Fenomena Penyederhanaan Makna Kepemimpinan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 30 Januari 2014 . in Dosen . 1018 views

Setiap komunitas pasti ada pihak-pihak yang melakukan peran kepemimpinan. Posisi pemimpin itu menjadi sangat penting, strategis, dan menentukan. Sekelompok orang, organisasi, institusi hingga ukuran yang besar seperti sebuah negara ditentukan oleh pemimpinnya. Manakala memiliki pemimpin yang berkualitas dalam berbagai aspeknya, maka komunitas itu akan maju. Bisa dipastikan keadaan komunitas mencerminkan kualitas pemimpinnya. Masyarakat yang maju, dinamis, dan banyak inovasi, pasti disebabkan oleh kualitas pemimpinnya yang hebat,. Dan, demikian pula sebaliknya.

Posisi pemimpin sedemikian strategis dan menentukan oleh karena keberadaannya menjadi kekuatan yang mampu menghidupkan jiwa yang dipimpinnya, pemberi semangat, penunjuk arah, menumbuhkan cita-cita, menghilangkan rasa takut atau khawatir, menjadi penjelas, menghilangkan rintangan, menumbuhkan rasa bangga, dan seterusnya. Diumpamakan mobil, maka pemimpin selain sebagai pengemudi juga sekaligus sebagai accu. Sebagai pengemudi, yang bersangkutan menguasai mobilnya, mengetahui arah, dan bahkan juga memiliki berbagai alternatif jalan yang seharusnya dipilih agar waktu tempuhnya lebih singkat dan para penumpangnya merasa lebih aman. Pengendara mobil yang dikemudikan oleh sopir yang tidak kreatif, sehingga hanya asal jalan, dan apalagi suka mengeluh, lari dari tanggung jawab, maka para penumpangnya akan gelisah dan bahkan juga menggerutu.

Sedemikian luas, komprehensif, dan strategis peran-peran pemimpin yang sebenarnya. Akan tetapi pada akhir-akhir ini, pemimpin hanya dituntut untuk menjalankan tugas-tugas terbatas dan sederhana. Pemimpin hanya diharapkan menjadi pelayan bagi mereka yang dipimpinnya. Tatkala memilih pemimpin, sebagian masyarakat hanya membuat kriteria yang terlalu sederhana, yaitu sebatas sebagai pelayan masyarakat. Akibatnya, tatkala mereka memilih pemimpin, hanya mencari orang yang mampu mengatasi banjir, kemacetan di jalan, memperluas lapangan kerja, menyelesaikan perumahan kumuh, pasar yang semrawut, dan semacamnya. Persoalan dimaksud itu bukannya tidak penting diselesaikan oleh pemimpin. Akan tetapi dalam kehidupan ini ada lagi persoalan yang lebih mendasar yang seharusnya diselesiakannya. Sebagaimana dikemukakan dimuka, bahwa pemimpin harus mampu menumbuhkan rasa bangga, mencintai terhadap negaranya, mampu menumbuhkan jiwa, menjadi inspirator dan sumber kreatifitas, bahkan mampu mendorong mereka yang dipimpin memiliki kepercayaan diri yang kuat sehingga bersemangat memperoleh kemenangan di berbagai pentas kehidupan yang lebih luas.

Gambaran keliru dari sementara pihak terhadap pemimpin yang dianggap ideal akan menjadikan masyarakat tidak memiliki pemimpin yang sebenarnya. Pemimpin yang diperolehnya itu, hanya terjebak pada tugas atau peran-peran teknis. Seorang wali kota, bupati, atau gubernur misalnya, hanya digegeri soal banjir, gorong-gorong tersumbat, jalan macet, anak putus sekolah, besarnya pungutan sekolah dan seterusnya. Harapan terhadap sosok pemimpin sedemikian sederhana. Manakala ada wali kota atau gubernur mau masuk gorong-gorong, maka dianggap hebat. Padahal kehebatan pemimpin adalah tatkala yang bersangkutan mampu menjadikan semua rakyatnya merasa diperlakukan secara sama dan adil, tidak ada diskriminasi, mereka mampu melihat masa depan yang lebih cerah, merasa aman dan dihormati, dan hidup ini serba menyenangkan. Keberadaan pemimpin juga harus menjadi inspirator dan kekuatan penggerak agar menjadi semakin maju dan dinamis.

