Pendidikan Guru TPQ
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 15 Januari 2014 . in Dosen . 3206 views

Di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah terdapat lembaga pendidikan yang unik, yakni pendidikan guru TPQ. Sepengetahuan saya, lembaga pendidikan seperti itu baru ada di Cepu itu. Di mana-mana, saya menemukan TPQ, tetapi bukan lembaga pendidikan yang mengajarkan bagaimana cara mengajar al Qur'an. Mungkin banyak orang beranggapan bahwa, siapa saja yang telah mahir membaca kitab suci, maka secara otomatis yang bersangkutan juga mampu mengajarkannya dengan baik.

Namun anggapan tersebut pada kenyataannya tidak semua benar. Banyak orang yang telah mahir membaca al Qur'an tetapi belum tentu sekaligus yang bersangkutan juga bisa mengajarkannya dengan sempurna. Ternyata ada ilmu tersendiri tentang bagaimana mengajarkan al Qur'an secara cepat dan tepat. Bahkan, sejak beberapa tahun lalu, telah banyak muncul buku-buku yang dikarang oleh beberapa orang tentang bagaimana metode mengajarkan membaca al Qur'an yang lebih cepat dan tepat itu.

Lembaga pendidikan guru TPQ yang telah beberapa tahun berhasil dikembangkan di Cepu, didirikan oleh beberapa orang tokoh setempat, dengan menggunakan dana dari Lembaga Pengelola Dana Umat (LPDU). Para calon guru TPQ dari beberapa daerah di sekitar Bojonegoro dan Blora, lewat lembaga itu, ditingkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Pendidikan guru TPQ yang tidak memungut biaya kepada para siswanya tersebut diselenggarakan selama satu tahun. Uniknya lagi, di akhir program diselenggarakan wisuda sebagaimana umumnya wisuda sarjana.

Dari wawancara dan juga membaca buku acuan pelaksanaan wisuda lulusan pendidikan Guru TPQ, saya mendapatkan informasi, bahwa lembaga itu lahir dari rasa keprihatinan atas kenyataan banyaknya anak usia sekolah yang belum mampu membaca kitab suci al Qur'an. Sementara itu, juga adanya kenyataan bahwa kualitas para guru TPQ sendiri masih banyak yang belum memiliki standar yang diperlukan sebagai seorang pengajar.

Dalam kesempatan memberikan ceramah di hadapan para wisudawan dan wisudawati lulusan pendidikan guru TPQ, saya melihat adanya semangat yang luar biasa untuk mengajarkan kitab suci al Qur'an. Padahal mereka itu, sebagai guru TPQ, tidak akan mendapatkan imbalan dari tugasnya itu, kecuali nilai pengabdian semata. Saya melihat bahwa, di dunia yang telah diwarnai oleh budaya materialisme, kapitalisme, dan hidonisme seperti sekarang ini, ternyata masih ada sekelompok orang yang masih bersedia berkhitmah untuk melayani pembelajaran al Qur'an.

Saya membayangkan umpama, apa yang dilakukan oleh Lembaga Pengelola Dana Umat (LPDU) di Cepu, Blora, juga dikembangkan di berbagai daerah lainnya, maka kekhawatiran akan lahirnya generasi buta al Qur'an di kalangan kaum muslimin sendiri akan terjawab. Persoalannya adalah bagaimana menggerakkan kegiatan itu secara masal. Maka diperlukan uluran tangan pemerintah, baik pusat maupun daerah, agar program yang sudah terbukti berjalan dan sangat besar manfaatnya itu juga tumbuh di tempat-tempat lain. Manakala al Qur'an telah menjadi sesuatu yang amat dihormati, dicintai, dan dijadikan pedoman berperilaku dalam kehidupan sehari-hari pada kalangan yang luas, maka bangsa ini akan segera meraih apa yang dicita-citakan, yaitu berperadaban unggul. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up