Pelajaran Dari Burung Emprit Dalam Membangun Rumah Tangga
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 10 Januari 2014 . in Dosen . 4885 views

Suatu ketika, saya kedatangan tamu, seorang laki-laki, yang masih bujangan. Sebetulnya tamu dimaksud sudah cukup umur untuk menikah, dan juga sudah bekerja. Dengan demikian, andaikan ia masih khawatir terkait dengan kecukupan ekonomi untuk menunjang kehidupan keluarga, -------asalkan tidak berlebih-lebihan, sebenarnya juga sudah terjawab.

Namun pemuda tersebut rupanya masih belum berani mengambil keputusan untuk segera menikah. Dia mengaku akan membuat rumah terlebih dahulu sebelum berkeluarga. Laki-laki bujangan itu rupanya membayangkan, bahwa isterinya nanti akan berbahagia manakala telah disediakan rumah yang pantas.

Mendengar alasan itu, saya mengajaknya untuk belajar dari burung emprit yang ada di mana-mana ketika mereka akan menunaikan tugas-tugas berkembang biak. Burung berukuran kecil yang biasanya hidup berkelompok dan selalu menjadi musuh petani tatkala padi mereka sudah mulai berbuah, memberi pelajaran dengan jelas, baik yang bersifat positif dan sekaligus negatif dalam membangun keluarga.

Pelajaran yang bersifat positif misalnya, burung emprit tatkala waktunya berkembang biak, mereka mencari pasangan masing-masing. Sebelum bertelor setiap pasang burung, -----jantan dan betika, mencari rumput bersama-sama untuk dijadikan sangkar sebagai tempat bertelor. Tugas menyusun sangkar itu dibuatnya secara bersama-sama oleh sepasang burung itu. Antara burung laki-laki dan betina bekerjasama sampai sangkar yang dibuatnya benar-benar siap dijadikan tempat untuk bertelor.

Hingga telor mereka menetas dan anak-anak burung emprit memerlukan asuhan, kedua burung itu merawatnya secara bersama-sama. Sehari-hari burung-burung itu secara bersama-sama pula mencarikan makanan untuk anak-anaknya hingga mereka benar-benar mampu mandiri. Sedemikian besar dan mendalam kasih sayang dan kerjasama di antara dua burung empit dalam menunaikan tugas-tugas berkembang biak.

Kebersamaan dan kasih sayang di antara mereka adalah merupakan kata kunci yang dilakukan oleh burung emprit di dalam membangun kehidupan bersama. Bertolah dari pemandangan indah sepasang burung tersebut, saya mengajak kepada pemuda lajang itu, untuk melihat secara jernih contoh yang diberikan oleh Tuhan lewat makhluk berukuran kecil dan sederhana itu. Umpama kita berani meniru burung emprit itu, yaitu menikah maka rumah tangga juga tidak akan kacau hanya karena belum punya rumah, dan bahkan justru sebaliknya. Sepasang suami isteri, sejak awal telah bekerja bersama-sama membangun kasih sayang dan sekaligus berjuang membangun rumah yang akan ditempati bersama.

Umpama saja rumah yang ditempati bersama telah disediakan oleh suaminya dan sebaliknya isterinya tidak ikut andil apa-apa, maka bisa jadi, perasaan memiliki bersama tidak pernah dirasakan. Suami merasa telah memberi lebih, sementara isterinya hanya menjadi pihak yang diberi. Padahal kenikmatan dalam hidup, adalah manakala sama-sama bisa memberi dan juga sama-sama bisa menerima. Kebersamaan adalah kunci untuk mendapatkan kebahagiaan bersama. Itulah pelajaran positif dari burung emprit.

Sebaliknya pelajaran dari burung emprit yang tidak boleh ditiru adalah, tatkala sepasang burung tersebut telah menyelesaikan tugasnya dalam berkembang biak, artinya anak-anaknya sudah mandiri, maka mereka segera berpisah. Burung-burung itu sekalipun masih dalam satu kelompok yang sama, mereka sudah tidak menjalin hubungan kasih sayang lagi sebagaimana sebelumnya. Keduanya bercerai, dan ketika pada masanya akan bertelor lagi, maka bisa saja membangun pasangan berbeda dari sebelumnya. Manusia beradab tidak boleh meniru burung emprit, membangun kekeluargaan hanya sekedar untuk berkembang biak.

Dalam membangun keluarga, manusia sebagai makhluk yang beradab tidak boleh dijalankan secara sembarangan, misalnya bersifat musiman. Dalam membangun rumah tangga harus kokoh dan diharapkan berlangsung hingga akhir hayat. Sebagai sebuah keluarga ideal, maka harus menjadi pasangan hidup yang sakinah, mawaddah, warakhmah. Melalui lembaga keluarga itu pula, diharapkan lahir keturunan yang shaleh dan shalekhah, hingga meraih kebahagiaan sejati, penuh ridha, dan limpahan berkah dari Yang Maha Kuasa. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up