Menjadikan Orang Baik Tetap Baik
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 4 Januari 2014 . in Dosen . 752 views

Pada sekitar tahun 2009, ketika masa jabatan saya memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjelang berakhir, saya mendapatkan nasehat dari Dr.Muharram, agar saya tidak mau dicalonkan lagi periode berikutnya. Teman baik saya ini ketika itu sedang menjabat sebagai Kasubdit Pondok Pesantren Kementerian Agama di Jakarta. Pesan itu masih saya ingat, dia mengatakan bahwa, saya sudah cukup lama memimpin kampus itu, dan dianggapnya sudah cukup. Saran itu diberikan dengan sangat tulus, bukan karena ia tidak menyukai melihat saya memimpin kampus itu lagi, melainkan khawatir, jangan-jangan kalau terlalu lama, kepemimpinan saya berakhir dengan tidak baik.

Pak Muharram memberikan saran tersebut karena, ia melihat bahwa banyak pemimpin yang karena terlalu lama menjabat, sekalipun semula dianggap baik, ternyata akhirnya dicari kesalahannya dan kemudian dijatuhkan. Manakala tidak demikian, seorang pemimpin juga berpotensi melakukan kesalahan dan akhirnya jatuh. Artinya, banyak sebab kejatuhan seorang pemimpin, bisa jadi bersumber dari faktor dirinya sendiri atau oleh karena faktor orang lain. Padahal seorang pemimpin yang jatuh, biasanya segera ditinggalkan oleh kawan-kawannya. Pak Muharram, sebagai teman yang baik, tidak mau melihat kenyataan buruk itu menimpa diri saya.

Sebenarnya saya memahami nasehat itu. Akan tetapi teman-teman di kampus, ketika itu mendesak agar saya mau dicalonkan sebagai Rektor lagi, sekalipun pada saat itu, saya memimpin STAIN hingga berubah menjadi UIN Malang sudah tidak kurang dari 12 tahun. Pengalaman memimpin kampus yang sudah cukup lama itu belum lagi jika ditambah dengan keterlibatan saya memimpin Universitas Muhammadiyah Malang selama 20 tahun, sehingga total sudah 32 tahun. Kiranya hal itu bukan masa yang singkat.

Kekhawatiran Pak Muharram terhadap diri saya cukup banyak alasan. Ketika itu, beliau menunjukkan betapa baiknya Bung Karno, sebagai proklamator kemerdekaan, pejuang yang sedemikian gigih, pemimpin bangsa yang sebelumnya begitu dicintai oleh rakyatnya, tetapi ternyata, tanpa ampun masih dianggap melakukan kesalahan dan akhirnya dikucilkan hingga wafat. Sama pula dengan Pak Harto, pemimpin orde baru, yang semula dianggap sebagai penyelamat bangsa dari ancaman PKI, dan ketika menjadi presiden, banyak hal yang dilakukan sehingga beliau disebut sebagai Bapak Pembangunan yang amat dekat dengan rakyat, tetapi pada akhirnya ternyata, beliau dituntut mundur dan banyak sekali dihujat oleh lawan-lawan politiknya dan bahkan juga oleh rakyatnya sendiri.

Tidak kecuali lagi adalah Gus Dur. Beliau diangkat sebagai presiden RI yang ke empat. Sama halnya dengan Bung Karno dan Pak Harto, pada awalnya ia sangat dicintai, tetapi tidak lama memimpin, KH Abdurrahman Wahid diturunkan dari jabatannya. Contoh-contoh serupa itu, jumlahnya sedemikian banyak, apalagi pada level tingkat bawah, seperti gubernur, bupati, wali kota, camat, lurah, dan bahkan juga pemimpin perguruan tinggi atau seorang rektor. Pejabat yang dijatuhkan atau jatuh, pada umumnya tidak saja ditinggalkan oleh kawan atau simpatisannya, tetapi juga sekaligus dicaci dan bahkan dihujat secara berkepanjangan.

Belajar dari kasus-kasus para pemimpin yang jatuh tersebut, ternyata resiko yang harus ditanggung oleh mereka sedemikian berat. Pada awalnya, sebagaimana yang dialami oleh Bung Karno, Pak Harto, dan banyak lagi lainnya, atas dasar kecintaan terhadap bangsa dan negaranya, mereka harus berjuang dan sekaligus berkorban. Semula, mereka juga disebut sebagai orang baik, terhormat dan bahkan sangat dicintai oleh rakyatnya. Tetapi entah, kebaikannya itu dalam waktu sekejab bisa hilang total dan berubah menjadi kebencian yang luar biasa. Tatkala kebencian terhadap pemimpin itu sudah datang, maka seolah-olah kebaikannya hilang sama sekali, dan tidak ada yang tersisa. Rasanya bangsa ini masih harus belajar lagi tentang keadilan terhadap pemimpinnya sendiri secara saksama.

Berperilaku adil dalam Islam adalah ajaran yang sangat fondamental dan harus ditunaikan kepada siapapun dan kapan pun. Keadilan tidak boleh dianggap sederhana, sehingga tidak boleh diabaikan. Di dalam al Qur'an juga disebutkan bahwa, kebaikan sekecil apapun akan dibalas dan begitu pula sebaliknya, kesalahan sekecil apapun akan mendapatkan balasan. Selain itu, di berbagai ayat, al Qur'an juga menjelaskan bahwa Allah memiliki sifat yang amat mulia, yaitu Maha Pengampun dan Maha Pengasih dan Penyayang. Atas dasar sifat-Nya yang mulia itu, Tuhan tidak sulit mengampuni kepada siapapun yang telah berbuat salah. Manakala ajaran yang datang dari Tuhan itu dijadikan pegangan, maka siapapun dalam memperlakukan terhadap para pemimpin, apapun tingkat atau levelnya, tidak akan berlebihan. Dengan cara berpikir dan berpandangan seperti itu, maka orang yang semula baik akan tetap baik. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up