Lewat Pendidikan Seharusnya Mengajak Siswa Mengenal Tuhan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 9 Januari 2014 . in Dosen . 3184 views

Mengenal Tuhan adalah merupakan keharusan bagi setiap orang. Orang yang tidak mengenal dan mempercayai adanya Tuhan disebut atheis. Orang atheis merasa bahwa keberadaan dirinya dan juga makhluk lainnya adalah terjadi dengan sendirinya. Keberadaan dirinya dianggap sebagai peristiwa yang seharusnya terjadi dan merupakan sesuatu yang harus ada. Tidak ada kekuatan hingga menjadikan dirinya ada.

Orang-orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan membangun teori yang disebut dengan teori evolusi. Teori itu mengatakan bahwa semua benda hidup mengalami evolusi. Sepanjang waktu, mereka mengikuti seleksi alam, berusaha untuk mempertahankan keberadaannya dan juga melakukan penyempurnaan diri. Semakin lama, maka baik bentuk maupun kualitasnya semakin bertambah baik. Proses evolusi itu dialami, baik oleh hewan, tumbuh-tumbuhan, dan bahkan juga manusia.

Orang beragama tidak berpandangan seperti orang atheis itu. Bahwa manusia itu ada, oleh karena ada yang menciptakan, mengadakan, dan menghidupkan dan bahkan menumbuh kembangkan. Informasi tentang siapa yang menciptakan semua yang ada, termasuk manusia, dijelaskan di dalam kitab suci. Bagi umat Islam, kitab suci itu adalah al Qur'an, yakni kitab yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, melalui Malaikat Jibril, sebagai petunjuk bagi manusia.

Bersumber dari kitab suci itu, berbagai pengetahuan yang tidak akan mungkin diperoleh manusia melalui cara apapun diterangkan oleh al Qur'an. Misalnya, pengetahuan tentang penciptaan manusia pertama dan sejarah kerasulan, baik tentang nama-namanya maupun jumlahnya. Lewat al Qur'an pula diperoleh pengetahuan tentang akan adanya hari akhir, hari pembalasan, surga dan neraka, nama-nama malaikat, dan makhluk lainnya seperti jin, syaithan, dan bahkan juga keadaan alam, seperti langit lapis tujuh, dan sebagainya.

Selain itu, banyak pula hal-hal lain yang tidak mungkin diketahui oleh manusia termasuk tentang dirinya sendiri diterangkan oleh al Qur'an. Kitab suci al Qur'an menjelaskan tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta. Konsep tentang keberadaan Tuhan, sekalipun terbatas, diterangkan di dalam al Qur'an. Dengan bukti-bukti berupa makhluk yang ada, manusia dibawa pada keyakinan terhadap adanya Tuhan itu. Bahkan untuk mengetahui tentang Tuhan, usaha-usaha itu bisa dilakukan manusia dari mengetahui tentang dirinya sendiri.

Selain itu, Tuhan juga memerintahkan manusia agar menggali ilmu pengetahuan tentang jagad raya yang sangat luas, komplek, dan bahkan rumit itu, melalui observasi secara cermat. Manusia dianjurkan untuk merenungkan, memikirkan, dan mengobservasi ciptaan Allah. Orang yang sanggup, di antaranya, melakukan tugas itu disebut sebagai manusia ideal. Sebutan ulul albaab diberikan kepada orang, yang di antaranya, selalu memikirkan penciptaan langit dan bumi.

Pada saat sekarang ini, para siswa di sekolah atau mahasiswa di kampus-kampus diberi kegiatan mengkaji dan mengobservasi ciptaan Allah itu, dalam bentuk kegiatan belajar biologi, fisika, kimia, matematika, sosiologi, psikologi, sejarah, bahasa dan sastra, dan lain-lain. Persoalannya adalah, apakah mereka tahu bahwa kegiatan yang dilakukan sehari-hari itu sebenarnya adalah merupakan implementasi dari perintah al Qur'an. Atau dalam bahasa yang lebih sederhana, apakah mereka mengetahui bahwa kegiatan belajar fisika, kimia, biologi, sosiologi, dan lain-lain itu sebenarnya merupakan bagian dari menjalankan perintah Islam.

Bisa jadi, mereka belajar sains hanya sekedar memenuhi ketentuan sekolah atau kampusnya, sehingga kiranya ada sementara orang yang memandang bahwa, yang terpenting, berbagai jenis ilmu itu harus dipelajari. Mereka belajar biologi, fisika, kimia, sosiologi, dan lain-lain oleh karena diwajibkan oleh sekolah. Para siswa atau mahasiswa merasa harus menempuh pelajaran itu agar dinyatakan lulus dan memperoleh ijazah. Tanpa ijazah, siapapun tidak akan bisa meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya atau melamar pekerjaan. Itulah sebabnya, ketentuan itu harus diikuti dan dijalani.

Padahal sebenarnya, pelajaran sains adalah merupakan jalan untuk mengetahui tentang eksistensi Tuhan, termasuk di dalamnya adalah tentang keberadaan dirinya sendiri. Melalui belajar fisika, kimia, biologi, sosiologi, psikologi, sejarah dan lain-lain, maka seseorang akan mengetahui keberadaan diri sendiri yang sebenarnya. Para guru semestinya memiliki kemampuan untuk mengarahkan kepada para siswanya agar beroriantasi seperti itu. Dengan demikian, belajar sains seharusnya dipandang sebagai sebuah proses yang harus dilalui untuk mengenal Tuhannya.

Oleh karena itu, agar proses mempelajari sains itu sampai pada tujuan akhir yang sebenarnya, maka selain harus mendapat bimbingan dari para guru yang bersangkutan, juga harus berorientasi atau berniat secara tepat. Kegiatan melakukan kajian terhadap sains yang merupakan implementasi dari perintah membaca di dalam al Qur'an itu seharusnya diawali dengan menyebut nama Allah. Tatkala manusia membaca dan atau mengkaji alam semesta ini, bukan untuk sombong, merusak atau berbuat aniaya, melainkan adalah sebuah proses yang harus dilalui untuk mengenal Tuhan.

Akhirnya, manakala siswa di sekolah atau di kampus dalam mempelajari sains berorientasi seperti yang digambarkan tersebut, maka tidak akan ada lagi dikotomi ilmu pengetahuan, yaitu adanya ilmu agama dan ilmu umum. Sumber ilmu adalah satu ialah dari Tuhan. Selain itu, dengan mempelajari sains--------biologi, fisika, kimia, sosiologi, psikologi, sejarah dan lain-lain, maka para siswa akan berhasil mengenal Tuhan. Itulah puncak dari tujuan pendidikan dan menggali ilmu pengetahuan yang sebenarnya . Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up