Kearifan Masyarakat Di Pedesaan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 24 Januari 2014 . in Dosen . 2403 views

Ketenangan hidup sehari-hari bagi orang yang berada di pedesaan dianggap sedemikian penting. Ketengan itu melebihi segala lainya. Oleh karena itu, di pedesaan dikenal ada sopan santun, norma, nilai, dan adat istiadat yang harus dipatuhi dan diikuti oleh semua pihak. Sebagai bagian dari sopan santun itu misalnya, siapapun harus menghormat kepada siapa saja yang lebih tua umurnya. Orang tua dan juga guru harus dihormati.

Bagi orang desa kekayaan juga dianggap penting. Akan tetapi, kekayaan tidak boleh mengalahkan hal-hal prinsip yang harus dipegang teguh. Seseorang, sekalipun secara ekonomi disebut miskin, asalkan yang bersangkutan dalam struktur keluarga dianggap lebih tua, maka siapapun harus menghormatinya. Hal yang sama diperlakukan kepada guru, siapapun harus menghormati. Sekedar kaya, kekayaannya tidak boleh mengalahkan posisi sebagai orang tua dan atau juga guru.

Hal-hal penting atau prinsip, dalam kehidupan bersama, biasanya hanya dibicarakan di antara mereka yang dianggap tua. Anak-anak atau orang yang dianggap belum cukup umur tidak diikutkan dalam membicarakan sesuatu yang dianggap penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Biasanya, di pedesaan, ada orang-orang terpilih atas dasar kriteria umur dan kedudukannya dalam keluarga. Mereka yang telah berumur dianggap telah menyandang kearifan. Persoalan kehidupan tidak cukup diselesaikan hanya dengan berbekalkan akal atau rasio, melainkan harus dengan sikap arif.

Berbeda dengan tradisi yang berlaku di pedesaan tersebut, pada zaman sekarang ini sudah sangat bebas dan terbuka. Siapapun boleh membicarakan apa saja. Pada saat sekarang ini, orang menyebut sebagai zaman terbuka, bebas, dan berdemokrasi. Semua orang dianggap memiliki posisi yang sama. Perilaku orang seolah-olah tidak lagi diukur dari sopan santun, nilai-nilai, norma, atau adat istiadat, melainkan oleh keinginan, kemauan, dan atau kehendak bebas. Sopan santun seolah-olah dianggap usang, atau kuno yang harus ditinggalkan.

Di zaman terbuka dan bebas seperti sekarang ini, seolah-olah siapa saja boleh mengemukakan pendapatnya, dan bahkan tidak ada halangan memaksa kehendaknya. Manakala kehendak atau keinginan sudah dimiliki oleh beberapa orang tetapi tidak bisa dipenuhi, maka ditempuh lewat unjuk rasa atau disebut berdemo bersama-sama. Dalam berunjuk rasa, seseorang atau sekelompok orang merasa boleh mengatakan apa saja, menghujat, termasuk menyakiti perasaan orang lain. Sopan santun, tatakrama, unggah-ungguh, dan semacamnya, sudah hilang pada saat unjuk rasa itu.

Suasana sebagaimana digambarkan tersebut, ternyata membuat banyak orang tua, para pejabat pemerintah, dan apalagi di kalangan pendidik, hingga menteri pendidikan dan kebudayaan, merasa gelisah. Pendidikan karakter yang pada akhir-akhir ini diberikan penguatan lebih dan bahkan lahirnya kurikulum 2013, adalah di antaranya untuk merespon keadaan masyarakat yang sudah semakin terbuka hingga kehilangan norma-norma, nilai, kesantunan, dan sejenisnya itu. Selalu diingatkan bahwa, manusia boleh kehilangan apa saja, asalkan bukan karakternya.

Oleh karena itu, kearifan orang pedesaan yang selalu menjaga norma, nilai, sopan santun, dan adat istiadat sebagaimana digambarkan di muka, pada saat seperti sekarang ini, menunjukkan keunggulannya dalam membangun kehidupan yang tentram dan damai. Masyarakat yang dipenuhi oleh suasana berebut, serba transaksional, dan apalagi penuh dengan nuansa kapitalis dalam berbagai lapangan kehidupan akan melahirkan kegelisahan dan kekecewaan. Suasana konflik, adu domba, saling menjatuhkan, bidik membidik yang selalu mewarnai kehidupan pada akhir-akhir ini, menggambarkan bahwa nilai-nilai, norma-norma, dan adat istiadat, dan apalagi ajaran agama sudah semakin ditinggalkan.

Islam mengajarkan tentang akhlak mulia. Dalam Islam, kehidupan antar sesama harus diwarnai oleh suasana saling mengenal, saling memahami, menghargai, menghormati, menjalin kasih sayang, dan seharusnya saling bertolong menolong. Ternyata, ajaran yang mulia seperti itu, dalam batas-batas tertentu, justru lebih mudah ditemukan dalam kehidupan di pedesaan. Kearifan lebih dikedepankan dari pada kekuatan rasionalnya. Itulah yang menjadikan kehidupan di pedesaan lebih manusiawi. Islam sebenarnya mengajarkan nilai-nilai luhur dan mulia itu. Oleh karena itu, tatkala banyak orang mengalami kegelisahan dalam menghadapi kehidupan akhir-akhir ini, maka jalan keluarnya adalah seharusnya kembali pada ajaran agama yang menjunjung tinggi kearifan itu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up