS dan humaniora. Memang pengetahuan itu sangat penting dikuasai oleh peserta didik. Akan tetapi, tugas-tugas pendidikan, --------menurut al Qur'an, sebagaimana yang dicontohkan sendiri oleh Nabi Muhammad, tidak sebatas itu. Pendidikan menurut utusan Allah itu, menyangkut hal yang lebih luas, yaitu menumbuh-kembangkan semua aspek dalam diri manusia, mulai dari aspek kecerdasan, hati atau jiwa, hingga kecakapan dan kekuatan fisiknya. Di dalam kitab suci itu secara jelas disebutkan bahwa pendidik harus mengajak untuk bertilawah, tazkiyah, taklimul al Qur'an, dan hikmah.
Sekalipun komunikasi itu hanya lewat HP, saya menyampaikan pandangan bahwa, hendaknya perguruan tinggi Islam Negeri di Bima mampu mengajak masyarakat untuk mengubah keadaan, hingga menjadikan Indonesia Timur semakin makmur. Misalnya, tanah pegunungan yang luas, yang sementara ini belum menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, maka dengan kekuatan perguruan tinggi Islam negeri dimaksud, harus diubah menjadi kebun kurma yang berkualitas buahnya. Saya menyampaikan informasi yang saya peroleh bahwa, berbagai jenis buah yang disebut dalam al Qur'an seperti kurma, buat tien, zaitun dan lain-lain bersifat universal. Artinya, tanaman dimaksud mampu tumbuh dan berbuah di semua jenis tanah dan iklim. Oleh karena itu, lulusan Perguruan Tinggi Islam Negeri Bima harus bisa menggerakkan masyarakat untuk membuktikan konsep dimaksud.
Selanjutnya di bidang peternakan misalnya, bahwa selama ini rakyat Bima sudah terbiasa dengan beternak sapi. Namun oleh karena usaha itu belum dikelola secara profesional dan modern, maka hasilnya belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia. Oleh karena keterbatasan hasil ternak itu, maka bangsa ini masih mengimport daging dari Australia, New Zelan, dan lain-lain. Ke depan dengan berdirinya perguruan tinggi Islam negeri di Bima, sekedar mencukupi kebutuhan daging secara nasional, harus bisa ditanggulangi dari Bima dan pulau-pulau di Indonesia timur itu.
Visi dan Misi pendidikan Islam seperti digambarkan itulah yang sebenarnya diperlukan dan ditunggu-tunggu, tidak saja oleh masyarakat Bima tetapi juga oleh bangsa Indonesia secara keseluruhan yang mayoritas muslim. Tentu pengembangan keilmuan seperti digambarkan itu tidak boleh meninggalkan aspek penting dari kehidupan manusia, yaitu spiritual dan akhlak. Saya sampaikan kepada Pak Marwan Saridjo bahwa, Insya Allah pendidikan Islam yang demikian itu akan mampu melahirkan kekuatan untuk mengubah keadaan hingga menjadi lebih baik dan penuh berkah. Wallahu a'lam



