Dalam suatu perbincangan tentang bagaimana membangun masyarakat ideal sebagaimana nabi membangun masyarakat Madinah, salah seorang mengatakan bahwa, hal itu tidak mungkin. Ia beralasan, Nabi pada waktu itu mendapat petunjuk langsung dari Tuhan berupa wahyu. Sementara manusia biasa, seperti kita sekarang ini, tidak mendapatkan wahyu sebagaimana yang diperoleh oleh Rasul itu.
Pada saat sekarang ini, kita dalam membangun masyarakat hanya mendasarkan pada kekuatan nalar yang ditunjang oleh pengalaman yang tingkat kebenarannya hanya bersifat relatif. Oleh karena itu tidak mungkin manusia biasa menyamai nabi yang mendapatkan bimbingan dan petunjuk langsung dari Tuhan.
Secara sederhana, saya mencoba untuk menyanggah pendapat dimaksud. Saya mengatakan bahwa kita sekarang inipun sebenarnya juga telah mendapatkan wahyu dari Tuhan, berupa al Qur'an. Bahkan al Qur'an yang sekarang ini sudah tersusun secara sempurna. Dahulu pada saat Nabi membangun masyarakat Madinah, ayat-ayat al Qur'an belum seluruhnya turun. Kita ketahui bahwa, ayat al Qur'an turun secara bertahap. Sementara itu, al Qur'an yang kita miliki dan dapat kita baca sekarang ini sudah sempurna, dari awal hingga akhir.
Oleh karena itu sebenarnya, jika mau mengambil petunjuk dari al Qur'an, maka kitab suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., yang diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril, secara sempurna sudah dapat kita baca dan jadikan petunjuk dalam membangun masyarakat ideal yang kita inginkan. Artinya, bahwa pada saat sekarang inipun, kita bisa membangun masyarakat berdasarkan wahyu. Asalkan, kita mau mengambilnya.
Namun sayangnya, sekalipun al Qur'an diakui sebagai petunjuk dan pedoman hidup, teryata belum sepenuhnya diperkenalkan dan atau diajarkan kepada generasi muda atau para siswa di lembaga pendidikan, tidak terkecuali di lembaga pendidikan Islam. Sementara ini masih dianggap lazim, tatkala kaum muslimin sendiri belum memiliki pemahaman terhadap kitab sucinya sendiri. Tidak sedikit kaum muslimin yang masih asing terhadap al Qur'an dan juga hadits nabi, kecuali para siswa di lembaga pendidikan tertentu, pesantren misalnya.
Umpama saja, sejak pada tingkat awal di lembaga pendidikan sudah diajarkan tentang kitab suci, maka para siswa akan memiliki pemahaman secara utuh tentang agama yang diyakini kebenarannya. Sebaliknya, tidak terbayangkan bagaimana para siswa memahami agamanya secara baik manakala al Qur'an tidak diajarkan. Upaya mendekatkan para siswa pada al Qur'an bukan sebatas kegiatan belajar membacanya tetapi hingga memahami isinya. Tentu semua itu dilakukan secara bertahap dan mendasarkan pada metodologi yang tepat.
Sementara ini, melalui kurikulum yang diberlakukan, para siswa diajari biologi, fisika, kimia, sosiologi, psikologi, ekonomi, astronomi, bahasa dan satra, dan lain-lain, tetapi belum diperkenalkan posisi berbagai cabang ilmu itu dalam kaitannya dengan ajaran agamanya. Akibatnya, melahirkan pemahaman bahwa seolah-olah berbagai jenis disiplin dimaksud lepas dari kitab suci al Qur'an. Antara al Qur'an dan ilmu pengetahuan dilihat secara terpisah. Padahal, al Qur'an memerintahkan agar manusia memahami alam semesta. Sementara itu, upaya memahami alam semesta adalah tidak lain, kecuali mengkaji sains itu sendiri.
Dengan memahami kitab suci al Qur'an, maka para siswa tidak saja akan paham tentang kehidupan kekinian, melainkan juga paham tentang Tuhannya, sejarah penciptaan manusia dalam pespektif Islam, memahami berbagai jenis makhluk ciptaan Tuhan baik yang tampak maupun yang tidak tampak, sejarah nabi-nabi, kehidupan yang menyelamatkan, keharusan berakhlak mulia, mengerti tanggung jawab sebagai manusia baik di dunia maupun di akherat, dan seterusnya. Hal seperti ini hanya bisa diketahui melalui kitab suci.
Selain itu, pendidikan akhlak atau kharakter tidak akan mungkin berhasil manakala tidak mengikut sertakan kitab suci. Oleh karena itu, beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengusulkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Agama, bahwa untuk membangun karakter, maka anak bangsa maka seharusnya mereka didekatkan pada tiga hal, yaitu didekatkan pada kitab suci, didekatkan pada tempat ibadah, dan didekatkan kepada para ilmuwan/tokoh agamanya masing-masing. Dengan cara itu, maka bangsa yang religious ini akan benar-benar meraih cita-citanya, ialah berhasil membangun peradaban yang agung dan mulia. Wallahu a'lam.



