Jeneng, Jenang, Dan Jenat
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 6 Februari 2014 . in Dosen . 11245 views

Hajriyanto Y Thohari, di Majalah Gatra, tatkala menulis tentang Pencitraan dan Pertanggungjawaban Presiden mengemukakan tiga kata yang menurut saya cukup menanrik, yaitu jeneng, jenang, dan jenat. Seorang pemimpin, apalagi setingkat presiden, semestinya dituntut untuk mempertanggung jawabkan atas kepemimpinannya. Akan tetapi tulis Hajriyanto, dalam UUD 1945 yang telah diamandemen justru tidak ada kewajiban untuk mempertanggung-jawabkannya.

Dulu, ketika UUD 1945 belum diamandemen, presiden pada setiap tahun diharuskan menyampaikan pidato di hadapan anggota MPR sebagai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Pertanggung-jawaban itu bisa diterima atau ditolak. Presiden sebagai kepala negara dan sekaligus kepala pemerintahan pasti menghendaki agar pertanggung-jawabannya itu diterima. Sekalipun hal itu bersifat formal, pertanggung-jawaban presiden pernah ditolak, yaitu pidato Presiden Soekarno pada tahun 1967 dan Presiden BJ Habibie pada tahun 1999.

Pada saat sekarang ini, presiden tidak dituntut untuk mempertanggung-jawabkan secara formal di hadapan siapa-siapa. Oleh karena itu, maka hanya ada tiga pilihan yang dikejar, yaitu Hajiriyanto menyebutnya: jeneng, jenang, atau jenat. Jeneng artinya adalah citra atau kesan. Siapapun berkeinginan agar setelah menjalankan tugasnya mendapatkan kesan, citra, nama atau jeneng yang baik. Untuk memperoleh jeneng yang baik itulah, maka seseorang akan melakukan tindakan yang bisa dinilai baik itu oleh masyarakat. Memang sebuah tindakan bisa saja benar-benar bermanfaat, oleh karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat, atau sebaliknya, sekedar agar dinilai atau terbangun citra yang baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak gampang membedakan antara kegiatan yang sekedar membangun citra dan yang bersifat sungguh-sungguh. Penilaian itu sangat subyektif. Sesuatu yang sebenarnya dilakukan dengan sungguh-sungguh bisa saja disebut oleh orang yang kurang menyenanginya sebagai pecitraan belaka. Namun sebaliknya, bagi orang yang tidak paham, sesuatu yang sebenarnya hanya pecitraan dinilai sebagai hal yang serius. Memang, setiap pekerjaan memiliki dua dimensi, yaitu dimensi batin dan dimensi lahir. Dimensi batin disebut dengan niat, sedangkan dimensi lahir adalah apa yang tampak dari kegiatannya itu sendiri. Orang menilai secara tepat, hanya pada aspek yang tampak, sementara yang bersifat batin tidak mudah dinilai oleh siapapun, kecuali oleh Tuhan saja. Tetapi, semua orang, kiranya berkeinginan memperoleh citra atau jeneng yang baik.

Selain jeneng, sementara orang juga ada yang lebih mementingkan jenang. Kata jenang digunakan untuk menamai sejenis kue yang terbuat dari tepung dan gula beserta bumbu-bumbu pelengkapnya. Orang Jawa tatkala sedang berpesta pernikahan, khitanan, atau sejenisnya menyajikan kua jenang. Penyebutan jenang dimaksudkan sebagai kata lain dari makanan, harta, atau kekayaan. Sehingga, seorang pemimpin atau pejabat, ada saja yang menginginkan tidak saja citra atau nama baik, tetapi juga berharap mendapatkan jenang atau harta itu. Seseorang ingin duduk sebagai pejabat, baik di legislatif, eksekutif, atau yudikatif, hanya mengutamakan agar mendapatkan harta kekayaan. Motivasi seperti itu menjadikan seseorang bersedia mengeluarkan modal untuk memperoleh keuntungan yang bersifat kebendaan di kemudian hari. Padahal resikonya tidak kecil dan juga tidak sederhana. Akan tetapi, demi jenang itu, maka apapun dilakukan.

Motivasi lain adalah jenat. Orang yang telah meninggal namanya ditambah dengan kata jenat, almarhum, atau anumerta. Arti ketiga kata itu sebenarnya sama. Penggunaannya saja yang berbeda. Orang biasa, biasanya menggunakan kata jenat. Sementara itu sebagai penghormatan kepada orang-orang tertentu, disebut almarhum. Sedangkan sebutan anumerta digunakan untuk orang terhormat, semacam presiden atau raja. Akan tetapi dalam tulisan ini, penyebutan jenat sebagai gambaran tentang apa yang akan diperoleh seseorang setelah mati, atau di akherat kelak.

Para pemimpin atau pejabat, sebenarnya ada saja yang menginginkan agar mendapatkan balasan di akherat. Kesungguh-sungguhan dalam bekerja dimaksudkan untuk mendapatkan pahala atau balasan di akherat kelak. Mereka tidak sekedar ingin memperoleh citra atau jeneng, dan jenang, tetapi yang lebih penting dari itu adalah jenat. Maksudnya, setelah kelak mati mereka berharap memperoleh keselamatan, kebahagiaan, dan kedamaian. Orang yang memiliki motivasi seperti itu akan bekerja atas dasar niat yang mulia, yaitu beribadah kepada Allah. Pekerjaannya akan ditunaikan sebaik-baiknya, dan apapun yang dihadapi akan dilakukan dengan sabar dan ikhlas. Itulah kiranya, beda antara jeneng, jenang dan jenat. Tentu, pilihan itu tidak boleh salah, agar kita menjadi selamat, baik di dunia maupun di akherat. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up