Kemarin, pada hari Sabtu, tanggal 22 Pebruari 2014, saya menerima hadiah berupa buku berjudul : 'Teladan Sang Pemimpin'. Pada judul buku itu masih ditambahkan kalimat yang cukup menarik lagi, ialah ' Berpikir Besar, Berjiwa Besar, dan Berkarya Besar. Buku itu dicetak dalam tampilan yang bagus, termasuk kombinasi warna yang ada pada sampul itu.
Setelah buku itu saya lihat sepintas, termasuk daftar isinya, saya benar-benar terkejut. Ternyata buku yang ditulis beramai-ramai oleh belasan orang secara sendiri-sendiri itu berisi tentang diri saya sendiri. Mereka itu menulis tentang apa yang saya lakukan selama ikut serta dalam membesarkan Universitas Muhammadiyah Malang dan berlanjut mengembangkan STAIN Malang yang kemudian berhasil berubah menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Selanjutnya, setelah saya cermati lagi, saya merasa lebih terharu dan gembira, sebab ternyata semua penulisnya adalah para generasi muda Muhammadiyah. Pada saat ini, para penulis itu menduduki pos-pos penting di Muhammadiyah, yaitu ada yang menjadi pengurus di tingkat wilayah Muhammadiyah, pengurus daerah, dan bahkan juga tingkat cabang. Di antara mereka itu,ada yang menjadi dosen, kepala sekolah Muhammadiyah, dan juga sebagai PNS namun aktif di Muhammadiyah.
Rasa haru dan kegembiraan saya menjadi lebih sempurna, oleh karena ternyata buku tersebut diberi kata pengantar oleh Prof.Dr. Thohir Luth, MA, Guru Besar Universitas Brawijaya dan sekaligus sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Selain Prof. Thohir Luth, MA, penulis yang tergolong senior adalah Prof.Dr. Wahyudi Siswanto, Guru Besar Universitas Negeri Malang, yang dulu saya kenal pernah memimpin STM Muhammadiyah Kepanjen, sebuah lembaga pendidikan yang sangat maju di antara perguruan Muhammadiyah di Kabupaten Malang.
Buku setelah 167 halaman itu, saya baca dari halaman ke halaman berikutnya. Sebanyak 14 orang yang menulis buku itu, dan ternyata semuanya adalah aktifis Muhammadiyah. Saya tidak mengerti sebelumnya, apa maksud dibalik penulisan buku yang semuanya berisi tentang perjalanan hidup saya. Setelah saya cari informasi, ternyata buku itu ditulis sebagai hadiah atau kenang-kenangan tatkala saya mengakhiri jabatan sebagai Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim tepat pada tanggal 30 April 2013 yang lalu.
Semua penulis buku itu mengaku pernah bertemu dengan saya dan mendapatkan kesan yang mendalam, baik ketika saya masih aktif ikut membesarkan Universitas Muhammadiyah Malang sebagai Pembantu Rektor I selama 13 tahun, maupun ketika menjadi Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang selama 16 tahun. Sebagai manusia biasa yang selalu bersikap subyektif dan merasa senang manakala akunya diakui, maka setelah membaca dari bab ke bab berikutnya yang masing-masing ditulis oleh orang yang berbeda, saya berusaha membayangkan kapan peristiwa yang mengesankan bagi para penulis itu terjadi. Demikian pula, saya juga berusaha membayangkan wajah satu persatu dari pembuat tulisan itu.
Secara jujur, saya akui bahwa wajah beberapa penulis buku tersebut sangat sulit saya ingat kembali, sekalipun yang bersangkutan masih mengenal saya dengan baik. Tentu, andaikan suatu saat ketemu, ---------dan saya sangat berkeinginan bertemu, saya akan segera mengucapka terima kasih atas perhatian dan apresiasinya yang sedemikian mendalam lewat tulisan-tulisannya itu. Memang beberapa di antara penulis itu, terutama yang aktif di perguruan tinggi, saya mengenal dengan baik, karena setiap waktu masih ketemu, sehingga tidak sulit untuk mengucapkan terima kasih.
Terbitnya buku tersebut memang benar-benar tidak saya duga sebelumnya. Benar, saya lama sekali aktif di Muhammadiyah. Selain menjadi Pembantu Rektor I Univ. Muhammadiyah Malang selama 13 tahun, saya pernah menjadi anggota majelis PKU Muhammadiyah Kabupaten Malang. Setelah itu, selama dua periode atau 10 tahun dipercaya sebagai Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah Kabupaten Malang. Tambahan lagi, saya juga pernah duduk sebagai anggota Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah hingga dua periode berturut-turut. Posisi saya yang cukup strategis seperti itu menjadikan saya akrab dan memiliki banyak teman di Muhammadiyah, baik di tingkat ranting, cabang, wilayah hingga Pimpinan Pusat Muhammadiyah, baik di Jakarta maupun di Yogyakarta.
Namun hal yang agaknya tidak lazim, sekalipun aktif di Muhammadiyah, saya juga dekat dengan para kyai pengasuh pesantren, hingga sekarang ini ditunjuk menjadi wakil Rois Suri'ah NU Jawa Timur. Perubahan posisi antar organisasi keagamaan itu wajar umpama memunculkan pertanyaan, misalnya mengapa orang Muhammadiyah kemudian pada saat yang lain menjadi pengurus teras Nahdlatul Ulama'. Pertanyaan seperti itu selama ini ternyata tidak pernah saya peroleh dan atau saya rasakan. Perubahan dari Muhammadiyah ke NU itu ternyata tidak ada sesuatu yang aneh dan perlu dipersoalkan. Buktinya, belasan orang aktifis Muhammadiyah, dan bahkan Prof.Dr. Thohir Luth dan juga Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, memberikan perhatian dan apresiasi yang sedemikian tinggi ketika saya mengkhiri tugas dan dianggap sukses memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Hal sangat penting dari terbitnya buku yang ditulis oleh teman-teman aktifis Muhammadiyah tentang kehidupan saya ini, saya memperoleh pelajaran bahwa sebenarnya antara Muhammadiyah dan NU sudah sangat dekat dan bahkan menyatu. Para ulama dan juga warga NU sudah begitu baik dengan Muhammadiyah dan begitu pula sebaliknya, orang Muhammadiyah terhadap saudaranya sendiri, warga NU. Tidak sedikit kyai NU menyekolahkan putra-putrinya ke Universitas Muhammadiyah, dan juga sebaliknya tidak sedikit pula putra-putri Muhammadiyah dikirim ke pesantren yang jelas-jelas diasuh oleh para Kyai NU.
Suasana kedekatan, kebersamaan, dan persatuan umat sebagaimana tergambar tersebut sebenarnya sudah lama ditunggu-tunggu oleh semuanya. Umat Islam di semua tingkatan menghendaki bersatu sebagaimana hal itu diperintahkan oleh Allah dan juga diajarkan oleh Rasul-Nya. Demikian pula bagi saya, persatuan umat adalah merupakan keindahan yang sempurna. Isi buku yang baru saja saya terima adalah indah. Tetapi keindahan itu menjadi sempurna lagi tatkala sekalighus juga menggambarkan kebersamaan dan persatuan sesama umat Islam . Moga-moga ke depan, persatuan itu semakin terjatut dan kokoh. Akhirnya, saya ucapkan terima kasih yang medalam kepada para penulis buku dimaksud yang saya rasakan sebagai hadiah istimewa. Semoga Allah swt., membalas kebaikan yang tidak saya duga datangnya ini. Amien.



