Masanya Berebut Pengaruh
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 18 Februari 2014 . in Dosen . 867 views

Orang menyebut tahun 2014 sebagai tahun politik. Pada tahun ini, akan dilaksanakan pemilihan anggota legislatif, baik di tingkat kota, kabupaten, provinsi, maupun pusat, dan kemudian dilanjutkan dengan pemilihan presiden. Oleh karena itu wajar manakala banyak orang atau partai berebut pengaruh dengan berbagai caranya masing-masing.

Setelah berbicara di dalam kegiatan seminar pada tanggal 16 Pebruari 2014 di Universitas Islam Tamiyang, saya melanjutkan perjalanan ke Lhohseumawe, Aceh. Pimpinan STAIN Malikul Saleh mengharapkan saya hadir di kampusnya. Memang melelahkan. Perjalanan dari Medan ke Tamiyang, lewat darat, sekitar 4 jam. Setelah itu diteruskan ke kota kelahiran Prof. Hasbi Ash Shiddiqie, yakni Lhohseumawe, tidak kurang dari 5 jam lagi.

Permintaan hadir ke Lhohseumawe harus saya penuhi, oleh karena ternyata, saya dijemput oleh pimpinannya sendiri. Jarak yang sedemikian jauh tidak menghalanginya sekedar menjemput saya. Bahkan sekembali dari kota itu ke Medan, -----oleh karena tidak ada penerbangan, mereka juga mengantarkan. Bisa dibayangkan, betapa besar semangat dan hormat mereka terhadap tamu. Perjalanan 18 jam tidak sedikitpun dianggap sebagai masalah.

Hal menarik di sepanjang perjalanan sejauh itu adalah tentang bagaimana orang berebut pengaruh. Berbagai photo, spanduk, dan bendera berbagai ukuran dipasang di pinggir jalan di sepanjang perjalanan. Mereka menawarkan diri atau partainya lewat gambar, photo, atau bendera. Bisa dibayangkan berapa besar jumlah uang yang harus dibelanjakan untuk mencari pengaruh itu.

Tentu gambaran tentang bagaimana orang berebut pengaruh seperti itu tidak saja terjadi di antara Tamiyang hingga Lhohseumawe, dan Lhohseumawe sampai Medan, tetapi juga terjadi di seluruh Indonesia. Itulah maka tahun politik ini terjadi perebutan pengaruh secara nasional. Masyarakat disuguhi tontonan tentang bagaimana berebut menjadi wakil rakyat dan atau pemimpin.

Sebenarnya di semua komunitas telah ada dan dikenal orang-orang tulus yang selalu berbuat baik untuk orang lain. Namun sayangnya, orang-orang dimaksud belum tentu berminat menjadi wakil rakyat, baik di DPRD atau DPR. Alasannya, bisa jadi sederhana, misalnya tidak punya uang untuk membiayai proses pencalonannya. Sedangkan mereka yang berebut itu juga bisa jadi, hanya bermodalkan uang, dan bukan selalu atas dasar kepintaran dan ketulusannya. Itulah di antara sebab yang menjadikan masyarakat kehilangan pemimpin yang sebenarnya.

Tahun politik menjadikan rakyat diperebutkan oleh orang-orang yang punya uang demi meraih kekuasaan. Mereka berebut dengan biaya mahal. Tentu, semua itu tidak gratis. Setelah berhasil, mereka pasti akan mencari pengembalian modalnya. Itulah sebabnya korupsi pasti terjadi. Oleh karena itu, memberantas korupsi seharusnya dimulai dari tahun politik ini.

Kita tidak boleh bersikap konyol, sehari-hari berusaha untuk membersihkan lantai, sementara itu genting rumah yang bocor dibiarkan. Sehari-hari berusaha untuk memberantas korupsi, sementara itu sumber perilaku korup justru ditumbuh-kembangkan. Seharusnya tahun politik, atau tahun berebut kekuasaan, sedikitpun tidak boleh melahirkan kebiasaan korup itu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up