Semangat Mengagumi Orang Lain
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 18 Januari 2014 . in Dosen . 746 views

Dalam sebuah diskusi tentang bagaimana upaya menjadikan Islam sebagai kekuatan untuk membangun peradaban unggul, ada salah seorang peserta yang juga muslim berpandangan sangat pesimistis. Ia mengatakan bahwa pada kenyataanya negara-negara yang berpenduduk muslim tidak banyak yang berhasil mengalami kemajuan, dan justru sebaliknya. Atas dasar kenyataan itu, ia berpendapat bahwa Islam tidak selalu berhasil menjadi kekuatan perubahan masyarakat.

Pada kesempatan diskusi itu, saya kebetulan ditunjuk menjadi pembicara. Saya menyampaikan pandangan bahwa, andaikan Islam dipahami secara utuh dan dijadikan sebagai pedoman dalam menjalankan kehdupan ini, maka saya yakin Islam akan melahirkan masyarakat unggul sebagaimana yang dialami pada zaman Nabi tatkala membangun masyarakat Madinah. Ketika itu, saya menyampaikan bahwa Islam mendorong umatnya untuk memperkaya ilmu, meningkatkan kualitas diri, membangun tatanan sosial yang adil, menjalankan ritual untuk membangun spiritual, dan selalu menganjurkan umatnya agar bekerja secara profesional.

Apa yang saya sampaikan di forum diskusi itu, oleh seorang cendekiawan yang berpandangan pesimis itu, dikatakan akan sulit dipercaya oleh orang-orang yang tidak mengenal Islam. Mereka akan melihat sesuatu bukan dari nilai-nilai yang baik dan unggul itu, melainkan dari kenyataan yang dilihat sehari-hari. Sedangkan pada kenyataannya, banyak negara yang tidak mengenal Islam akan tetapi ilmu pengetahuan dan teknologinya justru sudah lebih maju terlebih dahulu, jauh meninggalkan negara-negara muslim.

Sebagai bukti bahwa negara-negara non muslim juga mampu membangun masyarakat yang beradab dan unggul, dia menceritakan bagaimana hebatnya kehidupan di negara-negara non muslim baik aspek ekonomi, ilmu pengetahuan, demokrasi, kesediaan menghormati orang lain, dan sebaginya. Ia menceritakan bahwa kampus-kampus di negara-negara non muslin didatangi oleh mahasiswa dari berbagai belahan dunia, dan bahkan orang muslim pun juga mengirimkan anak-anaknya ke perguruan tinggi di negara maju yang tidak mengenal Islam itu.

Cendekiawan muslim yang pesimis menjadikan Islam sebagai kekuatan penggerak kemajuan tersebut juga menyebutkan bagaimana kedisiplinan dan keteraturan sosial di masyarakat yang maju tersebut. Pengendara kendaraan di jalan sedemikian disiplin, aturan lalu lintas dipedomani secara baik, dan penyimpangan tidak banyak terjadi. Kesadaran hukum, termasuk berlalu lintas, bagi orang yang berada di negara maju sedemikian tinggi. Gambaran seperti itu sangat jauh di masyarakat muslim sendiri.

Dari uraiannya yang sedemikian panjang, ia hanya ingin menunjukkan bahwa bukan saja Islam yang mampu membangun peradaban maju dan unggul, melainkan juga masyarakat lainnya. Bahkan masyarakat lain, dalam soal kemajuan, sudah jauh meninggalkan masyarakat muslim. Oleh karena itu dikatakan olehnya, bahwa kaum muslimin masih memerlukan belajar dari mana saja, tidak terkecuali dari negara-negara non muslim.

Pada akhir diskusi itu, saya mengatakan bahwa semua apa yang dikemukakan oleh pembicara, termasuk dari yang masih pesimis itu, sangat penting dijadikan bahan renungan, bagaimana membangun tatanan kehidupan Islam yang semakin ideal. Pada kesempatan itu, saya menyampaikan bahwa pada tataran ideal memang Islam sedemikian unggul. Islam memperkenalkan tentang makna kehidupan ini secara luas dan menyeluruh. Banyak hal tentang kehidupan ini yang tidak pernah akan diketahui, kecuali melalui kitab suci dan ajaran dari Nabi-Nya. Banyak orang yang berhasil mengembangkan ilmu dan teknologi, ternyata juga gagal tatkala harus memahami dirinya sendiri, dan apalagi tentang Tuhannya.

Kehebatan masyarakat yang dibangun oleh Islam tidak sekedar menyangkut aspek-aspek yang tampak dan besifat dhahir, melainkan menyeluruh dan mendalam. Keselamatan dan kebahagiaan yang diajarkan oleh Islam, misalnya, bukan sebatas pada kehidupan di sini dan sekarang, atau di dunia ini, melinkan hingga di akherat kelak. Oleh karena itu, keberhasilan dalam hidup yang hanya dilihat dari aspek-aspek yang tampak, menurut perspektif Islam, tidak mencukupi.

Contoh lain, tentang makanan, tidak cukup hanya dilihat dari kadar protein dan atau gizinya, melainkan kehalalan, kebaikan, dan keberkahannya. Begitu pula tentang harta dan bahkan juga ilmu. Harta berjumlah banyak tetapi tidak halal, maka tidak boleh dikuasai. Demikian pula, dalam mencari ilmu harus memilih yang bermanfaat dan mampu mendekatkan dirinya pada Tuhan. Atas dasar pandangan itu, maka sebenarnya tidak perlu harus terlalu mengagumi kehebatan orang lain hanya dari ukuran sederhana. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up