Di mana-mana perseteruan, dan bahkan konflik bisa saja terjadi, baik pada skala kecil atau pun juga besar. Perseteruan juga bisa disebabkan oleh persoalan politik, ekonomi, hukum, agama, budaya, dan bahkan juga terkait psikologis. Kadangkala perseteruan atau konflik berlangsung lama, tetapi manakala segera ditemukan cara penyelesaiannya yang tepat, maka sekalipun sebenarnya itu berat, tetapi bisa diakhiri secepatnya.
Pada tanggal 13 Januari 2014, saya menghadiri undangan ceraman di Cepu. Oleh karena, pelaksanaannya pagi, saya harus menginap semalam sebelum acara itu dilaksanakan. Di tengah perjalanan dari Malang ke Cepu, saya ditilpun oleh Bupati Bojonegoro, menanyakan tentang posisi saya di mana. Saya katakan bahwa, saya sedang dalam perjalanan ke Cepu. Mendengar informasi itu, Bupati meminta agar saya menginap di kediamnnya saja. Ke Cepu dari Bojonegoro, katanya hanya sekitar 45 menit saja, sehingga pagi saya bisa berangkat dari Bojonegoro. Saran itu saya setujui, saya bermalam di kediaman Bupati Bojonegoro, yang dulu pernah menjadi mahasiswa saya.
Sesampai di rumah dinas Bupati, saya lihat di temat itu ada persiapan akan diselenggarakan acara, dengan meghadirkan banyak orang. Dugaan saya ternyata betul. Setelah shalat isya', beberapa tamu mulai datang. Tanpa saya duga sebelumnya, saya oleh bupati diajak hadir dalam pertemuan itu. Dalam kesempatan itu, bupati sendiri yang memimpin pertemuan tanpa ada pemandu atau pemimpin acara. Secara singkat, Bupati memperkenalkan saya kepada semua yang hadir, dan menjelaskan bahwa kegiatan tersebut hanya akan diisi dengan menyanyi bersama dan makan malam. Bupati juga mengatakan bahwa, setelah acara inti, yaitu makan malam dan bernyanyi bersama, saya akan dipersilahkan untuk berceramah singkat.
Setelah acara menyanyi dan makan malam bersama, saya diupersilahkan untuk berceramah singkat. Oleh karena, saya lihat yang datang adalah dari kalangan yang berbeda-beda, misalnya ada yang mewakili ulama, pejabat, dan tiak sedikit yang berasal dari ethnis China, maka saya menguraikan tentang betapa pentingnya persatuan harus dibangun secara kokoh. Dalam kesempatan itu, saya menjelaskan tentang buku yang baru saja saya baca. Dalam buku dimaksud mensitir tulisan seorang sastrawan Inggris bernama Mother Shipton yang hidup pada sekitar tahun 1488-1561. Tulisan itu sangat menarik terkait dengan imajinasinya di masa depan.
Shipton menulis secara singkat, bahwa pada zamannya nanti akan datang suatu masa di mana manusia mampu berterbangan bagaikan burung, kala itu juga manusia bisa berjalan-jalan di bawah air laut bagaikan ikan. Selanjutnya, akan terjadi pula gambar-gambar manusia dan pemandangan bisa bergerak, dan para wanita-wanita akan meninggalkan pakaian khasnya, mereka berganti dengan pakaian laki-laki. Wanita-wanita tidak mau lagi mengenakan konde, mereka akan berjalan gagah berani. Saya sampaikan kepada yang hadir sekitar 50 orang undangan itu, bahwa ramalan Mother Shipton rasanya sudah terjadi semua dan bisa kita saksikan bersama dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, saya katakan bahwa masih ada satu lagi imajinasi Shipton yang belum terjadi, yaitu bahwa pada saatnya nanti manusia berkelompok-kelompok dan mempertahankan atas kebenarannya masing-masing tanpa mau menghargai pandangan orang lain. Pada saat yang semikian itu, akan rawan terjadi konflik dan bahkan peperangan hingga terjadi banjir darah dan akibat kejadian yang mengerikan itu manusia tinggal separo. Tentu ramalan terakhir ini sangat mengerikan bersama. Oleh karena itu, saya sampaikan bahwa, pertemuan yang dihadiri oleh berbagai kalangan yang tidak mengenal batas-batas etnis, agama, tingkat ekonomi, dan lain-lain seperti ini akan memperlambat terjadinya apa yang diimajinasikan oleh seorang sastrawan Inggris yang hidup 600 tahun yang lalu itu.
Selesai acara pertemuan itu, Bupati Bojonegoro, menjelaskan kepada saya, bahwa di antara orang-orang yang hadir tersebut ada yang sedang terlibat konflik. Orang nomor satu di kabupaten itu menjelaskan bahwa cara yang paling gampang untuk menyelesaikan perseteruan, dan menurut pengalamannya banyak berhasil, adalah lewat sederhana, yaitu mengajak mereka bernyanyi dan makan bersama. Dalam acara itu tidak perlu berbicara tentang persoalan konflik dan apalagi mencari siapa yang benar dan sebaliknya yang salah, tetapi mereka cukup diajak makan dan bernyanyi bersama. Mas Suyoto, Bupati Bojonegoro juga mengatakan bahwa, sekalipun saya tidak tahu maksud acara itu yang sebenarnya, ternyata isi ceramah saya dianggap sangat relevan dengan kegiatan itu. Itulah cara mudah dan murah menyelasaikan perselisihan pada tingkat masyarakat yang tidak begitu luas dan tatkala konflik masih bisa dikendalikan. Wallahu a'lam.



