Dalam sebuah diskusi kecil yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan al Hikmah Surabaya, saya ditanya oleh peserta tentang hambatan selama ini yang menyebabkan para guru tidak berkembang maksimal. Disebutkan oleh penanya itu bahwa tidak banyak guru yang semakin bertambah usianya, juga semakin matang kemampuannya, baik dari aspek keilmuan, profesionalitas, maupun juga lainnya. Banyak guru semakin tua, menunjukkan wajah kelelahan.
Menjawab pertanyaan dalam diskusi yang diselenggarakan pada tanggal 4 Januari 2014 itu, saya mengatakan bahwa tampaknya yang belum dimiliki oleh para guru adalah kebebasan dalam menunaikan tugas-tugasnya sehari-hari. Kesejahteraan mereka pada akhir-akhir ini melalui program serifikasi sudah semakin membaik. Begitu pula penambahan pengetahuan dan wawasan, dengan mudah mereka peroleh melalui program-program peningkatan mutu guru yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui kegiatan seminar, dialog, penataran, dan lain-lain.
Namun demikian, para guru, menurut hemat saya, masih membutuhkan suasana bebas. Kebebasan itulah yang akan melahirkan kreativitas, semangat untuk mencari yang terbaik, dan bahkan juga semangat berubah dan maju. Guru bukan seperti pegawai dan apalagi buruh. Kedua jenis pekerja yang dibutkan terakhir ini, yang lebih banyak dimanfaatkan adalah aspek fisiknya. Berbeda dengan pegawai dan buruh, yang diperlukan dari guru adalah kekuatan intelektual dan spiritnya. Sementara itu, kedua kekuatan itu akan tumbuih secara leluasa manakala berada dalam suasana bebas, terbuka, dan ada peluang-peluang untuk mengembangkan keberaniannya.
Selama ini yang banyak dirasakan bahwa, guru bagaikan pegawai atau buruh. Untuk melaksanakan tugasnya, banyak sekali aturan, tata tertib, pedoman, dan lain-lain yang harus diikuti. Memenuhi tuntutan birokrasi sekolah dirasakan lebih rumit dan jauh melelahkan dibanding melaksanakan tugas mengajar atau mendidik para siswanya. Dan, celakanya ukuran prestasi guru justru dilihat dari ketaatannya dalam memenuhi aturan birokrasi sekolah, dan bukan sejauh mana mereka berhasil menjadikan para siswanya semakin kreatif, berani dan memiliki pikiran-pikiran cerdas.
Akhirnya, guru bukan saja merasa sebagai pegawai atau bahkan buruh saja, melainkan juga bagaikan orang yang terpenjara, yaitru dipenjara oleh peraturan yang diberlakukan di sekolah. Sekalipun jabatan guru dipersyaratkan harus lulusan sarjana atau S1, tetapi mereka tidak terlalu diberi otoritas untuk mengajarkan ilmunya. Apa yang harus diajarkan dan bahkan cara mengajarnya ditentukan oleh pemerintah pusat. Bahan ajar atau buku-buku teks diberikan oleh pemerintah. Akibatnya, guru tidak memiliki kebebasan untuk berkreasi. Mereka seolah-olah hanya sebatas menjadi juru bicara pengarang buku teks yang digunakan untuk mengajar di klasnya.
Seharusnya guru memiliki kebebasan untuk memilih bahan ajar atau bahkan membuatnya sendiri, dan apalagi sekedar cara mengajarkannya. Guru yang pengangkatannya sudah memenuhi persyaratan, baik yang terkait dengan penguasaan ilmu maupun paedagogiknya, seharusnya diberi peluang seluas-luasnya untuk berkreasi. Dengan demikian, pengajaran di klas akan menjadi terasa segar dan menarik. Guru akan mengajar tentang apa yang dimiliki dan dikuasainya sendiri. Mereka tidak menyampaikan sesuatu yang baru saja diperoleh dari orang lain, atau dari membaca buku secara sepintas, dan apalagi dari apa yang didengar dari penataran yang baru saja diikuti.
Manakala apa yang digambarkan itu yang benar-benar terjadi, maka bisa dipastikan hasil pendidikan tidak akan bermutu. Pendidikan dan pengajaran akan berjalan secara formal, birokratis, kaku, dan akhirnya membosankan. Proses seperti itu, tidak saja dirasakan sebagai hal yang melelahkan oleh para guru, tetapi juga oleh para siswa. Itulah sebabnya, ketika para siswa dinyatakan lulus ujian nasional, mereka segera mengekspresikan kegembiraannya dengan beramai-ramai melakukan konvoi dan mencorat-coret baju seragamnya, persis seperti orang bebas dari penjara atau ayam keluar dari sangkarnya. Itu semua menunjukkan bahwa lembaga pendidikan belum menjadi tempat yang menjadikan siapa saja betah di dalamnya, melainkan justru sebaliknya, ada suasana keterpaksaan.
Oleh karena itu, yang diperlukan oleh para guru adalah suasana bebas, terbuka, dan kemungkinan untuk menumbuhkan keberaniannya. Manakala kebutuhan itu terpenuhi, maka guru akan merasa senang, bangga menjadi guru, dan mencintai profesinya. Berbekalkan kebebasan itu pula, guru akan menjadi semakin kreatif, dan tumbuh dari dalam dirinya keinginan berpreatasi, dan bertanggung jawab, sehingga prestasi guru akan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Sebaliknya, manakala hal-hal seperti itu tidak ditumbuh-kembangkan, maka guru akan kelihatan lelah dan semakin cepat tua. Wallahu a'lam.



