Banyak orang kebingungan tatkala harus memecahkan persoalan pengangguran. Semakin lama, lapangan pekerjaan semakin terbatas. Keadaan semacam itu menjadikan orang tidak mudah mendapatkan pekerjaan. Berebut mencari kerja menjadi hal biasa. Bahkan oleh karena sulitnya mendapatkan pekerjaan di dalam negeri, banyak orang pergi ke luar negeri mencari pekerjaan. Problem penganguran selalu menghantui banyak orang.
Dulu orang beranggapan bahwa seseorang yang lulus dari perguruan tinggi segera memperoleh pekerjaan, dan bahkan diharapkan berhasil menciptakan lapangan kerja. Akan tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Akhir-akhir ini dikeluhkan banyak sarjana menganggur dan bahkan semakin besar jumlahnya. Harapan agar para sarjana mampu menciptakan lapangan kerja juga masih menjadi angan-angan belaka. Kalau pun ada jumlahnya juga belum seberapa.
Gambaran sebaliknya dengan lulusan perguruan tinggi, adalah alumni pesantren. Para santri pesantren tidak pernah mengeluhkan atau mengkhawatirkan tidak akan memperoleh pekerjaan setelah selesai belajarnya. Bahwa tanda lulus pesantren tidak akan bisa dijadikan syarat masuk menjadi pegawai negeri, dan pekerjaan formal lainnya adalah sudah diketahui jauh sebelumnya. Oleh karena itu, mereka siap bekerja apa saja yang memungkinkan untuk mendapatkan rezki yang halal.
Tanpa berbicara tentang teori-teori kewirausahaan, saya menemukan kyai yang secara nyata telah mengajarkan tentang bagaimana mengembangkan usaha ekonomi setelah santrinya keluar dari pesantren. Para santri selalu diajar hidup mandiri. Mereka diajari bagaimana hidup sehari-hari, mulai dari harus belajar ilmu yang diwajibkan, kemandirian, termasuk bagaimana bekerja sehari-hari di lingkungan pesantren. Itulah sebabnya, para santri memiliki ciri khas kemandiarian, termasuk dalam usaha ekonomi.
Menurut pandangan kyai, mengembangan ekonomi itu tidak sulit. Asalkan seseorang mau bekerja, ulet, dan mampu berkomunikasi dengan orang lain, maka sekedar mengembangkan usaha ekonomi tidak sulit, baik di bidang perdagangan, pertanian, kerajinan, perikanan, dan lain-lain. Kyai dimaksud mampu menunjukkan, ada beberapa orang santrinya yang berhasil mengembangkan usaha hingga omsetnya pada setiap bulan mencapai ratusan juta rupiah. Hal yang menarik, sekalipun sibuk mengurus ekonomi, mereka itu masih peduli pada pendidikan agama, mendirikan pesantren, misalnya.
Kyai juga menjelaskan bahwa sepengetahuannya tidak ada santrinya yang sepulang dari pesantren kemudian menganggur. Jiwa kemandirian yang diperoleh dari kehidupan pesantren tumbuh. Sejak awal tatkala memilih pendidikan pesantren, mereka sudah siap untuk mandiri dan tidak akan melamar menjadi buruh, atau pun juga PNS. Para alumni pesantren sudah memiliki jiwa atau mental mandiri dan bahkan sebagian dari mereka yang dipikirkan adalah justru ingin mengajarkan pengetahuan yang dimiliki di tengah-tengah masyarakat.
Selain itu, kyai juga menjelaskan bahwa tidak pernah mendengar ada santrinya sepulang dari pesantren menjadi pengangguran, mengeluh oleh karena tidak memiliki pekerjaan, dan seterusnya. Yang ia dengarkan justru sebaliknya, tidak lama pulang dari pesantren, santrinya sudah mampu merintis lembaga pendidikan dan sekaligus membuka usaha ekonomi. Bagi mereka yang tidak memiliki modal, pada tahap awal, usahanya itu dimulai dari ukuran kecil-kecilan. Namun tidak begitu lama, bermodalkan keuletan, kejujuran, dan kesungguhan, maka usahanya semakin maju.
Hal-hal sederhana seperti yang dilakukan oleh kyai dimaksud, kiranya bisa dijadikan pelajaran, bagaimana mengatasi persoalan terkait semakin banyaknya jumlah pengangguran. Kyai, secara sederhana dan tanpa berteori yang rumit, secara langsung telah memberikan contoh nyata. Kepada para santrinya, kyai telah membangun jiwa kemandirian, bekerja secara ulet, dan berani menjalani hidup, apapun tantangannya. Wallahu a'lam.



