Jangan Melihat Keberhasilan Pendidikan Hanya Dari Angka Statistik
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 17 Februari 2014 . in Dosen . 1896 views

Pada hari Ahad, tanggal 16 Pebruari 2014, saya diundang seminar di Universitas Islam Tamiang, Aceh. Dalam seminar itu, selain saya, juga diundang beberapa pembicara lain, yaitu Prof. Dr. Musda Mulia dari Jakarta, Prof. Joko Santoso, Dirjen Pendidikan Tinggi, Prof. Farid Wajdi, Rektor UIN Aceh, Prof. Rusdi Ali Muhammad, Prof. Dr. Sidek Baba dari Universitas Islam Antar Bangsa, Malaysia, Prof.Dr. Jamaluddin Idris, Koordinator Kopertis Wilayah Aceh, dan lain-lain.

Dari kegiatan seminar itu, saya justru mendapatkan masukan yang cukup menarik. Ternyata, sudah banyak tokoh, orang tua, dan bahkan juga guru sendiri yang merasa prihatin terhadap kualitas pendidikan yang sedang berjalan selama ini. Pendidikan dikatakan hanya sebatas memenuhi aspek formalnya dan dijalankan secara mekanis sehingga tidak mampu menumbuh dan mengembangkan jiwa atau ruh pendidikan itu sendiri. Pendidikan dikatakan telah sampai di depan jurang kematian.

Selama ini yang tampak, pendidikan hanya sebatas memberikan bahan pelajaran kepada para siswa dengan target-target tertentu. Keberhasilannya hanya diukur dari seberapa jauh para siswa mampu mengingat materi pelajaran yang disampaikan oleh guru dari kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Anak yang mampu menghafal dan atau mengingat-ingat apa yang disampaikan oleh guru atau tertulis dalam buku pelajaran dianggap pintar. Padahal, sekalipun kemampuan mengingat itu penting, sebenarnya pendidikan memiliki tujuan yang lebih dari sekedar itu, ialah agar para siswa menjadi beriman, bertaqwa, berbudi mulia, cerdas, dewasa, dan memiliki jiwa profesional.

Pelaksanaan pendidikan yang hanya berorientasi pada upaya meraih angka-angka hasil belajar sebenarnya masih jauh dari target yang diinginkan. Pendidikan bukan sebatas itu. Tugas guru bukan hanya sebatas menjadi juru penjelas dari konten buku yang diajarkan. Tugas guru adalah menunaikan pekerjaan agar para siswa atau peserta didik menjadi tumbuh dan berkembang menjadi manusia ideal sebagaimana dirumuskan di muka. Memberikan penjelasan isi buku yang seharusnya dipelajari oleh siswa hanya bagian dari tugas guru. Selain itu, masih banyak tugas-tugas lain sebagai pendidik yang sebenarnya.

Hal tersebut menjadi sorotan oleh karena rupanya apa yang dilakukan oleh guru di sekolah sudah semakin sederhana, yaitu sebatas menyampaikan bahan pelajaran dengan target tertentu sebagimana digambarkan itu. Kegiatan sekolah sudah semakin mekanis dan formal. Lembaga pendidikan sudah semakin kehilangan ruh dan jiwanya. Menjelang ujian nasional seperti sekarang ini, kegiatan utama sekolah-sekolah hanyalah mempersiapkan ujian nasional itu. Latihan-latihan menjawab soal, dan bahkan para siswa masih didorong untuk mendapatkan les tambahan, agar berhasil menjawab soal ujian sebagai penentu kelulusan. Rumusan tujuan pendidikan yang sedemikian mulia menjadi hilang tatkala menghadapi ujian nasional itu. Akhirnya, tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya adalah lulus dan memperoleh ijazah.

Oleh karena itu, setelah siswa dinyatakan lulus dan tidak menggambarkan perilaku mulia sebagaimana dirumuskan dalam tujuan pendidikan, dianggap hal biasa. Seolah-olah boleh tidak ada korelasi antara kelulusan dan akhlak mulia. Dianggap menjadi hal wajar ketika pengumuman ujian dikeluarkan dan dinyatakan lulus, para siswa mengekspresikan kegembiraannya dengan berbagai cara, yang kadang jauh dari norma pendidikan. Mereka kebut-kebutan di jalan raya, corat-coret baju, dan belum lagi kegiatan buruk lain yang tidak diketahui oleh banyak orang. Melihat kenyataan ini, dikatakan bahwa sebenarnya pendidikan telah gagal. Belum lagi, setelah lulus sekolah menengah dan bahkan perguruan tinggi, mereka kesulitan mencari lapangan kerja dan menganggur.

Atas kenyataan seperti tersebut itulah, maka dalam seminar muncul pendapat agar keberhasilan pendidikan jangan hanya dilihat sekedar dari angka-angka statistik. Apa arti tingginya prosentase partisipasi sekolah, kelulusan, dan seterusnya, tetapi perilaku, watak, dan karakter lulusannya misalnya, belum bisa dibanggakan. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang diraih oleh seseorang tetapi tidak diikuti oleh peningkatan kualitas karakter, watak, dan akhlaknya, maka sebenarnya justru akan menjadi kekuatan perusak pada diri yang bersangkutan dan bahkan juga orang lain di lingkungannya. Artinya, pendidikan yang tidak dijalankan secara benar, maka akan menyumbang kerusakan, padahal untuk memperbaikinya bukan perkara mudah. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan jangan hanya dilihat dari angka-angka statistik, tetapi seharusnya dari aspek yang lebih dalam, yaitu tingkat kualitasnya sebagaimana yang telah dirumuskan dalam tujuan pendidikan itu sendiri. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up