Lahan Subur Untuk Mengeluh
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 8 Februari 2014 . in Dosen . 749 views

Beberapa waktu yang lalu, saya kedatangan tamu, seorang transmigran asal Jawa Tengah di Papua. Sebetulnya kedatangannya adalah untuk menjenguk salah seorang putrinya yang kebetulan kuliah di Malang. Hampir setiap ke Malang, ia sempatkan mampir di rumah saya untuk mengajak berdiskusi terkait pengembangan pendidikan dan dakwah di Papua.

Saya sendiri setiap ada orang datang mengajak berdikusi tentang pengembangan pendidikan, selalu saya layani. Saya selalu berpandangan, siapa tahu pikiran dan pengalaman itu ada gunanya bagi mereka. Itulah cara mudah yang bisa saya lakukan untuk menolong mereka, ialah memberi ide, pandangan, atau wawasan untuk pengembangan pendidikan dan dakwah.

Sekalipun beberapa kali diundang ke Papua, saya belum pernah datang. Setiap diundang ada saja halangan, sehingga rencana itu selalu batal. Dalam dialog dengan tamu dari Papua itu, saya mendapatkan pernyataan yang sangat mengesankan. Ia mengatakan bahwa siapa saja yang memang benar-benar ingin berjuang untuk memperkenalkan ajaran Islam yang mulia ini, maka sarannya pergi sajalah ke Papua. Masyarakat Papua sangat membutuhkan bimbingan untuk mengenal Islam dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Namun tamu dimaksud juga menambahkan bahwa tugas itu tidak mudah dilakukan. Orang Papua sekalipun taraf pendidikannya masih kurang juga tidak serta merta menerima ide-ide yang dibawa oleh para pendatang. Maka perlu cara, strategi, atau siasat agar mereka tertarik dan kemudian menerimanya. Selain itu, wilayah Papua yang sedemikian luas, apalagi di daerah pedalaman, belum tersedia fasilitas yang memadai. Sarana transportasi, penerangan, obat-obatan, dan lain-lain masih serba terbatas, menjadikan hidup di Papua jauh lebih berat dibanding dengan di Jawa.

Tamu tersebut mengatakan bahwa, siapapun yang suka mengeluh, maka Papua adalah merupakan lahan subur untuk membangun sikap negatif itu. Persoalan hidup di sana sedemikian banyak. Mulai bangun sampai tidur kembali penuh dengan persoalan yang pantas dikeluhkan. Apalagi bagi mereka yang akan merintis kebaikan, seperti mendirikan lembaga pendidikan, misalnya. Mereka akan kesulitan mencari tempat, murid yang bersedia diajar, guru, dan apalagi terkait dengan fasilitas dan dana untuk mendukung kegiatannya. Semua serba tidak tersedia.

Sejak dia datang di Papua belasan tahun lalu, berbagai persoalan berat ditemui. Namun dia mencoba untuk berusaha membangun sikap positif. Ia berpikir bahwa di manapun orang mengeluh tidak pernah sukses hidupnya. Orang yang suka mengeluh, jangankan mendapatkan kekayaan, teman saja akan pergi. Sebab tidak akan ada orang yang mau berteman dengan orang yang sehari-hari pekerjaannya hanya mengeluh. Menurutnya, persoalan tidak perlu direspon dengan mengeluh, melainkan harus dijawab dengan berbuat nyata. Orang yang sudah belasan tahun tinggal di Papua dan telah berhasil mendirikan beberapa lembaga pendidikan Islam itu mengaku bahwa, justru dengan tantangan itu, dirinya merasa menjadi cepat dewasa, dan bahkan semakin lebih cerdas.

Tatkala dulu berketetapan hati meninggalkan tempat kelahirannya di Jawa Tengah dan pergi ke Papua, bermaksud mencari tantangan itu. Selama itu, ia merasa bahwa di desanya untuk mengeluh saja sulit, oleh karena berbagai fasilitas hidup dengan ukuran tertentu sudah tercukupi. Akhirnya, ia pergi ke Papua, dan ternyata benar, bahwa tantangan hidup di Papua begitu mudah ditemui. Tantangan tidak boleh direspon dengan mengeluh, tetapi harus dihadapi dengan penuh keberanian. Sekarang ini, ia bersyukur, sekalipun pada awalnya harus bergumul dengan berbagai tantangan, ternyata ia mampu menjawabnya, dan berhasil membangun beberapa jenjang lembaga pendidikan, bahkan juga fasilitas pelayanan kesehatan.

Pandangannya itu, menurut hemat saya amat menarik, bahwa siapapun yang ingin hidupnya berhasil, maka sarannya adalah, carilah tantangan dan berusahalah menjawabnya. Hidup seseorang dikatakan berhasil, manakala mampu menyelasaikan masalah, dan bukan dalam keadaan serba menikmati dan dilayani oleh orang lain. Orang yang hanya menunggu dilayani akan sama halnya dengan orang lemah, seperti anak kecil, orang jompo atau orang sakit.

Dikatakan olehnya bahwa, orang hebat adalah mereka yang berhasil menghadapi tantangan yang berat. Tantangan itu di Papua begitu jelas dan banyak. Orang yang suka mengeluh terhadap adanya tantangan, maka di sanalah juga tempatnya. Akan tetapi untuk apa ke sana sekedar untuk mengeluh. Membangun sikap negatif itu di mana-mana bisa dilakukan. Begitu pula sebaliknya, jika ingin berhasil menjalani hidup, menurut tamu transmigran sukses yang datang ke rumah dimaksud, di Papua merupakan lahan subur untuk berbuat apa saja yang bermanfaat bagi sesama. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up