Baru saja, saya kedatangan tamu dari Jakarta. Tamu dimaksud rupanya memiliki kepedulian yang amat tinggi terhadap umat Islam masa depan. Ia mengaku, bahwa sudah cukup lama mengamati keadaan umat Islam, dan membayangkan apa yang akan terjadi pada umat mayoritas ini jika hitung-hitungannya atau prediksinya benar.
Tamu ini mengaku sedih, oleh karena selama ini belum melihat ada kesadaran dari para tokoh Islam sendiri terhadap tantangan umat di masa yang akan datang. Ia mengatakan bahwa setiap kelompok akan berusaha untuk mempertahankan eksistensinya dan bahkan berusaha meraih posisi unggul dibanding umat lainnya. Kompetisi antar kelompok atau antar umat di mana dan kapan pun adalah sebuah keniscayaan.
Pandangan seperti itu juga akan terjadi di Indonesia. Namun biasanya, di mana dan kapan saja, kelompok yang merasa besar atau mayoritas, oleh karena merasa sudah kuat, biasanya menjadi lupa terhadap terjadinya proses-proses social atau kompetisi itu. Hal itu, berbeda dengan kelompok minoritas, mereka tidak saja berjuang untuk bertahan, tetapi juga berusaha agar suatu ketika menjadi besar dan mengalahkan kompetitornya yang selama ini mengalahkan.
Tamu yang datang dari Jakarta tersebut, setelah mengamati perkembangan wilayah di beberapa kota besar, tidak terkecuali di Jakarta, mengaku selalu merasa sedih dan galau yang luar biasa. Di beberapa kota besar dan juga Jakarta tersaebut, ternyata dalam waktu yang tidak terlalu lama telah muncul perumahan elite dengan nama-nama yang sagat menarik dan terkesan modern. Perumahan itu dilengkapi dengan lembaga pendidikan bermutu tinggi, mulai dari tingkat dasar hingga menengah, dan bahkan sampai perguruan tinggi.
Perumahan elite itu bisa dipastikan, bahwa penghuninya adalah bukan dari kaum muslimin. Manakala ada yang muslim, maka jumlahnya akan sangat kecil atau sudah menjadi minoritas. Selain itu, jika di perumahan itu terdapat tempat ibadah, maka juga bukan berupa masjid atau mushalla. Demikian pula, lembaga pendidikan seperti diniyah atau madrasah juga tidak akan ditemukan di perumahan elite yang luasnya ribu-an hektar itu.
Maka artinya, di perkampungan elite itu pemeluk Islam sudah menjadi minoritas dan bahkan juga tidak ada. Tamu tersebut mengatakan bahwa, masyarakat manapun akan selalu mengagumi dan meniru kelompok yang dianggap lebih hebat, lebih unggul, dan lebih beruntung. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa, di mana dan kapan saja, siapapun yang kuat atau memiliki kelebihan akan mengalahkan terhadap siapa saja yang lemah. Umat Isam katanya, di banyak tempat sekalipun masih merasa mayoritas, tetapi dalam banyak hal, keadaannya masih lemah dan bahkan memprihatinkan. Fasilitas pendidikan, kesehatan, dan layanan social lainnya belum terurus. Kalau pun sudah tersedia, maka orientasinya baru sebatas adanya, dan belum berpikir tentang kualitasnya.
Pada kesempatan itu, pertanyaan yang ingin dicari jawabnya adalah, bagaimana menyadarkan para tokoh dan umat, bahwa sebenarnya kita dalam keadaan berkompetisi. Kompetisi itu sudah semakin keras. Ia berpandangan bahwa umat Islam pada saat ini, dari aspek jumlah, memang masih mayoritas, akan tetapi, dari sisi kekuatan ekonominya, pada umumnya masih lemah. Ia menunjuk berbagai perusahaan menengah dan apalagi besar, hampir tidak ada yang dimiliki oleh umat Islam. Umpama ada, maka komitmen dan integritasnya terhadap agamanya juga tidak terlalu kelihatan.
Padahal sudah lazim bahwa, berbekalkan kekuatan ekonomi siapapun akan bisa menguasai apa saja. Sekarang ini, sekedar berkeinginan menjadi penguasa saja, tidak akan berhasil manakala tidak memiliki kekayaan yang memadai. Banyak orang mampu membangun perkampungan elite, sekalipun harga tanahnya sangat mahal, karena mereka memiliki uang. Siapa saja yang memiliki uang, maka merekalah pemenangnya. Pertanyaannya adalah , apakah para tokoh dan umat Islam sudah menyadari dan apalagi memikirkan keadaannya itu semua. Manakala ternyata belum, perlu disayangkan. Wallahu a'lam.



