Mencintai Sesama
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 29 Januari 2014 . in Dosen . 60363 views

Islam mengajarkan agar sesama manusia saling menjalin kasih sayang dan atau mencintai. Dalam sebuah hadits nabi dikatakan bahwa, tidak sempurna iman seseorang hingga yang bersangkutan sanggup mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Seseorang tidak akan mungkin mau dirinya susah, menderita, menanggung kerugian, dan apalagi celaka. Begitu pula, sebagai bentuk kecintaan terhadap sesama, semestinya orang lain pun tidak boleh menanggung perasaan yang ia sendiri membencinya itu.

Ajaran yang sedemikian mulia itu, ternyata belum selalu ditangkap oleh umatnya. Seseorang telah mengaku sebagai seorang muslim dan beriman, tetapi perilaku sehari-harinya tatkala bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain ternyata belum menunjukkan sifat yang mulia itu. Mereka telah mengucapkan dua kalimah syahadah, dan juga menjalankan shalat secara tertib, akan tetapi sifat kasih sayang kepada sesama, dan bahkan pada kalangan terdekat sekalipun belum mampu ditampakkan.

Atas dasar kenyataan itu, maka seringkali muncul kritik atau bahkan juga autokritik dari kaum muslimin sendiri, mengapa keber-Islaman seseorang belum mampu melahirkan sikap-sikap mulia yang seharusnya dikembangkan itu. Dalam sebuah diskusi rutin yang pernah saya ikuti, yang pada kesempatan itu dihadiri oleh para cendekiawan muslim dari beberapa kampus, muncul seseorang yang memberikan kritik terhadap kehidupan kaum muslimin sedemikian tajamnya.

Ia (seorang yang melakukan autokritik itu) membandingkan kehidupan kaum muslimin dengan kehidupan di Barat. Dikatakan bahwa kehidupan di negara-negara maju itu sangat beradab. Ia mencontohkan bagaimana lingkungan dijaga kebersihannya, di pusat-pusat pelayanan umum orang tidak merasa diganggu, kualitas selalu dijaga, demikian pula kejujuran dan keadilan selalu dikedepankan. Mereka juga mampu bekerja secara profesional. Setelah menguraikan apa saja yang diamati di Barat, ia mengajak membandingkannya dengan apa yang tampak di masyarakat yang sehari-hari berbicara tentang Islam.

Saya menangkap, peserta diskusi yang melakukan autokritik terhadap kehidupan kaum muslimin dimaksud merasa kecewa. Ia melihat ada jarak yang sedemikian jauh antara idealitas ajaran Islam dengan perilaku sehari-hari yang ditampakkan oleh kaum muslimin sendiri. Dia mengatakan, orang barat atau negara-negara maju tanpa berbicara tentang Islam, akan tetapi sudah sangat Islami. Sementara orang yang sehari-hari membicarakan tentang keindahan Islam tetapi sehari-hari belum menampakkan perilaku Islami.

Kesenjangan antara keindahan ajaran dan perilaku sehari-hari dari umatnya tersebut sebenarnya bukan persoalan sederhana. Keindahan ajaran itu semestinya tergambar atau tampak pada kehidupan sehari-hari. Akan tetapi sayangnya, jarak itu masih tampak dan terasa secara jelas. Orang yang sehari-hari menjalankan shalat, puasa, dan bahkan juga haji, tetapi perilaku mereka belum sebagaimana yang diajarkan oleh ibadah shalat, puasa, dan haji. Kesenjangan itu masih tampak dan bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari di mana-mana.

Antar sesama semestinya saling mencintai, hormat menghormati, bekerjasama dalam menjalankan kebaikan, dan bertolong menolong. Nilai-nilai agung dan mulia itu ternyata belum selalu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Setelah shalat, berpuasa, dan ibadah haji lewat, maka seolah-olah nilai ajaran itu juga boleh dilewatkan. Padahal seharusnya, semua kegiatan ritual itu membekas dalam kehidupan sosialnya. Orang mengatakan kesalehan ritual seharusnya diikuti oleh kesalehan sosial dan bahkan juga kesalehan intelektual. Namun nyatanya, kesenjangan itu masih ada di mana-mana.

Kecintaan terhadap dirinya sendiri, hartanya, jabatannya, dan kedudukannya, ternyata belum berhasil diimbangi dengan kecintaannya terhadap sesama. Bahkan sebaliknya, sedemikian tinggi kecintaan terhadap hal-hal yang terkait dengan dirinya sendiri itu memunculkan kebenciannya terhadap orang lain. Orang lain dibenci oleh karena dianggap mengganggu, menjadi pesaing, dan keberadaannya tidak menguntungkan dirinya. Padahal, Islam mengajarkan sebaliknya. Antar sesama harus saling mengenal, memahami, menghargai, menjalin kasih sayang, dan saling tolong menolong dalam kebaikan.

Melihat kenyataan tersebut, sebagai seorang pendidik, kiranya merasakan ada pertanyaan mendasar, yaitu apa sebenarnya yang kurang tepat dari pendidikan Islam selama ini. Di sekolah para siswa sudah diajari ilmu tauhid, fiqh, tarekh, akhlak dan tasawwuf. Demikian pula di perguruan tinggi Islam dibuka fakultas syari'ah, fakultas ushuluddin, fakultas tarbiyah, fakultas dakwah, dan fakultas adab. Pertanyaannya adalah, apakah yang masih tersisa dari semua itu. Adakah nilai-nilai kemanusiaan yang bersumber dari kitab suci dan tauladan nabi yang sebenarnya amat penting tetapi masih belum tersampaikan.

Atas pertanyaan tersebut, saya mencoba menjawab secara sederhana, yaitu jangan-jangan kekurangan itu terletak pada hal yang mendasar. Yaitu misalnya, selama ini belum diajarkan tentang bagaimana Nabi Muhammad membangun peradaban masyarakat Madinah, yakni selalu mengedepankan kasih sayang dan mencintai antar sesama. Selain itu bahwa, mereka sudah diajari tentang shalat, zakat, puasa, haji, halal, haram, makruh, sunnah, dan mubah, tetapi belum ditanamkan jiwa bagaimana seharusnya umat Islam mengembangkan ilmu pengetahuan, menjadi manusia unggul, jujur dan adil, dan juga harus selalu bekerja secara profesional. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up