Siapapun mengatakan bahwa ilmu itu adalah penting sebagai bekal hidup. Sementara itu, ilmu harus dicari dari pemiliknya. Pemilik ilmu yang kemudian sehari-hari mengajarkannya itu disebut guru. Tidak semua guru berkualitas sama. Ada sementara guru dianggap hebat oleh karena kedalaman dan cara mengajarnya demikian sempurna. Tetapi juga ada guru yang disebut sebagai sedang-sedang saja. Mereka itu belum tergolong hebat tetapi juga tidak terlalu berkekurangan. Selain itu, masih ada jenis guru lainnya, yaitu guru yang masih berada pada fase berlatih. Kemampuan mereka, baik dari penguasaan ilmu maupun cara mengajarnya, masih belum dianggap cukup. Namun, oleh karena sehari-hari sudah dipercaya mengajar, maka mereka disebut guru.
Selain pembagian guru dari aspek kualitasnya, guru juga bisa dibedakan sesuai dengan jenis ilmu yang dikuasanya. Di pesantren misalnya, ada guru yang khusus mengajarkan Bahasa Arab, ilmu fiqh, ilmu tauhid, ilmu tarekh dan lain-lain. Di sekolah ada guru IPA, guru IPS, guru bahasa, gueu menyanyi, guru olah raga, guru filsafat dan masih banyak lagi jenisnya. Jenis guru itu lebih banyak lagi di perguruan tinggi. Seorang guru di perguruan tinggi disebut dengan istilah dosen. Hanya saja untuk dosen yang telah meraih prestasi akademik tertentu disebut dengan istilah guru besar. Jenis dan tingkatannya juga beraneka ragam. Ada dosen biologi, dosen fisika, dosen kimia, dosen ilmu pertanian, dosen ilmu peternakan, dosen ekonomi, dosen ilmu politik, dan lain-lain. Berbagai jenis ilmu itu bercabang dan beranting hingga bagian-bagian yang amat kecil, sehingga keahlian para dosen pun juga begitu, mengikuti cabang ilmu hingga sekecil-kecilnya itu.
Keahlian para guru dan dosen tumbuh sejalan dengan rentang waktu pengalaman yang dilalui. Semakin senior seorang guru atau dosen, maka ilmunya akan bertambah. Para guru dan juga dosen selalu membaca buku, majalah, jurnal hasil penelitian, yang semua itu pada setiap saat bertambah dan berkembang. Selain itu para guru dan juga dosen dituntut untuk melakukan penelitian, penulisan buku, mengikuti seminar, diskusi dan lain-lain. Semua kegiatan itu mengantarkan mereka menjadi kaya ilmu dan wawasan di bidangnya masing-masing. Memang ada saja guru atau dosen yang kurang aktif mengikuti kegiatan ilmiah sebagai mana disebutkan itu, akan tetapi interaksinya dengan para koleganya di sekolah atau di kampus, sedikit-banyak akan menambah pengetahuan mereka itu.
Memperhatikan pertumbuhan kemampuan para guru dan dosen sebagaimana dikemukakan di muka, maka baik di sekolah maupun di kampus-kampus dikenal guru atau dosen dengan latar belakang keilmuan yang berbeda-beda. Sementara guru disebut berkeahlian ilmu-ilmu alam, seperti biologi, fisika, kimia, matematika, teknik, informatika, dan sejenisnya. Sementara yang lain dikenal mahir dalam ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, psikologi, sejarah, antropologi, filsafat, bahasa, seni, olah raga, dan lain-lain. Para guru atau dosen telah memiliki keahlian yang berbeda-beda. Keahlian itu, tidak bisa dengan serta merta diubah atau diganti dalam waktu singkat. Seorang yang berkeahlian sebagai guru matematika, tugasnya tidak mudah diubah menjadi guru menyanyi atau olah raga, kecuali yang bersangkutan telah memiliki bakat menyanyi atau olah raga.