Sebagai seorang pemimpin bangsa, wilayah atau daerah, seharusnya tidak terlalu tenggelam pada urusan teknis. Pekerjaan di wilayah teknis, seharusnya diserahkan kepada bagian-bagian yang bertanggung jawab. Dalam pemerintahan misalnya, terdapat bagian yang mengurusi bidang pendidikan, keamanan dan kebersihan kota, bagian perhubungan, perumahan, bidang ekonomi, penyaluran tenaga kerja, dan lain-lain. Sosok pemimpin hendaknya mampu menjadi kekuatan agar semua bagian itu melakukan peran-perannya masing-masing secara maksimal. Manakala ada bagian jalan yang selalu macet, maka bagian dinas perhubungan yang ditugasi dan dimintai tanggung jawabnya. Manakala dalam waktu tertentu, seorang kepala bagian teknis tidak mampu menyelesaikan tugasnya, maka pimpinan berhak mengganti. Atau dalam contoh lainnya, tatkala prestasi bejalar di lembaga pendidikan di wilayahnya tidak membanggakan, maka segera mengevaluasi, dan selanjutnya memerintahkan agar mengambil langkah-langkah strategis. Manakala usaha itu gagal, maka segera mengambil langkah untuk mengganti pejabat itu. Itulah pemimpin sebagai penggerak, dan sekaligus juga menjadi pelayan masyarakat yang sebenarnya.

Bangsa ini pernah memiliki pemimpin yang mampu melakukan peran-peran kepemimpinan yang sebenarnya dan bahkan sedemikian hebatnya. Ir. H. Soekarno, presiden pertama republik Indonesia adalah orang yang disebutkan itu. Ia memiliki kemampuan untuk menjadikan bangsa ini merdeka, memiliki harga diri, dan menjadikan rakyat sangat mencintai negara dan bangsanya. Presiden pertama ini mampu menghidupkan dan menggerakkan hati dan jiwa rakyatnya. Atas keberanian dan jiwa besarnya, Ir.H.Soekarno berani membuat tiga poros kota di dunia, yaitu Jakarta, Peking, dan Moskow. Ir.H. Soekarno pada tahun 1955 berani menyelenggarakan konferensi Asia afrika. Sebagai buah proyek besarnya itu menjadikan bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang masih dijajah oleh negara lain menjadi bangkit dan berjuang untuk merdeka. Ia juga menyerukan untuk keluar dari PBB. Pikiran-pikiran pemimpin bangsa yang baru saja bangkit dan merdeka ini menjadikan seluruh bangsa Indonesia merasa bangga dan seakan-akan sudah menjadi bangsa besar, sejajar dengan bangsa-bangsa besar lainnya di dunia.

Pemimpin yang memiliki kemampuan sebagai penggerak dan menumbuhkan kepercayaan diri, bangga, dan mencintai bangsa dan negaranya seperti Ir. Soekarno hingga sekian lama belum muncul kembali. Bahkan yang disebut pemimpin hanya sebatas orang yang akan sanggup menyelesaikan pekerjaan teknis, seperti menangani panjir, kemacetan, perbaikan rumah kumuh, dan sejenisnya. Pandangan tentang pemimpin ideal yang hanya mampu menyelesaikan persoalan teknis seperti itu juga akhirnya menjadikan ukuran kehebatan seorang pemimpin menjadi sederhana. Misalnya, pemimpin itu adalah orang yang mau blusukan, melihat-lihat gorong-gorong yang buntu, mau naik perahu karet tatkala sedang banjir, dan sejenisnya. Antara pemimpiin sebagai sosok manusia paripurna disamakan dengan orang yang sebatas mampu menyelesaikan tugas-tugas teknis. Sekalipun begitu, tidak berarti bahwa tugas teknis tidak penting, adalah masih tetap perlu. Tetapi konsep pemimpin yang disebut ideal, dan apalagi pemimpin bangsa, harus mampu melihat masyarakat dan bangsanya secara utuh, menyeluruh, dan komprehensif, baik dari aspek filosofis, sejarah, sosiologis, politis, dan bahkan keberadaannya di tengah-tengah percaturan dan pergumulan bangsa-bangsa besar lainnya di dunia. Konsep pemimpin jangan sampai disederhanakan hanya sekedar orang yang mampu menangani banjir, perumahan kumuh, dan jalan macet. Sekalipun, semua itu, memang juga perlu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up