Seorang teman mengajak bercanda, tetapi candaannya itu saya anggap terasa serius dan penting. Dia mengatakan bahwa sering melihat muballigh atau da'i tatkala berceramah, mereka mengepalkan tangannya bagaikan mengajak bertinju. Teman saya tersebut menambahkan, bukankah berdakwah itu seharusnya 'ngawe-awe' dan bukan sebaliknya, dengan mengepalkan tangan.
Pada kenyataannya memang banyak cara muballigh atau penceramah dalam berdakwah. Ada di antara mereka yang dalam menyampaikan isi pidatonya dengan nada tinggi, membakar bersemangat, dan bahkan tidak jarang juga dengan mengritik atau menyalahkan orang lain agar pendapatnya sendiri yang dianggap paling benar.
Cara berdakwah dengan cara seperti itu memang kadang menjadikan pendengarnya juga bersemangat, merasa menang, posisinya terbela, dan begitu sebaliknya, sementara yang lain kalah. Setelah mendengar ceramah itu, mereka merasa puas, bahwa apa yang diyakini dianggap semakin mendapatkan pembenaran, dan yang berlawanan dengan itu dianggap kalah. Maka dakwah seperti berkompetisi atau bahkan beradu, mencari siapa yang menang dan sebaliknya pihak lain kalah.
Muballig atau penceramah yang bergaya seperti itu tidak jarang justru disenangai oleh banyak orang. Mereka menganggap bahwa penceramahnya berani mengkritik atau menyalahkan siapapun. Menegakkan kebenaran harus tegas, termasuk ketika sedang berada di podium. Akan tetapi dengan cara seperti itu, sebenarnya ada juga ruginya. Orang yang tidak menyenangi kritik akan pergi meninggalkan tempat itu dan mereka tidak mau lagi mendengarkan ceramah seperti itu. Mereka tidak melawan tetapi meninggalkan ajakan itu.
Berbeda dengan mubaligh atau da'i yang keras, ada juga yang mengambil cara lembut. Mubaligh itu bagaikan seorang ibu 'mengawe-awe' anaknya dengan penuh kasih sayang. Mereka menjelaskan bahwa Islam itu adalah lembut, damai, penuh kasih sayang, mengajak orang agar suka menolong, menghargai dan menghormati orang lain. Ditunjukkan keagungan dan kemuliaan ajaran Islam.
Dalam isi ceramahnya, selalu menunjukkan bahwa Islam datang bukan menambah masalah atau beban, melainkan mengajak siapapun dalam menjalani hidup agar semakin mudah, damai, sesuatu yang ruwet menjadi terang, yang sulit menjadi mudah, yang menakutkan menjadi mendamaikan, yang berat menjadi ringan, dan seterusnya.
Mubaligh dimaksud menjelaskan bagimana Rasul misalnya tatkala sedang menghadapi orang yang sedang konflik, atau sedang tidak punya perjaan, orang miskin, atau juga tatkala dakwahnya diganggu orang. Kehadiran Nabi tidak menjadikan orang lain sebagai sasaran dakwah merasa disinggung dan apalagi disakiti hatinya. Kehadiran Islam akhirnya dipahami sebagai faktor pendamai dan menjadikan orang berakhlak mulia.
Mendengar canda teman dimaksud sebagaimana dikemukakan di muka, saya lantas teringat perbedaan antara kemenangan dalam bertinju dan kemenangan dalam berdakwah. Seorang petinju disebut menang manakala berhasil menjatuhkan dengan KO lawannya. Bahkan, kalau perlu, lawannya sekaligus mati, atau paling tidak, ia tidak berani menantangnya ulang.
Sementara itu, berdakwah dikatakan menang manakala orang-orang yang dijadikan sasaran dakwah menjadi semakin hidup, semakin maju, semakin pintar, dan semakin bahagia. Sehingga, muballigh atau da'i, semestinya 'mengawe-awe', dan bukan sebaliknya mengepalkan tangannya bagaikan seorang petinju. Wallahu a'lam.