Selama ini, orang telah sepakat, bahwa belajar harus kepada para ahlinya. Pandangan seperti itu juga telah berkembang di dunia pesantren sejak zaman dulu. Sewaktu masih kecil, bertempat tinggal di pedesaan, saya masih ingat perbincangan tentang bagaimana seharusnya memilih guru atau kyai. Seseorang yang menginginkan mahir di bidang Bahasa Arab, maka dianjurkan agar belajar ke pesantren lirboyo Kediri. Di pesantren itu dikenal ada Kyai Machrus yang sangat mahir di bidang tata Bahasa Arab. Banyak santri, sepulang dari Lirboyo, pengetahuan Bahasa Arabnya sangat bagus. Demikian pula, bagi calon santri yang ingin mendalami ilmu tasawwuf, maka dianjurkan pergi ke Pasuruan atau ke Bangkalan. Di Pasuruan terdapat Kyai Abdul Hamid, sedangkan di Bangkalan terdapat Kyai Cholil. Kedua kyai dimaksud dikenbal sebagai alim di bidang ilmu tasawwuf. Sedangkan bagi para calon santri yang ingin mendalami ilmu fiqh, maka dianjurkan pergi ke pondok Pesantren Asem Bagus, Situbondo. Pesantren itu diasuh oleh KH As'ad Syamsul Arifin. Beliau menurut informasi dikenal sangat ahli di bidang ilmu fiqh. Pemilihan kyai atau pesantren seperti itu, alasannya bukan bersifat teknis, misalnya, berjarak dekat dengan kampung halamannya, tetapi atas dasar keinginan untuk memperoleh ilmu yang mendalam.
Lembaga pendidikan, apapaun tingkatannya, di zaman modern seperti sekarang ini semestinya memperhatikan keahlian para guru atau dosen. Pemilihan guru yang tidak tepat akan sama halnya belajar kepada orang yang tidak berkeahlian. Para guru atau dosen bisa saja mengajar ilmu di luar kemampuannya, tetapi hasilnya tidak akan maksimal. Mereka hanya akan mengajar atas dasar buku pegangan atau literatur yang dimiliki. Sementara itu pengetahuannya sendiri masih belum mencukupi, dan apalagi penghayatannya. Itulah sebabnya di dunia Islam, seseorang bangga sekali menyebutkan nama-nama guru besar yang pernah mengajarkannya. Penyebutan itu bukan sebatas sebagai bentuk kebanggaan, melainkan tersirat bahwa ilmu yang dikuasainya diperoleh dari guru-guru yang hebat-hebat.
Memperhatikan gambaran tentang peran guru atau dosen yang sedemikian strategis itu, maka di dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup ditempuh dengan cara mengubah kurikulum. Boleh-boleh saja kurikulum diubah pada setiap saat, akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah meningkatkan kualitas gurunya. Pendidikan di Indonesia yang dirasakan kurang berkualitas adalah bisa jadi disebabkan oleh ketersediaan guru atau dosen yang kurang berkualitas. Sudah sekian lama, nasip guru dan dosen kurang mendapatkan perhatian. Gaji mereka yang rendah mengakibatkan usaha-usaha untuk meningkatkan diri seperti mengikuti seminar, membeli buku, melakukan penelitian, mendapatkan jurnal ilmiah dan lain-lain terpaksa tidak bisa dilakukan. Mereka hanya mencukupkan apa adanya. Di tengah-tengah suasana serba berkekurangan itu, bagi mereka yang terpenting adalah telah menjalankan tugas. Keterbatasan itu melahirkan kultur atau budaya bekerja seadanya, yang jauh dari tuntutan mutu sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat sekarang ini. Begitulah tidak sederhananya, meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini. Akan tetapi apapun, belajar ilmu harus dari orang yang memiliki ilmu dan bukan sebatas dari orang yang baru saja membaca buku yang akan diajarkannya. Wallahu a'lam.



